SURABAYA, AYOJATIM.COM - Kelurahan Simokerto mulai menyusun strategi pengelolaan sampah berbasis data untuk menekan kebocoran sampah plastik ke Kali Tebu.
Langkah itu dilakukan setelah pelaksanaan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) selama delapan hari di RT 04/RW 13 menghasilkan gambaran komposisi sampah rumah tangga yang didominasi material yang masih dapat dikelola.
Kegiatan yang berlangsung pada 16–23 Juli 2026 tersebut melibatkan 50 rumah tangga sebagai bagian dari Program Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) yang diinisiasi ECOTON bersama sejumlah mitra.
Warga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya, mulai dari organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai hingga residu. Seluruh sampah kemudian ditimbang dan dicatat setiap hari.
Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto, mengatakan hasil AKSA akan menjadi pijakan dalam merancang sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung.
"Data yang diperoleh dari AKSA akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung. Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi dapat lebih tepat sasaran, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu," ujarnya.
Selama delapan hari pelaksanaan, terkumpul 354,58 kilogram sampah rumah tangga. Sebanyak 45,5 persen merupakan sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya.
Sementara 34,5 persen terdiri atas sampah yang masih berpotensi didaur ulang, 13,2 persen berupa popok sekali pakai, dan hanya 6,8 persen yang tergolong residu.
Temuan tersebut menunjukkan lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga masih berpotensi dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang.
Pengelolaan sejak dari sumber dinilai mampu mengurangi volume sampah yang berisiko mencemari Kali Tebu.
Lurah Simokerto, Arief Insani, mengatakan data AKSA memberikan gambaran mengenai jenis sampah yang paling banyak dihasilkan masyarakat sekaligus menjadi dasar menentukan upaya pengurangan sampah.
Ia berharap tahapan dalam Program Kampung MOZAIK, termasuk kegiatan pemilahan sampah melalui AKSA, dapat diterapkan di seluruh RT dan RW di Kelurahan Simokerto sehingga mampu mewujudkan Kali Tebu yang lebih bersih, asri, dan bebas dari kebocoran sampah plastik.
Komitmen melanjutkan pengelolaan sampah juga disampaikan perwakilan RW 13 sekaligus fasilitator kelurahan, Mujiatiningsih. Menurutnya, kegiatan memilah sampah tidak berhenti setelah AKSA selesai.
"Salah satu tindak lanjutnya adalah pengangkutan sampah terpilah dan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos melalui sumur kompos yang sudah tersedia di RW 13. Pemilahan sampah memudahkan masyarakat mengelola sampah hingga tuntas sejak dari sumber untuk mewujudkan Kali Tebu yang lestari," katanya.
Selain memetakan timbulan dan komposisi sampah, data AKSA juga akan digunakan untuk pelaksanaan brand audit, yakni identifikasi merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga.
Hasilnya diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
Program Kampung MOZAIK tidak hanya berorientasi pada pengumpulan data, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi pemilahan sampah, pengomposan, penguatan sistem daur ulang, dan pengembangan berbagai solusi agar sampah tidak masuk ke badan air.
Selanjutnya, hasil AKSA akan dipaparkan dalam forum konsultasi publik yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah kelurahan, kader KSH, pengurus RT/RW, serta pelaku usaha setempat untuk menyusun langkah lanjutan pengelolaan sampah di kawasan Simokerto.
Editor : Alim Perdana