SURABAYA, AYOJATIM – Sebanyak 32 mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (STTS) mendapat kesempatan melihat langsung dinamika industri teknologi melalui program Company Visit yang digelar Student Group Google Developer Groups on Campus (GDGoC) Institut STTS di Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari, Sabtu (29/8) hingga Minggu (6/9), tersebut melibatkan mahasiswa lintas program studi, yakni Teknik Informatika, Sistem Informasi Bisnis (SIB), dan Desain Komunikasi Visual (DKV).
Rombongan mengunjungi enam perusahaan dari sektor teknologi, perbankan, hingga manufaktur. Perusahaan yang menjadi tujuan meliputi BCA Foresta, NBS DEV, CIMB Niaga, GDP Labs, HM Sampoerna, dan AWS Jakarta Office.
Selain kunjungan perusahaan, mahasiswa juga mengikuti Jax Community Day Series yang berlangsung di Google Office Jakarta.
Agenda tersebut memperluas kesempatan mahasiswa untuk mengenal ekosistem teknologi sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan praktisi industri.
Bagi mahasiswa, Company Visit tidak sekadar menjadi agenda kunjungan. Setiap perusahaan memberikan perspektif berbeda mengenai dunia kerja, pengembangan teknologi, budaya perusahaan, hingga kompetensi yang dibutuhkan talenta digital.
Di BCA Foresta, misalnya, peserta mendapat pemaparan mengenai perjalanan karier, lingkungan kerja, serta proses pengembangan produk digital. Fernando dari HR BCA dan Heinrich Wisesa, Team Lead MyBCA Bisnis Lite sekaligus alumni, berbagi pengalaman mengenai persiapan memasuki dunia profesional dan pengembangan produk digital.
Mahasiswa juga mengikuti office tour dan mengunjungi Tech Discovery Zone BCA. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan produk digital di dunia profesional memiliki kompleksitas yang lebih luas dibandingkan pembelajaran di ruang kuliah.
Kunjungan berlanjut ke NBS DEV. Bersama Founder and CIO Sidiq, Daus dari HR, CTO Saggaf, dan Head of Technology Syariga, mahasiswa mengenal berbagai posisi dan tanggung jawab dalam perusahaan teknologi.
Pembahasan juga mencakup budaya kerja, fasilitas karyawan, serta penerapan Artificial Intelligence (AI) di industri. Mahasiswa diajak memahami bagaimana AI mulai menjadi bagian dari berbagai pekerjaan dan proses bisnis di sektor teknologi.
Sementara di CIMB Niaga, peserta melihat bagaimana teknologi menjadi bagian penting dalam transformasi industri perbankan. Santori selaku Head of Information Technology bersama Retno, Budi, dan Azam berbagi mengenai pengembangan produk digital, termasuk OCTO Mobile.
Diskusi turut membahas program magang dan beasiswa, pengembangan user experience (UX), AI, hingga proses pengembangan produk digital. Peserta kemudian mengikuti office tour dan mencoba teknologi virtual reality (VR) yang digunakan dalam simulasi dan pelatihan teller.
Mengenal Pengembangan Produk AI hingga Teknologi Cloud
Perspektif berbeda diperoleh mahasiswa ketika mengunjungi GDP Labs. Bersama Head of HR Harini, Greg dari HR, Felix selaku COO of Glair sekaligus VP Engineering, serta Glen selaku VP Engineering, peserta mempelajari proses pengembangan produk teknologi.
Salah satu materi yang menarik perhatian mahasiswa adalah pengembangan solusi berbasis AI. Peserta mendapatkan gambaran mengenai proses pengembangan produk sekaligus pentingnya kolaborasi antartim dalam menghasilkan solusi teknologi.
Di HM Sampoerna, mahasiswa melihat bagaimana teknologi informasi tidak hanya dibutuhkan perusahaan yang bergerak di sektor digital. Tim IT memiliki peran penting dalam mendukung operasional dan pengembangan bisnis perusahaan manufaktur.
Ephraim selaku Director Technology Indonesia, Vicky dari People and Culture, dan Katherine selaku Tech Solution B2B berbagi pengalaman mengenai peran teknologi di perusahaan, nilai-nilai kerja, hingga perjalanan karier.
Katherine juga membagikan pengalaman sejak awal bergabung dengan perusahaan, termasuk proses pengembangan produk dan gambaran mengenai dunia kerja yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus.
Perjalanan industri ditutup dengan kunjungan ke AWS Jakarta Office. Bersama Glen selaku Solution Architect, Yopan selaku Lead of Public Sector and Education, Ivan selaku Customer Solution Manager, dan Veny selaku Female Solution Architect, mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai perkembangan teknologi cloud, AI, dan UX.
Selain teknologi, sesi tersebut membahas perjalanan karier para praktisi serta kiat bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri memasuki industri teknologi.
Menjembatani Kampus dan Kebutuhan Industri
Rangkaian kegiatan tersebut didampingi Pembina GDGoC Institut STTS Ong Hansel Santoso, S.Si., M.Kom., Advisor GDGoC Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., serta dosen pendamping Ir. Iwan Chandra, S.Kom., M.Kom. dan Dr. Ir. Joan Santoso, S.Kom., M.Kom.
Ketua Company Visit Jakarta 2026, Jesselyn Christie Santoso, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran di kampus.
“Melalui kunjungan ini, kami mendapatkan banyak wawasan industri nyata yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Semoga kegiatan ini membuka peluang karier baru bagi teman-teman mahasiswa dan program seperti ini bisa terus berlanjut ke depannya,” ujar Jesselyn.
Menurutnya, interaksi langsung dengan perusahaan membantu mahasiswa memahami budaya kerja, proses bisnis, serta standar kompetensi yang dibutuhkan industri digital.
Hal senada disampaikan Gracia Krisnanda, Lead GDGoC Institut STTS 2025/2026. Ia mengapresiasi dukungan kampus, dosen pendamping, perusahaan, panitia, dan peserta yang membuat rangkaian Company Visit berjalan lancar.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Institut STTS, para dosen pendamping, seluruh perusahaan yang telah menyambut hangat, serta kerja keras panitia dan antusiasme para peserta,” kata Gracia.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga mahasiswa memiliki kesempatan lebih luas untuk membangun koneksi, memahami kebutuhan industri, dan mempersiapkan karier sejak masih berada di bangku kuliah.
Bagi GDGoC Institut STTS, pengalaman sembilan hari di Jakarta tersebut menjadi jembatan antara teori yang dipelajari di kampus dengan realitas industri digital. Interaksi dengan praktisi sekaligus membuka perspektif mahasiswa mengenai perubahan teknologi dan tuntutan kompetensi yang terus berkembang.
Editor : Amal Jaelani