ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Momentum Setelah Idul Fitri dan Makna Halal Bi Halal, Antara Kejujuran Hati dan Pencitraan Sosial

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Dr. Abdur Rohman, Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Foto: Pribadi for AyoJatim
Dr. Abdur Rohman, Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Foto: Pribadi for AyoJatim

OPINI - Setelah bulan ramadhan usai, dan momen Idulfitri tiba, ada satu tradisi yang selalu selalu dilakukan di Indonesia, yaitu budaya halal bi halal.

Ruang-ruang pertemuan dipenuhi tawa, tangan-tangan saling bersalaman, dan kalimat yang nyaris seragam terdengar di mana-mana, “mohon maaf lahir dan batin.” Hangat, menyenangkan, dan seolah menenangkan.

Namun jika kita mau jujur pada diri sendiri, ada pertanyaan yang pelan-pelan muncul.

Apakah maaf yang kita ucapkan benar-benar lahir dari hati, atau sekadar bagian dari kebiasaan sosial yang kita jalankan setiap tahun?

Di situlah ritual halal bi halal seolah telah berdiri di sebuah persimpangan. Maknanya adalah apakah interaksi sosial saat halal bi halal adalah bentuk refleksi kejujuran hati atau hanya sebuah prosesi pencitraan sosial.

Halal bi halal sendiri jika kembali pada ruhnya, seharusnya menjadi ruang untuk membersihkan hati, bukan sekadar mengulang tradisi yang sudah mapan.

Sayangnya, realitas tidak selalu seindah itu. Kata “maaf” sering kali begitu ringan meluncur dari bibir, tetapi tidak selalu diiringi ketulusan. Karena kadang luka lama masih tersimpan rapi, prasangka belum benar-benar luruh, dan ego tetap berdiri tegak. Kita memaafkan, atau setidaknya tampak memaafkan, tanpa benar-benar menyelesaikan apa yang ada di dalam diri.

Dalam ajaran Islam sendiri, hati adalah pusat dari segala nilai. Bukan apa yang tampak di luar yang menjadi ukuran utama, melainkan apa yang tersembunyi di dalamnya. Wallahu a'lam bis showab.

Bahkan, ditengah dinamika kehidupan modern, hal tersebut kadang menjadi tampak baik dan lebih mudah, bahkan lebih penting, dari pada benar-benar menjadi baik. Dan tradisi halal bi halal pun berisiko terseret ke dalam arus ini. Tradisi dan budaya kadang berubah menjadi semacam panggung sosial, tempat di mana senyum, jabatan tangan, dan kata maaf cukup dianggap ritual normatif sebagai tanda bahwa semuanya telah selesai.

"Padahal tidak selalu demikian".

Para ulama sejak lama telah mengingatkan bahwa penyakit hati seperti riya’, dengki, dan kebencian adalah sumber kerusakan yang paling dalam. Dimana amal yang terlihat baik bisa kehilangan makna jika tidak disertai kebersihan batin.

Dalam konteks ini, halal bi halal tanpa keikhlasan hanya menjadi aktivitas sosial yang rapi secara dzahir tetapi menjadi rapuh secara spiritual.

Proses memaafkan bukanlah sebuah perkara kecil. Ia adalah pekerjaan hati yang berat, sekaligus mulia. Menahan amarah, meredam ego, dan benar-benar membuka pintu maaf membutuhkan kekuatan yang tidak semua orang siap memilikinya.

Begitu juga dengan ukhuwah atau persaudaraan. Tidak cukup hanya diucapkan atau ditampilkan dalam momen-momen seremonial. Persaudaraan menuntut usaha, keberanian untuk jujur, kesediaan untuk mengakui kesalahan, dan ketulusan untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Ramadan yang baru saja kita lalui sebenarnya telah melatih semua itu. Kita belajar menahan diri, mengendalikan emosi, dan membersihkan hati. Tetapi ujian sesungguhnya justru datang setelahnya. Ketika kebiasaan lama perlahan kembali, dan kita dihadapkan pada pilihan apakah kita mampu mempertahankan kejernihan hati atau kembali pada ego yang lama.

Dalam konteks itulah, halal bi halal seharusnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan fisik. Tradisi halal bi halal menjadi kesempatan untuk menyambung kembali hati yang sempat terputus, bukan hanya ritual bertatap muka, tetapi memjadi momentum untuk benar-benar berdamai.

Ada peringatan halus dari para bijak bahwa ketika sesuatu terlalu mudah diucapkan, bisa jadi hati justru sedang lalai. Kalimat maaf yang berulang-ulang tidak selalu berarti hati telah benar-benar memaafkan.

Maka mungkin, yang perlu kita tanyakan bukan lagi soal tradisi halal bi halal itu sendiri, tetapi bagaimana kita memaknainya. Jika setelah semua itu hati masih terasa sempit, mudah tersinggung, atau enggan terbuka, barangkali ada yang belum selesai di dalam diri kita.

Pada akhirnya, halal bi halal bukan tentang keramaian atau formalitas tahunan. Ia adalah cermin dan refleksi, apakah kita benar-benar berubah setelah Ramadan, atau hanya berganti suasana tanpa menyentuh batin.

Di titik ini, kita dihadapkan pada pilihan yang sederhana, tetapi tidak mudah. Tetap berada dalam kenyamanan pencitraan sosial atau melangkah menuju kejujuran hati.

Memilih yang kedua memang berat. Ia menuntut kerendahan hati, keberanian untuk mengakui luka, dan kesungguhan untuk memaafkan. Tetapi justru di sanalah letak kemuliaannya.

Karena pada akhirnya, yang bernilai bukan seberapa banyak tangan yang kita jabat, melainkan seberapa tulus hati kita saat memaafkan.

Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.

Selamat Hari Raya Udul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir & Bathin.


Profil Penulis :

Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.EI,. Lahir di Banyuwangi, 15 Agustus 1974, ia menempuh pendidikan dari pesantren hingga meraih S1 di STID Al-Amien Prenduan, S2 Ekonomi Islam, dan S3 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia juga aktif di forum ekonomi syariah dan pernah menjabat Wakil Dekan sebelum menjadi dekan.

Saat ini, Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.EI,. merupakan Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang dikenal sebagai akademisi visioner dengan komitmen pada pengembangan pendidikan Islam yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Editor :