ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Aksi Bocah SD Selamatkan Akar Mangrove Wonorejo Surabaya dari Plastik

avatar Muhammad Iffan Maulana
  • URL berhasil dicopy
Siswa SD bersama ECOTON menyelamatkan Mangrove Wonorejo Surabaya dari jeratan sampah plastik. Foto/Ecoton
Siswa SD bersama ECOTON menyelamatkan Mangrove Wonorejo Surabaya dari jeratan sampah plastik. Foto/Ecoton

SURABAYA, AYOJATIM.COM - Puluhan anak usia sekolah dasar turun langsung ke area berlumpur menyelamatkan kawasan Mangrove Wonorejo, Surabaya, dari ancaman mematikan. 

Mereka bersusah payah mencabut tumpukan sampah plastik yang mencekik akar pepohonan pelindung pesisir tersebut pada Minggu (19/7/2026). 

Aksi bertajuk "Make Mangrove Green Again" garapan ECOTON bersama siswa homeschooling dan mahasiswa Universitas Brawijaya membuka mata publik betapa parahnya krisis limbah di muara sungai.

Limbah rumah tangga seperti botol, kresek, hingga kemasan saset tidak sekadar mengotori pemandangan, tetapi membunuh pohon secara perlahan. 

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, memaparkan bahwa tumpukan limbah menutup lentisel atau pori-pori pernapasan pada batang dan akar mangrove. Kondisi tersebut menghambat pertukaran oksigen serta karbon dioksida.

Bencana ekologis tidak berhenti di situ. Terik matahari, hantaman ombak, dan gesekan material pantai perlahan menghancurkan plastik menjadi partikel mikroplastik. 

Rantai makanan laut akan keracunan, mengancam keberlanjutan sumber daya ikan yang hidup dan mencari makan di antara akar mangrove.

Hasil sisir area membuktikan parahnya krisis limbah pesisir. Hanya dalam waktu setengah jam menyisir kawasan, para peserta mengangkut lebih dari 20 karung sampah seberat 25 kilogram per karungnya. 

Mayoritas benda yang mereka kumpulkan berasal dari kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan ke aliran sungai yang berujung di laut.

Kenyataan lapangan membuat anak-anak yang berpartisipasi terkejut. Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku kesulitan melepaskan jeratan limbah yang sudah mengakar.

"Sampahnya banyak sekali dan susah ditarik dari akar pohon. Orang-orang harus mulai membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi pemakaian plastik sekali pakai agar pantai tidak tercemar," ucap Abdullah usai memungut sampah.

Pengalaman serupa dirasakan Nashwa, siswi kelas 1 SD. Bau menyengat dari tumpukan benda buangan menyadarkannya untuk terus mempraktikkan gaya hidup minim sampah.

"Aku dapat dua karung isi botol, wadah saset, dan sedotan. Sampahnya bau sekali. Mulai sekarang kita harus kurangi plastik. Aku sendiri selalu dibekali botol minum dan wadah makan dari rumah oleh Bunda agar tidak terus memakai plastik sekali pakai," tuturnya.

Ariesta, salah satu orang tua peserta, melihat metode belajar langsung di alam jauh lebih ampuh membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini. 

Anak-anak melihat langsung wujud kerusakan alam akibat tindakan manusia sehari-hari. Ia berharap pemahaman berharga dari lapangan terbawa menjadi kebiasaan permanen di rumah.

Kerusakan kawasan pesisir sejatinya berakar dari hulu. Membawa wadah sendiri, menggunakan tas belanja pakai ulang, serta berhenti membuang sampah ke sungai menjadi langkah mutlak bagi masyarakat perkotaan. 

Menjaga kebersihan sungai sama artinya dengan merawat rumah bagi ikan serta mempertahankan benteng terakhir daratan dari abrasi.

 

Editor :