ECOTON dan DLH Surabaya Latih Warga Pilah Sampah Lewat Kampung MOZAIK

Reporter : Muhammad Iffan Maulana
ECOTON, DLH Surabaya, dan Kelurahan Simokerto melatih warga memilah sampah melalui Kampung MOZAIK. Foto/Ecoton

SURABAYA, AYOJATIM.COM – Upaya mengurangi timbunan sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terus didorong di Kota Surabaya. 

ECOTON bersama Kelurahan Simokerto dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menggelar pelatihan hierarki pengelolaan sampah melalui program Kampung MOZAIK di Balai RW 10, Kelurahan Simokerto, Rabu (1/7/2026).

Baca juga: Kali Tebu Dulu Jadi Rumah Ikan, Kini Mikroplastik Mengintai Ekosistem Sungai

Program tersebut mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah sekaligus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. 

Langkah itu diharapkan mampu menekan volume sampah yang dibuang ke TPA sekaligus mengurangi pencemaran plastik di sungai dan perairan.

Pelatihan menghadirkan pemateri dari DLH Kota Surabaya dan ECOTON. Peserta mendapat pembekalan mengenai konsep hierarki pengelolaan sampah yang dimulai dari reduce, reuse, hingga recycle, serta pentingnya pemilahan sampah secara terdesentralisasi sejak dari sumber.

Sebelumnya, ECOTON juga menjalankan program evakuasi sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Tebu Surabaya dengan rata-rata sampah yang berhasil diangkat mencapai sekitar satu ton setiap hari.

Lurah Simokerto, Arief Insani, berharap Kampung MOZAIK mampu menjadi contoh kawasan yang bersih sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Kami ingin meniru negara-negara yang sudah berhasil menerapkan pemilahan sampah dari rumah tangga. Lingkungan yang bersih juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil pemilahan sampah," ujarnya.

Antusiasme juga datang dari warga yang mengikuti pelatihan. Sekar Ayu Lasmitari, peserta dari RW 05 Kelurahan Simokerto, menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci mengatasi persoalan sampah.

Baca juga: Sampah Australia Ancam Bayi Indonesia, Ecoton Serukan Aksi di Surabaya

"Saya bangga bisa ikut program ini karena membantu masyarakat mengurangi persoalan sampah. Tanpa kepedulian warga, tumpukan sampah di TPS akan terus bertambah. Semoga semakin banyak warga Surabaya yang mendukung gerakan pemilahan sampah," katanya.

Ketua Tim Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya, Sati'ah, mengatakan pelatihan dirancang agar para Kader Surabaya Hebat (KSH) tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan masing-masing.

"Peserta diharapkan memiliki keterampilan melakukan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga maupun komunitas. Dengan begitu, masyarakat dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien, efektif, dan berbasis komunitas," jelasnya.

Sementara itu, praktisi zero waste ECOTON, Tonis Afrianto, mengingatkan bahwa penerapan konsep 3R harus mengikuti urutan yang benar agar hasilnya maksimal.

"Pengelolaan sampah harus dimulai dari reduce, kemudian reuse, baru recycle atau pengomposan. Jika tahapan tersebut dijalankan secara konsisten, target mewujudkan kawasan bebas sampah akan lebih mudah dicapai," ujarnya.

Baca juga: Ecoton Desak Pembangunan Pagar Laut untuk Lindungi Mangrove dari Sampah Plastik

Persoalan sampah di kawasan perkotaan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Sistem yang selama ini bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan ke TPA dinilai tidak lagi memadai. 

Karena itu, perubahan perilaku melalui pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi salah satu strategi untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menekan beban TPA.

Melalui Kampung MOZAIK, ECOTON, Pemerintah Kota Surabaya, dan masyarakat berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mampu menciptakan lingkungan lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

 

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru