Hikmah : Hari ke-2 Ramadlan

Ramadhan: Etika Konsumsi dan Latihan Kendali Diri

ayojatim.com
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I, Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura (UTM). Foto : Dok-pribadi

Ramadhan sejatinya adalah laboratorium pengendalian diri paling intens dalam setahun. Sejak fajar hingga magrib, manusia dilatih menunda kebutuhan paling dasar: makan dan minum.

Dari sini kita belajar satu prinsip penting dalam psikologi perilaku: delay of gratification menahan kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi.

Baca juga: Ramadhan dan Rekonstruksi Ekonomi Berbasis Tauhid

Namun persoalan muncul ketika latihan spiritual ini berhenti pada aspek ritual. Banyak orang mampu berpuasa seharian, tetapi gagal mengelola hasrat setelah berbuka.

Meja makan berlimpah, porsi berlebih, dan belanja impulsif sering dianggap “hadiah” setelah menahan lapar. Padahal, jika puasa tidak melahirkan disiplin konsumsi, maka Ramadhan kehilangan daya transformasinya.

Dalam pendekatan yang mirip dunia medis, kita bisa mengatakan: problem utama ekonomi umat hari ini bukan hanya sistem pasar, tetapi lemahnya self-control. Seperti pasien yang tahu bahaya kolesterol namun tetap makan berlebihan, manusia modern kerap memahami nilai kesederhanaan tetapi sulit mempraktikkannya.

Puasa datang sebagai terapi tahunan untuk mengobati kecanduan konsumsi.

Di sinilah relevansi pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali menjadi sangat aktual. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, beliau tidak memulai pembahasan dari pasar atau harga, melainkan dari hati manusia sebagai pusat keputusan ekonomi.

Al-Ghazali menegaskan bahwa akar dari berbagai penyimpangan perilaku adalah keterikatan berlebihan pada dunia:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. (Ihya’ ‘Ulum al-Din, Jilid III, Kitab Kasr al-Shahwatayn, cet. Dar al-Ma‘rifah Beirut, hlm. ±87)

Namun Al-Ghazali tidak berhenti pada slogan. Ia menjelaskan lebih spesifik bahwa makanan dan syahwat perut merupakan pintu utama kerusakan jiwa:

> فَإِنَّ الْبَطْنَ أَصْلُ الشَّهَوَاتِ، وَمِنْهُ يَتَشَعَّبُ الْفَرْجُ وَالْيَدُ وَاللِّسَانُ وَالْعَيْنُ

Baca juga: Menata Hati dan Harta: Literasi Keuangan Menjelang Ramadhan

“Sesungguhnya perut adalah asal berbagai syahwat; darinya bercabang dorongan seksual, tangan, lisan, dan pandangan.”(Ibid., hlm. ±89)

Artinya, bagi Al-Ghazali, pengendalian konsumsi bukan sekadar etika makan—melainkan fondasi pengendalian seluruh perilaku manusia. Jika perut tidak didisiplinkan, maka organ lain ikut liar. Sebaliknya, bila makan dijaga, jiwa menjadi jinak.

Lebih jauh, Al-Ghazali menyebut dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana:

> الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَهِيَ وَسِيلَةٌ لَا غَايَةٌ

“Dunia adalah ladang akhirat; ia adalah wasilah (sarana), bukan tujuan.” (Ihya’, Jilid IV, Kitab Dhamm al-Dunya, hlm. ±12)

Inilah kerangka etik konsumsi Islam: makan secukupnya, belanja seperlunya, dan menggunakan harta sebagai alat mendekat kepada Allah—bukan sebagai pusat kehidupan.

Baca juga: Petasan Ramadhan 2026 di éL Hotel Malang, Sensasi Buka Puasa Meriah Mulai Rp75 Ribu

Jika Hari ke-1  kita berbicara tentang koreksi paradigma ekonomi, maka Hari ke-2 ini mengajak pembaca masuk ke ruang paling personal: dapur, piring makan, dan keranjang belanja.

Revolusi ekonomi Islam tidak dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keberanian menakar nasi di piring sendiri.

Ramadhan mengajari kita bahwa manusia bisa hidup dengan lebih sedikit. Dan ketika kesadaran itu dibawa keluar dari bulan puasa, lahirlah etika konsumsi: tidak berlebih, tidak mubazir, dan selalu sadar tujuan. Dari sinilah ekonomi tauhid bertumbuh bukan dari kemewahan, tetapi dari kendali diri.

 

Oleh : Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I

Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru