ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Kali Tebu Didominasi Sampah Sachet, Kampung Mozaic Hadirkan REFILIN untuk Tekan Timbulan Sampah Plastik di Simokerto

avatar Muhammad Iffan Maulana
  • URL berhasil dicopy
Tim Kampung Mozaic melayani warga melalui program REFILIN (Refill Loop Indonesia) di kawasan bantaran Kali Tebu, Kelurahan Simokerto, Surabaya, Kamis (30/7/2026). Foto: Iffan/Ayojatim
Tim Kampung Mozaic melayani warga melalui program REFILIN (Refill Loop Indonesia) di kawasan bantaran Kali Tebu, Kelurahan Simokerto, Surabaya, Kamis (30/7/2026). Foto: Iffan/Ayojatim

SURABAYA, AYOJATIM.COM - Sampah kemasan sachet masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran di sepanjang aliran Kali Tebu, Kelurahan Simokerto, Surabaya. Menjawab persoalan tersebut, Kampung Mozaic meluncurkan REFILIN (Refill Loop Indonesia), sebuah sistem distribusi produk kebutuhan rumah tangga berbasis guna ulang (refill) yang dirancang untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai sekaligus membangun kebiasaan konsumsi yang lebih ramah lingkungan.

Inisiatif ini lahir dari hasil Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) yang dilakukan di RT 04/RW 03, Kelurahan Simokerto. Penelitian tersebut menemukan bahwa kemasan sachet multilayer mendominasi komposisi sampah di kawasan permukiman yang berada di bantaran Kali Tebu. Jenis kemasan ini dikenal sulit didaur ulang sehingga berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi Kampung Mozaic untuk tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga mencegah sampah muncul sejak awal melalui perubahan sistem distribusi produk rumah tangga.

Selama empat hari pertama pelaksanaan, pada 27–30 Juli 2026, REFILIN menunjukkan hasil yang terukur. Sebanyak 30,6 liter produk rumah tangga, terdiri atas deterjen cair, sabun cuci piring, dan pembersih lantai, telah disalurkan kepada warga menggunakan sistem isi ulang.

Berdasarkan perhitungan dampak ekologis, volume distribusi tersebut setara dengan pencegahan sekitar 765 lembar sampah sachet apabila menggunakan asumsi kemasan 40 mililiter. Sementara pada skenario penggunaan kemasan 20 mililiter, sistem ini berpotensi mencegah hingga 1.530 lembar sampah sachet dalam kurun waktu empat hari.

Pendekatan yang diterapkan REFILIN tidak berhenti pada penyediaan layanan isi ulang. Tim relawan menggunakan strategi door-to-door dengan mendatangi gang-gang permukiman agar layanan lebih mudah dijangkau masyarakat. Melalui pendekatan ini, proses distribusi juga menjadi ruang edukasi mengenai dampak kemasan sekali pakai terhadap lingkungan serta manfaat beralih ke sistem guna ulang.

Farida Febriani Tampubolon, mahasiswa Universitas Brawijaya yang menjadi relawan REFILIN Kali Tebu, menilai pendekatan tersebut efektif membangun kesadaran masyarakat.

"Praktik ini sangat membantu masyarakat. Melalui distribusi door-to-door, interaksi yang terbangun bukan hanya menjadi praktik transaksi saja, melainkan juga menjadi ruang edukasi tatap muka yang efektif untuk merombak kebiasaan konsumsi warga," ujarnya.

Respons positif juga datang dari masyarakat setempat. Ketua PKK RT 04/RW 03 Kelurahan Simokerto, Yuli, berharap inovasi serupa dapat diperluas agar manfaatnya dirasakan lebih banyak warga di sepanjang bantaran sungai.

"Seharusnya toko refill ini didirikan di beberapa titik di sepanjang sungai untuk mengajak masyarakat lebih banyak terlibat dalam inovasi guna ulang ini," katanya.

Menanggapi antusiasme warga, Kampung Mozaic berencana memperluas implementasi REFILIN ke sejumlah titik lain di sepanjang Kali Tebu. Perluasan tersebut diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan isi ulang sekaligus memperbesar dampak pengurangan sampah kemasan sekali pakai.

Pengalaman awal di Simokerto menunjukkan bahwa pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada aktivitas pengelolaan di hilir, tetapi juga membutuhkan perubahan pola konsumsi di tingkat rumah tangga. Dengan menggabungkan pendekatan sosial, edukasi langsung kepada masyarakat, dan pengukuran dampak berbasis data, REFILIN menawarkan model pencegahan sampah yang dapat direplikasi di kawasan permukiman lain yang menghadapi persoalan serupa.

Editor :