ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

India–Indonesia Perkuat Kemitraan Strategis, Dubes India: Gotong Royong Hadapi Badai Geopolitik

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty. Foto: Dubes India/Ayojatim
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty. Foto: Dubes India/Ayojatim

JAKARTA – Hubungan strategis India dan Indonesia terus diperkuat di tengah dinamika geopolitik global. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa kemitraan kedua negara menjadi kekuatan penyeimbang global, khususnya bagi negara-negara Global Selatan.

“Keputusan dan tindakan India dan Indonesia, sebagai negara terbesar dan keempat terbesar di dunia, memiliki dampak besar bagi komunitas internasional. Di era persaingan geopolitik yang tajam, kemitraan kita menjadi semakin vital,” ujar Sandeep Chakravorty dalam tulisannya bertajuk India-RI ‘Gotong Royong’: Menyusuri Badai Geopolitik Bersama-sama.

Ia mengingatkan kembali momen bersejarah satu tahun lalu ketika Presiden Prabowo Subianto menjadi tamu kehormatan Parade Hari Republik India atas undangan Perdana Menteri Narendra Modi. Kehadiran 352 personel marching band Indonesia di Kartavya Path, New Delhi, menjadi simbol kuat persahabatan kedua negara.

Menurut Sandeep, momentum tersebut juga menandai 75 tahun hubungan diplomatik India–Indonesia, sekaligus mengenang sejarah ketika Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan pada Hari Republik India pertama.

Indonesia Masuk BRICS, India Sambut Hangat

Masuknya Indonesia ke dalam BRICS pada Januari 2025 disebut sebagai langkah strategis yang memperkuat peran Indonesia di tatanan global. India, yang akan memegang keketuaan BRICS pada 2026, menyatakan kesiapan menyambut Presiden Prabowo dalam KTT BRICS dengan tema Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan.

“Sebagai negara non-blok yang percaya pada multipolaritas, kemitraan India–Indonesia bukan hanya bermanfaat secara bilateral, tetapi juga menjadi kekuatan penyeimbang untuk kebaikan global,” tegasnya.

Reformasi Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Sandeep menyoroti keberanian Indonesia dalam melakukan reformasi ekonomi, termasuk pembentukan Danantara sebagai lembaga investasi kekayaan negara, pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan Koperasi Merah-Putih sebagai pusat pertumbuhan ekonomi pedesaan.

Di sisi lain, India juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi pesat. Dari PDB US$1 triliun yang dicapai setelah 60 tahun kemerdekaan, India kini telah menembus US$4 triliun pada 2025 dan diproyeksikan mencapai US$5 triliun dalam dua tahun ke depan.

“Transformasi internal India didorong oleh reformasi struktural, ekspansi digital, belanja infrastruktur, serta lonjakan startup dan R&D,” tulisnya.

Perdagangan, Digital, hingga Kesehatan

Kerja sama kedua negara juga mencakup delapan pilar utama, mulai dari digital, kesehatan, energi, ketahanan pangan, hingga pendidikan dan budaya. India dan Indonesia menargetkan integrasi sistem pembayaran UPI–QRIS, transaksi mata uang lokal, serta kolaborasi pasar modal pada 2026.

Di sektor kesehatan, kemitraan Rumah Sakit Apollo India dan Mayapada dinilai mampu menekan devisa keluar, sementara sejumlah perusahaan farmasi India siap memulai produksi lokal di Indonesia.

India juga menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan revisi Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN–India (AITIGA) serta membuka peluang perjanjian perdagangan bilateral di masa depan.

Menuju Indonesia Emas 2045 dan India Maju 2047

Menutup tulisannya, Sandeep menekankan bahwa India dan Indonesia melangkah bersama menuju visi besar Indonesia Emas 2045 dan India Maju 2047.

“Dengan memperkuat kemitraan strategis dan memimpin Global Selatan melalui kinerja ekonomi dan inklusi sosial, kita akan menghadapi badai geopolitik global dengan tekad yang lebih kuat,” pungkasnya.

Editor :