SURABAYA – Pernyataan Kiai Kampung asal Situbondo, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur tentang sosok KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang belum layak maju sebagai calon Ketua Umum PBNU karena tidak bisa ngaji dibantah Yusuf Hidayat, alumni Tebuireng (IKAPETE).
Pernyataan itu disampaikan Gus Lilur dalam Chanel Podcast Suara Publik LP3ES.
Yusuf menjelaskan, Gus Kikin selama ini dikenal memiliki aktivitas yang kuat di lingkungan pesantren.
Menurut Yusuf, selain mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin juga aktif menulis dan mengajarkan kitab kuning kepada para santri.
“Menurut saya, Gus Lilur tidak memahami sosok KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Beliau beberapa kali menulis buku dan memiliki rutinan ngaji bersama para ustaz. Saya bersaksi beliau sendiri yang membacanya,” terang Yusuf, dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Yusuf menilai pernyataan Gus Lilur itu karena yang bersangkutan tidak memahami secara utuh sosok Gus Kikin, terutama kiprahnya di bidang keilmuan dan pesantren.
“Yang dikatakan Gus Lilur adalah ketidakpahaman terhadap sosok Gus Kikin secara utuh," ujar Yusuf.
Yusuf kemudian mengingatkan publik agar melihat Gus Kikin berdasarkan rekam jejaknya di dunia pesantren, bukan semata-mata melalui isu politik yang berkembang menjelang Muktamar NU.
Yusuf melanjutkan, Gus Kikin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dan merupakan cicit Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.
Yusuf mengungkapkan, Gus Kikin juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan pendidikan formal. Ia pernah belajar di Pesantren Seblak, Jombang, kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.
Sebelum aktif penuh mengurus pesantren, Gus Kikin juga memiliki pengalaman di dunia usaha.
Sejak 2020, Gus Kikin dipercaya meneruskan kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Di lingkungan pesantren, Gus Kikin juga aktif mengaji kitab kuning. Salah satunya Adab al-Alim wa al-Muta’allim karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang dikaji bersama para santri.
Ia juga menulis sejumlah karya, termasuk Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia dan Syarah Kitab Qanun Asasi. Gagasannya juga dituangkan melalui rubrik Serambi Pengasuh di Majalah Tebuireng.
Editor : Diday Rosadi