Oleh: Ulul Albab
Ketua Litbang DPP Amphuri
Ketua ICMI Jawa Timur
ADA satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan kepada diri sendiri menjelang Ramadhan: “jika Allah membuka kesempatan ibadah yang lebih ringan, lebih nyaman, dan lebih mulia, mengapa kita justru menundanya?”
Baca juga: Uzbekistan dan Diplomasi Pariwisata Ziarah Dunia Islam
Ramadhan tahun ini, menghadirkan momentum yang berbeda bagi umat Islam yang merindukan Baitullah. Banyak orang masih membayangkan umrah Ramadhan sebagai perjalanan yang berat: panas, melelahkan, dan penuh tantangan fisik. Padahal, kabar gembiranya adalah tahun ini kondisi justru menunjukkan sesuatu yang sebaliknya.
Ramadhan tahun ini datang ketika Arab Saudi masih berada pada fase musim sejuk menuju awal musim semi. Suhu udara relatif bersahabat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang jatuh pada puncak musim panas. Ini bukan sekadar soal kenyamanan fisik.
Cuaca yang lebih sejuk pastinya akan menghadirkan ruang ibadah yang lebih khusyuk: thawaf terasa lebih ringan, sa’i lebih tenang, dan ibadah malam lebih panjang tanpa beban panas berlebih.
Di sisi lain, durasi puasa di Mekkah dan Madinah tahun ini juga tergolong moderat. Durasi puasa di Arab Saudi pada awal Ramadhan berkisar ±12 jam 45 menit, dan di akhir Ramadhan sekitar 13 jam 20 menit.
Siang hari yang tidak terlalu panjang memberi kesempatan jamaah menjaga stamina, memperbanyak tilawah, serta menjalani rangkaian ibadah dengan energi yang lebih stabil.
Banyak jamaah yang pernah merasakan Ramadhan di Tanah Suci mengakui bahwa keseimbangan antara waktu ibadah dan istirahat menjadi kunci kekhusyukan. Namun sesungguhnya, alasan terbesar bukanlah faktor cuaca atau durasi puasa. Yang lebih mendalam adalah makna spiritual yang Allah janjikan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji bersama beliau. Hadis ini bukan sekadar motivasi emosional, tetapi pesan yang menggetarkan: yaitu ada peluang pahala yang luar biasa besar yang tidak hadir di bulan lain.
Baca juga: Menempatkan Judicial Review pada Jalur Konstitusi Bukan Soal Bisnis, Tapi Tanggung Jawab Negara
Seringkali orang menunda dengan alasan klasik: menunggu waktu yang lebih longgar, kondisi ekonomi yang lebih mapan, atau kesiapan hati yang lebih sempurna.
Padahal, sejarah hidup manusia menunjukkan bahwa kesiapan sempurna hampir tidak pernah datang. Justru langkah kecil menuju ibadah sering menjadi awal perubahan besar dalam hidup seseorang.
Ramadhan di Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik menuju Ka’bah. Tetapi adalah perjalanan batin menuju ketenangan.
Ketika jutaan manusia berbuka puasa bersama di pelataran Masjid Nabawi, ketika lantunan Al-Qur’an menggema sepanjang malam di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, dan ketika air mata jatuh di antara doa-doa yang dipanjatkan, maka di situlah banyak hati menemukan kembali makna hidup yang selama ini terasa hilang di tengah hiruk pikuk dunia.
Baca juga: Iftar Ramadhan Midtown Residence Surabaya Hadirkan Akulturasi Rasa dan Budaya
Bagi sebagian orang, keputusan berangkat umrah Ramadhan mungkin terasa berat. Tetapi barangkali yang perlu diubah bukanlah kemampuan, melainkan cara pandang.
Jika kita paham betul keutamaan umrah Ramadhan, maka Umrah Ramadhan bukan perjalanan mahal, tetapi sebuah perjalanan investasi ruhani yang dampak dan pahalanya justru melampaui hitungan materi, berapapun itu.
Tahun ini, dengan kondisi yang lebih kondusif, cuaca yang lebih sejuk, durasi siang hari puasa yang bersahabat, dan atmosfer spiritual yang begitu kuat, maka Ramadhan seakan datang membawa pesan yang tidak tersurat namun tersirat, yaitu: “kesempatan itu kini sedang terbuka.”
Maka mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang kepada diri sendiri, bukan “mengapa harus umrah?”, tetapi “mengapa tidak?” Siapa tahu, Ramadhan di Tanah Suci bukan hanya mengubah satu bulan dalam hidup kita, tetapi mengubah arah hidup kita selamanya.
Editor : Alim Perdana