SURABAYA, AYOJATIM. COM – Aksara Jawa tak sekadar warisan masa lalu yang tersimpan dalam buku sejarah.
Sebuah lomba menulis aksara Jawa yang dijadwalkan akan berlangsung pada bulan Oktober 2026 didorong menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada masyarakat internasional.
Baca juga: MEC 2026 di Sumenep Jadi Ajang Pertemuan Raja Nusantara, Haji Her Sambut Kedatangan Para Tokoh Adat
Kegiatan tersebut dikemas tidak hanya dalam bentuk perlombaan. Rangkaian acara juga mencakup Sumpah atau Ikrar Budaya serta sarasehan bertema “Aksara Jawa Goes Digital”.
Sejumlah perwakilan negara sahabat yang berkantor di Surabaya direncanakan hadir. Kegiatan itu juga melibatkan profesor dari India serta lembaga pendidikan dari Jerman dan Belanda.
Konsep tersebut membawa pesan bahwa aksara tradisional tidak semestinya berhenti sebagai materi pelajaran atau simbol masa lalu.
Aksara Jawa dapat menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah, filosofi, nilai budaya dan perjalanan peradaban Nusantara kepada publik yang lebih luas.
Nuansa budaya juga diperkuat dengan rencana penggunaan busana daerah oleh peserta dan panitia.
Dengan cara itu, kegiatan tidak hanya menampilkan kemampuan menulis aksara Jawa, tetapi sekaligus menghadirkan identitas budaya dalam sebuah ruang perjumpaan lintas negara.
Penyelenggara mendorong aksara Jawa tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan derasnya pertukaran budaya global.
Tema “Aksara Jawa Goes Digital” menjadi salah satu upaya mempertemukan warisan tradisional dengan perkembangan zaman.
Baca juga: Bunkasai Japanese Fun Festival 2026, Ketika Generasi Muda Jawa Timur Jatuh Cinta pada Jepang
Surabaya dipilih sebagai ruang kegiatan karena kota ini memiliki perjalanan sejarah panjang dan menjadi salah satu pintu pertemuan berbagai budaya. Jejak aksara Jawa juga masih dapat ditemukan dalam sejumlah peninggalan sejarah di wilayah tersebut.
Melalui lomba, sarasehan dan ikrar budaya, kegiatan ini diharapkan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal aksara Jawa sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat internasional.
Pesannya sederhana, warisan budaya tidak cukup hanya disimpan dan dipuja. Ia harus dipelajari, digunakan, diperkenalkan, dan diberi ruang untuk berbicara di tengah perubahan zaman.
Editor : Amal Jaelani