JAKARTA, AYOJATIM – Rumah produksi film Playvul NYRA membawa isu sosial seperti toxic masculinity, kultus modern, hingga kekerasan seksual terhadap perempuan ke panggung perfilman internasional melalui tiga film pendek, yakni More Pain, More Gain, Ambang Batas, dan Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa.
Ketiga film tersebut telah diputar dan berkompetisi di sejumlah festival film bergengsi, termasuk Fantasia International Film Festival, Tampere Film Festival, Balinale, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), hingga Short Shorts Film Festival & Asia di Tokyo.
Perjalanan tersebut memperkuat kiprah Playvul NYRA sebagai rumah produksi yang menghadirkan film dengan isu sosial yang dekat dengan realitas masyarakat.
Co-Director Playvul NYRA, Nadina Habsjah, mengatakan film pendek memberi ruang bagi kreator untuk menyampaikan keresahan secara lebih fokus sekaligus membangun kedekatan dengan penonton.
“Medium ini memungkinkan kami menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton. Melihat semakin banyaknya film pendek Indonesia yang mendapat tempat di festival internasional, kami percaya ada ruang yang semakin besar bagi cerita-cerita yang berani dan relevan untuk didengar di tingkat global,” ujarnya.
Co-Director Playvul NYRA, Yusgunawan Marto, menambahkan setiap film yang diproduksi berangkat dari keresahan terhadap persoalan nyata di masyarakat.
Menurutnya, film tidak harus selalu memberikan jawaban hitam-putih. Sebaliknya, cerita dapat menjadi ruang bagi penonton untuk memahami kompleksitas manusia sekaligus membuka percakapan mengenai persoalan yang selama ini sulit dibahas.
Raih Pengakuan di Festival Internasional
Perjalanan film-film Playvul NYRA di festival internasional juga menghasilkan sejumlah pencapaian.
More Pain, More Gain meraih penghargaan Winner Short Film Competition di Stockholm International Fantastic Film Festival dan Monsters of Film 2024. Film tersebut juga menjadi Official Selection di Fantasia International Film Festival 2025, Fantaspoa 2025, serta Lift-Off Global Network Berlin 2025.
Sementara Ambang Batas terpilih dalam dua festival Oscar-qualifying, yakni Tampere Film Festival melalui kompetisi Generation XYZ dan Balinale. Film tersebut juga diputar di Final Girls Berlin Film Festival, London International Fantastic Film Festival, Anatolia International Film Festival, dan Cyprus International Film Festival.
Adapun Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa meraih penghargaan Winner 2026 Tapestry of Indonesia Balinale dalam kategori Live-Action Asia International Competition. Film tersebut juga menjadi bagian dari Short Shorts Film Festival & Asia 2026 di Tokyo serta diputar di JAFF.
Ketiga film tersebut memperlihatkan keberanian Playvul NYRA mengeksplorasi beragam genre, mulai dari body horror satir hingga thriller psikologis.
Mengangkat Isu yang Sulit Dibicarakan
Di balik perbedaan genre, ketiga film memiliki benang merah berupa kegelisahan terhadap isu sosial yang kerap luput dari percakapan publik.
Penulis film, Amanda Simandjuntak, mengatakan salah satu tantangan terbesar adalah mengangkat isu consent dan kekerasan seksual secara bertanggung jawab.
“Menulis cerita tentang consent dan kekerasan seksual bukan hal yang mudah. Saya ingin penonton merasa dipahami, bukan dihakimi. Karena itu, proses riset dan diskusi panjang bersama tim menjadi fondasi penting agar cerita terasa jujur dan dekat dengan realitas banyak orang,” katanya.
Setelah melewati rangkaian festival internasional, Ambang Batas kini dapat disaksikan masyarakat secara gratis melalui kanal YouTube Playvul NYRA.
Produser Playvul NYRA, Muhammad Omar Azis, mengatakan langkah tersebut menjadi upaya untuk memperluas akses penonton terhadap film yang sebelumnya lebih banyak dinikmati melalui festival.
“Setelah menempuh rangkaian festival internasional, film Ambang Batas kini resmi hadir di kanal YouTube Playvul NYRA, sehingga karya yang sebelumnya hanya dapat disaksikan di festival kini dapat dinikmati masyarakat luas secara gratis,” ujarnya.
Kiprah Playvul NYRA juga hadir di tengah meningkatnya eksistensi film Indonesia di festival internasional. Berdasarkan riset Cinema Poetica, jumlah film Indonesia yang diputar di festival internasional meningkat dari 73 judul pada 2023 menjadi 126 judul pada 2025. Dari 48 penghargaan internasional yang diraih film Indonesia, 23 di antaranya diberikan kepada film fiksi pendek.
Ke depan, Playvul NYRA berkomitmen memperluas kolaborasi dengan komunitas film di Indonesia sekaligus mengembangkan karya dalam format feature film dan series.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Playvul NYRA untuk memperkuat kontribusinya terhadap ekosistem perfilman Indonesia dengan menghadirkan cerita yang beragam, relevan, dan memiliki perspektif sosial yang kuat.
Editor : Amal Jaelani