SURABAYA, AYOJATIM.COM - Maraknya pemasangan pagar mall Surabaya memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat ihwal masa depan tata kota Surabaya dan batas keterbukaan ruang publik. Sejumlah pusat perbelanjaan berlomba-lomba mendirikan pembatas fisik masif demi alasan pengamanan gedung, namun langkah ini justru mengikis esensi kawasan komersial sebagai area interaksi sosial warga.
Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra, Rully Damayanti, menilai tren penutupan ruang ini sering kali mengabaikan keharmonisan visual. Menurutnya, perancangan elemen luar semestinya berpijak pada konsistensi pola dan material bangunan utama agar wujud arsitektur tetap proporsional.
Tanpa kesinambungan estetika, struktur pembatas yang menjulang justru membuat kawasan komersial tampak eksklusif dan terisolasi dari lingkungan sekitar. Padahal, esensi ruang publik menuntut adanya koneksi visual yang cair antara bangunan dan aktivitas harian masyarakat.
Praktik pengamanan ketat lewat pembatas masif tersebut dalam dunia perancangan lazim dikategorikan sebagai arsitektur defensif Surabaya. Strategi ini lazim dipakai pengembang untuk meredam potensi gangguan keamanan, vandalisme, maupun risiko intrusi melalui rekayasa fisik.
Kendati demikian, pengelola kawasan tidak harus mengorbankan keterbukaan kota demi faktor keamanan semata. Penerapan konsep soft border atau batas halus lewat pemanfaatan vegetasi dan struktur transparan menawarkan solusi alternatif yang jauh lebih ramah pandangan.
Pagar tanaman atau pembatas rendah setinggi kisaran 80 sentimeter terbukti efektif mengamankan aset tanpa harus memutus interaksi visual warga kota. Melalui pendekatan desain yang proporsional, fungsi pengamanan gedung tetap berjalan optimal tanpa mengorbankan kenyamanan publik.
Editor : Alim Perdana