Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
TAHUN 1447 Hijriah hampir berakhir. Sebentar lagi kita memasuki tahun baru 1448 Hijriah. Bagi sebagian orang, pergantian tahun mungkin hanya pergantian angka dalam kalender.
Namun bagi umat Islam, hijrah selalu mengandung makna yang jauh lebih dalam. Momentum untuk introspeksi, menoleh ke belakang, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana amanah dijalankan?
Pertanyaan itu tidak hanya layak diajukan kepada rakyat biasa. Pertanyaan itu justru paling penting diajukan kepada para pemimpin. Sebab sejarah mengajarkan bahwa nasib sebuah bangsa sering kali ditentukan oleh kualitas amanah para pemimpinnya.
Menjelang 1448 Hijriah, rakyat tidak meminta sesuatu yang muluk-muluk. Rakyat tidak meminta keajaiban. Rakyat tidak meminta kesempurnaan. Rakyat hanya berharap para pemimpin benar-benar mendengar.
Mendengar suara petani yang masih berjuang menghadapi biaya produksi yang tinggi. Mendengar suara nelayan yang hidup di tengah ketidakpastian. Mendengar suara guru yang mengabdi dengan segala keterbatasan.
Mendengar suara mahasiswa yang turun ke jalan karena kegelisahan terhadap masa depan. Dan mendengar suara rakyat kecil yang tidak memiliki akses ke ruang-ruang kekuasaan.
Tahun baru Hijriah juga mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa. Tetapi amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya oleh rakyat. Tetapi juga oleh Allah SWT.
Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya proyek yang dibangun. Tidak selalu diukur dari panjangnya jalan yang diaspal. Tidak pula dari megahnya gedung yang diresmikan.
Ukuran yang lebih penting adalah: apakah rakyat merasakan keadilan? Apakah uang negara benar-benar digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat? Apakah kebijakan yang dibuat lahir dari kepentingan bangsa atau kepentingan kelompok? Dan apakah kekuasaan digunakan untuk melayani atau justru dilayani?
Menjelang 1448 Hijriah, bangsa ini membutuhkan lebih banyak keteladanan daripada pidato. Lebih banyak integritas daripada pencitraan. Lebih banyak keberanian memperbaiki sistem daripada sekadar mencari kambing hitam ketika masalah muncul.
Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah. Memiliki generasi muda yang luar biasa. Memiliki potensi menjadi bangsa besar. Namun semua itu hanya akan menjadi kenyataan apabila amanah diletakkan di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Semoga tahun 1448 Hijriah menjadi momentum lahirnya kepemimpinan yang lebih bijaksana, lebih jujur, lebih adil, dan lebih berpihak kepada rakyat.
Karena pada hakekatnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa lama seseorang berkuasa. Tapi sejarah hanya akan mengingat apakah kekuasaan itu digunakan untuk kemaslahatan atau sekadar untuk kepentingan diri sendiri dan golongan terdekatnya saja.
Editor : Alim Perdana