MALANG – Kiprah Malang Autism Center (MAC) dalam mendampingi anak dengan autisme selama 11 tahun mendapat apresiasi dari DPRD Kota Malang.
Lembaga yang didirikan pada Oktober 2015 tersebut dinilai telah berkontribusi dalam memperluas akses terapi sekaligus membantu keluarga kurang mampu mendapatkan layanan pendampingan bagi anak dengan autisme.
Baca juga: 11 Tahun Malang Autism Center, Perluas Layanan dan Buka Akses Terapi bagi Anak Autisme
Apresiasi tersebut disampaikan I Made Riandiana Kartika, S.E., M.M., Ketua Fraksi PDI Perjuangan sekaligus anggota Komisi D DPRD Kota Malang, dalam rangka perjalanan 11 tahun MAC, Jumat, (30/10/2026).
DPRD Kota Malang mengapresiasi dedikasi Founder MAC, Mohammad Cahyadi, yang selama ini mengembangkan layanan terapi dan berbagai program sosial bagi anak dengan autisme.
“Luar biasa sekali apa yang sudah dilakukan oleh Pak Cahyadi. Menurut kami, apa yang dilakukan pemerintah kota belum sebanding dengan upaya yang telah beliau lakukan. Karena itu, kami memberikan apresiasi dan dukungan penuh,” ungkap I Made melalui sambungan video.
Ia menyampaikan, DPRD Kota Malang terbuka untuk membangun sinergi dengan MAC. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui tiga fungsi DPRD, yakni penganggaran, pembentukan peraturan daerah (perda), dan pengawasan.
“Selanjutnya, kami di DPRD siap bersinergi melalui tiga fungsi yang kami miliki, yakni fungsi penganggaran, pembentukan peraturan daerah (perda), dan pengawasan. Pada prinsipnya, apa yang sudah dilakukan MAC ini sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kami memberikan dukungan agar upaya tersebut bisa terus berjalan dan berkembang,” tambahnya.
11 Tahun Kembangkan Layanan dan Program Sosial
Memasuki usia ke-11 pada Oktober 2026, MAC terus memperkuat komitmennya dalam memberikan layanan terapi dan pendampingan bagi anak dengan autisme. Mengusung tema “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”, MAC tidak hanya mengembangkan fasilitas, tetapi juga memperluas program sosial untuk membantu keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Founder MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan perjalanan lembaga yang didirikannya bukan sekadar tentang pengembangan fasilitas dan layanan terapi, melainkan juga upaya memberikan manfaat lebih luas bagi anak, keluarga, dan masyarakat.
“Memasuki usia ke-11, kami ingin Malang Autism Center tidak hanya berkembang dari sisi fasilitas dan layanan terapi, tetapi juga semakin luas memberikan manfaat bagi anak dengan autisme, keluarga, dan masyarakat,” ungkap Cahyadi.
Baca juga: Presiden Prabowo Pimpin Langsung Panen Raya TNI Terintegrasi di Malang
Didirikan di Kabupaten Malang pada Oktober 2015, MAC merupakan pusat layanan terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA). Pendekatan tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar, pengembangan keterampilan, dan kemandirian anak sesuai potensi masing-masing.
Dari satu gedung, MAC kini mengembangkan fasilitas pelayanan menjadi empat lokasi. Setelah membangun gedung kedua pada 2025, MAC merencanakan pembangunan gedung ketiga di kawasan Manggar, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Program OTA Buka Akses Terapi bagi Keluarga Kurang Mampu
Salah satu program sosial MAC adalah Omah Terapi Autis (OTA), yang menyediakan layanan terapi bagi anak dengan autisme dari keluarga kurang mampu melalui sistem pembayaran sesuai kemampuan ekonomi.
Sejak awal pelaksanaan, jumlah penerima manfaat OTA berkembang dari dua anak menjadi 10 anak. Jangkauan program juga diperluas melalui OTA Neptunus pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.
Selain itu, MAC berkolaborasi dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan untuk mengidentifikasi dan mendata penyandang disabilitas yang membutuhkan layanan fisioterapi. Masyarakat yang memerlukan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh layanan melalui Klinik Patria, klinik fisioterapi milik MAC.
Baca juga: Posyandu Disabilitas Penanggungan Malang Perkuat Akses Layanan Kesehatan Warga Rentan
MAC juga menjalankan program Nasi Berkah yang dimulai secara rutin setiap Jumat pada 2023 dan berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.
Program tersebut tidak hanya menjadi kegiatan berbagi makanan, tetapi juga sarana pembelajaran praktis bagi anak dengan autisme. Melalui aktivitas terstruktur dan pendampingan, anak belajar tanggung jawab, keterampilan praktis, serta membangun kemandirian sesuai kemampuannya.
Cahyadi berharap, momentum 11 tahun MAC dapat memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, tenaga profesional, dan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan pelayanan.
“Kami berharap keberadaan MAC dapat memberikan dampak yang lebih luas, sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap anak dengan autisme dan penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mencapai kemandirian melalui layanan terapi dan pendampingan yang berkelanjutan.
Editor : Amal Jaelani