JEMBER, AYOJATIM.COM – Gemerlap kostum penuh warna kembali memenuhi jalanan Jember dalam perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026.
Di balik kemegahan ribuan busana karnaval yang tampil di sepanjang Catwalk Without Walls sepanjang 3,6 kilometer, tersimpan cerita tentang kreativitas tangan lokal yang terus berkembang hingga mampu menembus panggung karnaval berkelas dunia.
Salah satunya adalah Irhamni Afendi, kreator dan perajin kostum asal Jember yang turut menerjemahkan tema besar JFC 2026, “HEAL” atau Humanity, Earth, And Life, ke dalam karya fesyen karnaval.
JFC 2026 yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 membawa pesan tentang kemanusiaan, kelestarian bumi, dan kehidupan. Pesan tersebut kemudian diterjemahkan para kreator ke dalam bentuk visual yang spektakuler, termasuk melalui karya-karya Irhamni.
Bagi pria berusia 30 tahun ini, dunia karnaval bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Ia mulai menekuni dunia tersebut secara otodidak sejak 2012.
Lebih dari satu dekade kemudian, perjalanan kreatif itu membawanya menjadi salah satu perajin sekaligus desainer kostum yang dipercaya menggarap berbagai kebutuhan busana di ajang JFC 2026.
Puluhan Kostum Irhamni Warnai JFC 2026
Pada JFC 2026, kontribusi Irhamni tidak hanya hadir dalam satu panggung. Ia dipercaya mengerjakan puluhan kostum yang tersebar di sejumlah kategori.
Untuk World Kids Carnival (WKC) dan Grand Carnival, Irhamni merancang dan memproduksi tiga kostum utama dengan detail visual yang dirancang untuk merepresentasikan semangat serta filosofi tema “HEAL”.
Sementara itu, kreativitasnya juga dituangkan melalui 20 kostum Art Wear. Berbeda dengan kostum karnaval yang mengutamakan kemegahan visual, Art Wear memberi ruang lebih luas bagi eksplorasi bentuk, material, konsep, dan pesan artistik.
Karya-karya tersebut menjadi bagian dari atmosfer JFC 2026 yang juga diramaikan sejumlah rangkaian acara, di antaranya Pets Carnival serta World Archipelago Carnival Indonesia (WACI) yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran berbagai kategori tersebut semakin memperkuat karakter Jember sebagai salah satu kota yang identik dengan perkembangan seni karnaval dan fesyen kreatif.
Dari Belajar Otodidak hingga Berkarya di Panggung JFC 2026
Perjalanan Irhamni menjadi kreator kostum karnaval menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari pendidikan formal. Sejak mulai belajar secara mandiri pada 2012, ia terus mengembangkan teknik dan karakter desainnya melalui pengalaman langsung.
Dalam setiap proses produksi, ia tidak hanya mengejar tampilan yang spektakuler. Struktur kostum, kenyamanan pemakai, kekuatan material, hingga kemampuan busana untuk digunakan di panggung terbuka menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan.
Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena kostum karnaval harus mampu menghadirkan visual yang kuat dari jarak jauh, tetapi tetap nyaman dan aman ketika dikenakan selama parade.
Bagi Irhamni, tema “HEAL” juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan melalui bahasa visual.
“Melalui tema HEAL tahun ini, saya ingin menerjemahkan pesan kepedulian terhadap bumi dan kehidupan ke dalam bentuk visual yang megah namun tetap sarat emosi. Setiap helai bahan dan struktur yang saya bangun adalah wujud kecintaan saya terhadap seni karnaval dan JFC,” ujar Irhamni.
Kostum Karnaval JFC untuk Seni dan Kolaborasi
Tidak hanya berkarya untuk kebutuhan JFC, Irhamni juga membuka peluang kolaborasi dengan pegiat seni, instansi, maupun individu yang membutuhkan kostum karnaval dengan karakter visual yang kuat.
Kostum yang dikerjakan Irhamni ditawarkan dengan kisaran harga Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung tingkat kerumitan desain, detail pengerjaan, serta material yang digunakan.
Bagi Irhamni, kesempatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas ekosistem kreatif Jember. Seni karnaval tidak hanya berhenti di panggung festival, tetapi dapat berkembang menjadi karya kreatif yang mempertemukan fesyen, seni rupa, budaya, dan industri kreatif.
JFC dan Warisan Kreativitas Dynand Fariz
Jember Fashion Carnaval (JFC) merupakan salah satu festival karnaval fesyen terbesar di Indonesia yang digagas oleh mendiang Dynand Fariz pada 2003.
Dalam perjalanannya, JFC dikenal sebagai ruang kreatif yang mempertemukan fesyen, seni pertunjukan, budaya, dan isu-isu global. Tema yang diangkat tidak sekadar diterjemahkan melalui busana spektakuler, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan kepada publik.
Pada JFC 2026, semangat tersebut kembali hadir melalui tema HEAL: Humanity, Earth, And Life.
Di tengah sorotan terhadap kemegahan parade, karya Irhamni Afendi menjadi salah satu gambaran bagaimana kreativitas lokal Jember terus tumbuh.
Dari proses belajar secara otodidak hingga dipercaya menggarap puluhan kostum, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa di balik panggung megah JFC terdapat para kreator lokal yang bekerja dengan ketekunan, imajinasi, dan kecintaan terhadap seni karnaval.
Bagi Jember, cerita seperti ini menjadi bagian penting dari identitas kota yang selama bertahun-tahun membangun reputasi sebagai salah satu pusat karnaval kreatif di Indonesia.
Editor : Amal Jaelani