Hangus Dibakar Pendemo, Sejarah Panjang Gedung Negara Grahadi yang Jadi Cagar Budaya dan Saksi Perjuangan Kemerdekaan

Kondisi Gedung Grahadi saat Dibakar Pendemo yang anarkis, Sabtu (30/8/2025). Foto: Muhammad Iffan/Ayojatim
Kondisi Gedung Grahadi saat Dibakar Pendemo yang anarkis, Sabtu (30/8/2025). Foto: Muhammad Iffan/Ayojatim

SURABAYA – Gedung Negara Grahadi, yang berdiri megah di pusat Kota Surabaya, selama lebih dari dua abad telah menjadi salah satu ikon penting Jawa Timur sekaligus saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Namun, deretan aksi demonstrasi di Kota Pahlawan sejak 29 Agustus 2025 berakhir tragis dengan dibakarnya gedung bersejarah tersebut oleh massa pada Sabtu malam (30/8/2025).

Peristiwa itu menyisakan duka mendalam bagi warga Surabaya. Gedung Grahadi yang selama ini berdiri gagah, kini luluh lantak akibat lemparan bom molotov para pendemo.

“Lah iyo kok diobong sih rek, iku cagar budaya lo,” ungkap Lutfi, salah seorang warga, Minggu (31/8/2025).

Jejak Sejarah Gedung Negara Grahadi

Gedung Grahadi dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Herman Daendels. Awalnya, bangunan ini menjadi tempat pertemuan pejabat Belanda sekaligus kediaman Residen Surabaya, Dirk van Hogendorp.

Arsitektur Grahadi mengusung gaya Indische Empire Style: bangunan besar dengan pilar-pilar tinggi, atap lebar, teras luas, serta jendela tinggi untuk sirkulasi udara tropis. Pada tahun 1802, orientasi gedung yang semula menghadap ke Kalimas diubah menjadi menghadap ke selatan. Renovasi besar kemudian dilakukan pada 1810 oleh Daendels untuk memperkuat karakter arsitekturnya.

Nama "Grahadi" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, berarti rumah sekaligus derajat yang tinggi. Lebih dari sekadar rumah dinas, Grahadi sejak awal berdiri telah memegang peran strategis sebagai pusat pemerintahan di Surabaya.

Saksi Sejarah Perjuangan

Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, Grahadi turut merekam berbagai peristiwa penting. Pada Oktober 1945, gedung ini menjadi lokasi perundingan antara Presiden Soekarno dengan Jenderal Hawthorn untuk menghentikan pertempuran antara pejuang Surabaya dan pasukan Sekutu.

Tak berhenti di situ, pada 9 November 1945, Gubernur pertama Jawa Timur, Raden Tumenggung Soerjo, menolak ultimatum Sekutu di dalam gedung ini. Keputusan berani itu kemudian menjadi salah satu pemantik berkobarnya Pertempuran 10 November 1945, yang menjadikan Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan.

Fungsi di Era Republik

Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, Gedung Grahadi difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur sekaligus pusat penyelenggaraan acara kenegaraan, resepsi resmi, hingga pertemuan penting. Gedung ini juga menjadi lokasi perayaan Hari Kemerdekaan di Jawa Timur, tempat menerima tamu negara, hingga titik aktivitas kepresidenan saat Presiden Republik Indonesia berkunjung ke Surabaya.

Tak hanya itu, pada momen tertentu Grahadi juga dibuka untuk masyarakat sebagai destinasi wisata sejarah, memperkuat posisinya sebagai salah satu cagar budaya terpenting di Jawa Timur.

Kini, dengan usianya yang lebih dari 200 tahun, Gedung Negara Grahadi bukan hanya simbol pemerintahan Jawa Timur, tetapi juga penanda perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia: dari era kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga masa modern.

Sayangnya, jejak sejarah itu harus pupus dalam kobaran api. Puing yang tersisa bukan sekadar reruntuhan bangunan, melainkan juga hilangnya sebagian memori kolektif warga Surabaya dan bangsa Indonesia.

Editor : Amal Jaelani