Pacu Visi 2045, APL Integrasikan Distribusi Digital di Sektor Kesehatan

Reporter : Ali Masduki
PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) mempercepat transformasi kesehatan RI lewat teknologi distribusi digital dan penguatan rantai pasok obat inovatif. Foto/APL

JAKARTA  - PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), entitas bagian dari Zuellig Pharma, tengah mengakselerasi pembenahan infrastruktur distribusi kesehatan nasional guna menjawab tantangan ketimpangan akses medis di wilayah kepulauan. 

Langkah ini menjadi krusial di tengah cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah menyentuh 98 persen populasi, namun masih terkendala hambatan logistik dan ketersediaan terapi inovatif.

Baca juga: Kontribusi ICMI Terhadap Agenda Percepatan Kualitas SDM Indonesia Emas

Perusahaan berupaya menutup celah tersebut dengan mengoperasikan National Distribution Center (NDC) yang mengadopsi standar global. 

Salah satu teknologi yang diandalkan adalah eZCooler, solusi pengemasan cold-chain yang menjamin suhu obat-obatan sensitif, seperti vaksin dan insulin, tetap stabil hingga ke tangan pasien di pelosok.

Direktur Utama APL, Christophe Piganiol, menyatakan bahwa hak warga negara untuk mendapatkan layanan medis berkualitas harus didukung oleh ketahanan rantai pasok. 

"Kami bekerja sama dengan mitra di seluruh ekosistem untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sinergi dengan prinsipal global memungkinkan kami membawa praktik terbaik dan teknologi mutakhir ke pasar Indonesia agar perawatan pasien lebih optimal," ujar Christophe dalam pertemuan media di Jakarta.

Selain infrastruktur fisik, APL mulai mengintegrasikan sistem visibilitas digital untuk memantau suhu secara real-time di seluruh jaringan cabang. 

Penggunaan data analitik cerdas diaplikasikan untuk memastikan stok obat tersedia secara presisi, sehingga meminimalisir risiko kelangkaan di fasilitas kesehatan.

Baca juga: Bonus Demografi, Rangkap Jabatan Pejabat dan Visi Indonesia Emas 2045

Transformasi ini juga diarahkan untuk menangani pergeseran pola penyakit di Indonesia, khususnya lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, kanker, dan gangguan kardiovaskular. 

APL kini tidak hanya berperan sebagai distributor, tetapi juga menjadi jembatan bagi perusahaan farmasi global untuk meluncurkan terapi inovatif di dalam negeri.

Hingga saat ini, perusahaan telah mengedukasi lebih dari 22.000 tenaga kesehatan mengenai perkembangan medis terbaru. Langkah ini diambil guna memastikan para dokter dan perawat memiliki pemahaman mendalam terhadap metode pengobatan terbaru yang masuk ke pasar domestik.

Dari sisi dampak sosial, sepanjang tahun 2025, APL tercatat mengeksekusi 68 program akses kesehatan yang menyasar ribuan penerima manfaat. 

Baca juga: Jejak Panjang ICMI: Dari Soeharto, Habibie, Hingga Harapan di Era Prabowo

Perusahaan juga mulai membidik penguatan literasi kesehatan sejak dini lewat program edukasi gizi dan kebersihan ke lebih dari 2.700 siswa sekolah.

Di level inovasi, APL menjaring lebih dari 130 ide keberlanjutan dari mahasiswa di 52 perguruan tinggi. Inisiatif ini dirancang untuk menciptakan talenta lokal yang mampu mengelola sistem kesehatan masa depan secara lebih mandiri.

"Kami memandang transformasi ini sebagai maraton, bukan lari cepat. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk membangun ekosistem yang lebih tangguh dan inklusif demi mencapai target Indonesia Emas 2045," pungkas Christophe.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru