IKABOGA Perkuat Kompetensi SDM Kuliner dan Dorong Lahirnya Wirausaha Baru di KRISTAInterFOOD 2026

Reporter : AM Lukman J
IKABOGA menggelar Rakernas ke-9 dan kompetisi kreasi jajanan pasar di KRISTAInterFOOD 2026, NICE PIK 2, Tangerang, Jumat (6/11/2026). Foto: AML/Ayojatim

TANGERANG – Pengembangan industri kuliner nasional tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dalam mengolah makanan.

Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), sertifikasi profesi, hingga kemampuan membangun usaha menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing pelaku industri boga.

Baca juga: KRISTAInterFOOD 2026 Jadi Momentum Apkrindo Jatim Perkuat Jejaring Bisnis dan Digitalisasi Layanan

Hal tersebut menjadi salah satu agenda Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA) melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-9 yang digelar bersamaan dengan pameran KRISTAInterFOOD 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, pada 4-7 November 2026.

Melalui kegiatan tersebut, IKABOGA tidak hanya memperkuat konsolidasi organisasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara anggota, pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri. Organisasi ini mendorong anggotanya memiliki keterampilan profesional sekaligus kemampuan mengembangkan usaha kuliner secara berkelanjutan.

Ketua Umum IKABOGA, Retno Multriarti, mengatakan Rakernas ke-9 mendapat dukungan Krista Exhibitions dan diikuti perwakilan dari 11 daerah, di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Lampung, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Bali, dan DKI Jakarta.

Menurut Retno, penyelenggaraan Rakernas bersamaan dengan KRISTAInterFOOD 2026 memberikan kesempatan bagi anggota untuk mengenal perkembangan teknologi, peralatan, serta kebutuhan industri makanan dan minuman.

"Bagaimanapun juga ini berhubungan dengan kuliner. Mesin-mesin yang dijual di pameran ini juga pas sekali dengan usaha kita," ujar Retno di sela kegiatan, Jumat (6/11/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan business matching yang mempertemukan anggota IKABOGA dengan vendor dari dalam dan luar negeri. Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama sekaligus membantu pelaku usaha mendapatkan referensi peralatan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Agenda berikutnya diisi Rakernas dan kompetisi memasak jajanan pasar berbahan dasar talas serta ubi yang didukung Rose Brand. Kompetisi ini menghadirkan peserta dari berbagai daerah dengan mengenakan pakaian tradisional masing-masing.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara IKABOGA memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Nusantara kepada generasi muda. Peserta ditantang mengolah jajanan tradisional menjadi sajian yang lebih menarik melalui inovasi rasa, teknik pengolahan, dan penyajian.

Retno menilai pengembangan kuliner tradisional perlu mengikuti perubahan selera masyarakat tanpa menghilangkan karakter asli makanan daerah.

"Kadang-kadang anak sekarang memilih makanan yang bukan milik kita sendiri. Oleh sebab itu, kami sebagai instruktur mengajarkan bagaimana makanan yang dianggap jadul bisa dikemas menjadi bagus, menarik, dan enak," katanya.

Pemanfaatan tepung beras dan tepung ketan dalam kompetisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahan pangan lokal. Dengan kreativitas pengolahan, jajanan pasar diharapkan memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas.

Selain pengembangan kreativitas, IKABOGA juga memperkuat profesionalisme tenaga kerja melalui uji kompetensi dan sertifikasi profesi yang menjadi agenda hari keempat.

"Jadi, sertifikasi profesi itu adalah bukti yang valid bahwa profesi di bidang industri kuliner memang harus memiliki sertifikasi yang kompeten dan diakui oleh negara," tegas Retno.

Baca juga: Apkrindo Jatim Manfaatkan KRISTAInterFOOD 2026, Buka Akses Supplier dan Teknologi bagi Pengusaha Kuliner

Pelaksanaan sertifikasi dilakukan melalui kerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Program ini menyasar chef, instruktur, dan tenaga kerja kuliner agar memiliki pengakuan kompetensi sesuai standar yang berlaku.

Sekretaris Jenderal IKABOGA sekaligus Owner Rumah Racik, Neni, mengatakan Rakernas juga menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan mempertemukan anggota dengan berbagai pemangku kepentingan industri kuliner.

Sekitar 100 orang terlibat dalam berbagai aktivitas kegiatan setiap harinya. Sejumlah pihak turut hadir, mulai dari perwakilan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian UMKM, hingga asosiasi terkait, termasuk Perkumpulan Pengusaha Jasaboga Indonesia (PPJI).

Neni menyebut IKABOGA saat ini memiliki sekitar 10.000 anggota di seluruh Indonesia, dengan anggota aktif tersebar di 18 provinsi. Latar belakang mereka beragam, mulai dari dosen, instruktur, pengusaha UMKM, pemilik usaha kuliner, hingga pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Anggota kami memang hobi memasak, tetapi di samping itu juga terus melengkapi legalitas usaha dengan mengikuti sertifikasi," ujar Neni.

Menurut dia, peningkatan keterampilan harus berjalan seiring dengan pemenuhan legalitas dan standar kompetensi. Dengan begitu, anggota memiliki bekal lebih kuat untuk mengembangkan bisnis dan bersaing di industri kuliner.

IKABOGA juga mengambil peran dalam memperluas akses pendidikan vokasi nonformal melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program pendidikan keterampilan tersebut dilaksanakan melalui lembaga kursus dan pelatihan, termasuk bagi masyarakat kurang mampu dan mereka yang putus sekolah.

Baca juga: ASENSI dan Kemendag Dorong Merek Lokal Tembus Pasar Lebih Luas Lewat Lisensi dan Waralaba

Peserta tidak hanya dibekali kemampuan memasak, tetapi juga diperkenalkan dengan dunia usaha agar keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal memasuki pasar kerja maupun merintis bisnis sendiri.

"Setelah dididik memasak dan keterampilan lainnya, kami memperkenalkan mereka dengan dunia usaha. Jadi, mereka tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga bisa mengembangkan usaha," ungkap Retno.

Untuk menjaga mutu pelatihan, IKABOGA juga mensyaratkan instruktur memiliki sertifikasi kompetensi. Langkah tersebut diharapkan memastikan proses pendidikan berjalan sesuai standar dan kebutuhan industri.

Penerapan kreativitas dalam mengembangkan kuliner tradisional terlihat dalam kompetisi jajanan pasar yang diikuti peserta dari sejumlah daerah. Nimi, salah satu peserta asal Bali, mengaku telah mempersiapkan timnya yang terdiri dari tiga orang sejak beberapa pekan sebelum perlombaan.

"Kami membuat jajanan pasar berbahan ubi dan talas dengan tepung Rose Brand, tapi dengan tambahan rasa khas buah dan tambahan whipping cream. Selain itu, untuk plating-nya kami hias di wadah khas Bali, yakni bokor dan dulang," paparnya.

Kreasi tersebut memperlihatkan peluang pengembangan jajanan tradisional melalui perpaduan bahan lokal dan teknik penyajian modern. Identitas kuliner daerah tetap dipertahankan, sementara inovasi dilakukan untuk memperluas daya tariknya.

Melalui Rakernas ke-9 di KRISTAInterFOOD 2026, IKABOGA mendorong pengembangan industri kuliner yang tidak hanya bertumpu pada keterampilan memasak, tetapi juga profesionalisme tenaga kerja, pelestarian kuliner Nusantara, serta lahirnya wirausaha baru yang mampu bersaing di pasar nasional.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru