Mahasiswa ISTTS Terpilih sebagai Google Student Ambassador 2025

Reporter : Muhammad Iffan Maulana
Trevis Artagrantdy Kurniawan, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. Foto/Muhammad Iffan Maulana

SURABAYA - Mahasiswa Program Studi Informatika Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS), Trevis Artagrantdy Kurniawan, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. 

Mahasiswa semester enam ini menjadi salah satu perwakilan kampus yang dipercaya untuk mengenalkan serta mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi Google, khususnya kecerdasan buatan (AI).

Baca juga: Kreativitas di Balik Teknologi: Kisah Lexi, Mahasiswi Institut STTS yang Direkrut Google

Trevis mengungkapkan, keikutsertaannya dalam program Google Student Ambassador bermula tanpa perencanaan matang. 

Ia mengaku awalnya hanya mengikuti ajakan salah satu dosen sekaligus Google Developer Expert, Prof. Esther, untuk mendaftar melalui formulir daring.

“Awalnya benar-benar iseng daftar, tidak ada ekspektasi apa pun. Setelah itu diminta membuat konten Instagram pertama tentang pengenalan Gemini. Sempat tidak ada kabar, lalu tiba-tiba dapat email dinyatakan diterima sebagai Google Student Ambassador 2025,” ujar Trevis saat diwawancarai, Sabtu (21/02/2025).

Program Google Student Ambassador merupakan inisiatif dari Google yang melibatkan mahasiswa terpilih dari berbagai universitas untuk menjadi penghubung antara teknologi Google dan komunitas kampus maupun masyarakat luas. 

Trevis resmi bergabung sejak semester lima dan telah menjalani peran tersebut selama sekitar satu tahun.

Sebagai GSA, Trevis memiliki tanggung jawab untuk memahami dan mempelajari berbagai produk Google, terutama teknologi berbasis AI yang tengah berkembang pesat. 

Menurutnya, masih banyak pengguna yang belum mengeksplorasi fitur-fitur AI secara optimal, padahal teknologi tersebut dapat sangat membantu aktivitas belajar dan bekerja.

“Tugas utama kami adalah memastikan diri kami paham betul produk Google. Banyak fitur AI yang sebenarnya bisa sangat membantu, tapi belum banyak diketahui orang,” katanya.

Baca juga: Hebat! Mahasiswa Semester Awal ISTS Lolos Program Google Student Ambassador

Namun, peran tersebut tidak lepas dari tantangan. Trevis mengaku harus membagi waktu antara perkuliahan dan riset teknologi. 

Selain itu, ia juga menghadapi tantangan personal karena sifatnya yang introvert dan tidak terbiasa tampil di depan kamera untuk membuat konten digital.

“Awalnya tidak nyaman, tapi pelan-pelan belajar. Kadang minta bantuan teman, lalu perlahan improve diri,” ujarnya.

Dalam bidang keilmuan, Trevis saat ini memfokuskan diri pada pengembangan aplikasi mobile dan kecerdasan buatan. 

Ia menilai pengalaman sebagai GSA memberikan manfaat besar, terutama dalam membangun personal branding dan memperluas jejaring antaruniversitas.

Baca juga: Xiaomi Siapkan HyperOS 3, Ambisi Satukan HP, Mobil, dan Rumah di 2026

“Secara ekonomi mungkin ada peluang yang datang, tapi yang paling penting adalah dampak sosialnya. Bisa berbagi ilmu dan memengaruhi orang ke arah yang positif,” tuturnya.

Trevis juga menyoroti pentingnya literasi AI di masyarakat. Menurutnya, salah satu harapan Google terhadap para ambassador adalah mengubah pola pikir masyarakat yang masih menolak penggunaan AI.

“Kita tidak bisa menghindari AI. Yang perlu dilakukan adalah berteman dengan AI sebagai co-pilot, bukan menganggapnya ancaman,” kata Trevis.

Selama menjalani peran sebagai Google Student Ambassador, Trevis mengaku merasakan kebanggaan karena dapat mewakili Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya di tingkat nasional. Meski demikian, ia menyadari tanggung jawab besar untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.

“Ada rasa bangga, tapi juga tanggung jawab untuk terus menggali ilmu,” pungkasnya.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru