Ayojatim.com - Di tengah bursa pemilihan Rais Aam yang diwarnai isu dan tarik-menarik kepentingan politik, sosok Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, KH Miftachul Akhyar, dinilai sebagai figur paling tepat untuk melanjutkan marwah Syuriyah di abad kedua Nahdlatul Ulama (NU).
Karakter dan ketegasannya dianggap mampu menjaga otoritas ulama di tengah derasnya gelombang politik praktis.
Sanad keilmuan Kiai Miftach terbilang sangat kokoh, terbangun sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dilanjutkan ke Rejoso (Darul Ulum), Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga menyerap ilmu di majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Integritas kepemimpinannya teruji ketika ia memilih mundur dari jabatan Ketua Umum MUI pada 2022 lalu demi berfokus berkhidmah dan menolak rangkap jabatan.
Keputusan tersebut menjadi bukti nyata komitmennya dalam menjaga amanah tanpa terikat kepentingan lain.
Sikap menjaga marwah ini tidak sekadar jargon, melainkan dijalankan secara konkret. Saat organisasi menghadapi dinamika kepemimpinan, ia bergerak tegas menegaskan otoritas Syuriyah.
Langkah yang didukung 36 pengurus wilayah ini berhasil membawa Muktamar berjalan dipercepat serta berlangsung secara tertib.
Selain itu, ia juga tampil sebagai perekat umat dengan memimpin istighosah ribuan warga nahdliyin menjelang muktamar.
Obor tradisi itu kembali dinyalakan saat pembukaan Muktamar melalui penyampaian Khutbah Iftitah berbahasa Arab yang konsisten dijaga dari para pendahulu.
Dalam khutbahnya, ia mengungkapkan tiga kegembiraan, yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, dan terselenggaranya Muktamar ke-35 di Tambakberas, pesantren muassis KH Abdul Wahab Hasbullah.
Ia juga mengingatkan agar umat waspada terhadap fitnah yang kerap menyamarkan kebenaran dan kebatilan.
Dukungan untuk keberlanjutan khidmah Kiai Miftach pun mengalir kuat dari tingkat daerah. Salah satunya datang dari Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar, yang berharap Kiai Miftachul Akhyar dapat kembali memimpin sebagai Rais Aam PBNU.
"Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU," kata Ridwan.
Ia menambahkan, kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan serta martabat organisasi secara menyeluruh.
"Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut," tegasnya.
Pengabdian Kiai Miftach terhadap bangsa juga diakui oleh negara melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden pada 2025 lalu.
Memasuki abad kedua NU, para muktamirin diimbau untuk memilih Rais Aam yang merdeka dari kepentingan politik praktis dan konsisten berpegang teguh pada khittah serta tradisi keulamaan.
Editor : Zain Ahmad