BANYUWANGI, AYOJATIM.COM – Pasangan yang menjalani program kehamilan di Banyuwangi kini memiliki akses lebih dekat terhadap layanan fertilitas dan program bayi tabung.
Morula IVF Indonesia menghadirkan skema kolaborasi dengan RSI Fatimah Banyuwangi untuk memangkas jarak, waktu, serta biaya yang harus dikeluarkan pasien selama menjalani program in vitro fertilization (IVF).
Skema tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Morula Goes to Banyuwangi bertajuk “Bersama Menemukan Jalan Menuju Buah Hati” yang digelar di Aston Hotel Banyuwangi, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan 28 tahun Morula IVF Indonesia melalui kampanye “28 Years of Delivering Hope”. Selain memberikan edukasi mengenai fertilitas, kegiatan menghadirkan sejumlah dokter dan pakar untuk membuka konsultasi bagi pasangan yang sedang menjalani maupun merencanakan program kehamilan.
Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Morula IVF Surabaya, Budi Santoso, mengatakan kolaborasi dengan fasilitas kesehatan di Banyuwangi dirancang untuk membuat rangkaian program IVF lebih efisien bagi pasien.
Menurut Budi, program IVF memiliki sekitar tujuh tahapan utama. Melalui skema layanan terpadu tersebut, empat tahapan awal dapat dilakukan di Banyuwangi, sementara tindakan laboratorium inti tetap dikerjakan di Surabaya.
“Dalam program IVF ada sekitar tujuh tahapan utama. Lewat skema kolaborasi terpadu ini, sebanyak empat tahapan awal seperti konsolidasi, pemeriksaan awal, hingga persiapan stimulasi bisa dilakukan di RSI Fatimah Banyuwangi. Baru untuk tindakan laboratorium inti dilakukan di Surabaya,” jelas Budi.
Pola layanan tersebut membuat pasien tidak harus berulang kali melakukan perjalanan ke Surabaya sejak tahap awal. Selain memangkas kebutuhan perjalanan, skema tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya logistik sekaligus meringankan beban fisik dan psikologis pasien.
Bagi pasangan yang tengah menjalani program kehamilan, efisiensi tersebut menjadi faktor penting karena proses IVF membutuhkan serangkaian pemeriksaan dan tindakan dalam periode tertentu.
PGT-A Jadi Bagian dari Teknologi Program IVF
Selain kemudahan akses, teknologi medis juga menjadi bagian penting dalam layanan fertilitas yang dikenalkan Morula IVF di Banyuwangi.
Salah satunya adalah Pre-implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A), yakni pemeriksaan kromosom pada embrio dalam rangkaian program bayi tabung.
Budi menyebut penggunaan PGT-A dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan. Menurutnya, angka keberhasilan dapat berada di kisaran 70 hingga 77 persen, bergantung pada kondisi dan karakteristik masing-masing pasien.
Di sisi lain, persoalan infertilitas masih menjadi tantangan bagi pasangan usia subur. Budi memperkirakan angka infertilitas berada pada kisaran 10 hingga 15 persen.
Penanganannya pun membutuhkan pemeriksaan secara menyeluruh. Faktor kesuburan tidak hanya berasal dari perempuan, tetapi juga dapat berkaitan dengan kondisi reproduksi pria.
Karena itu, penanganan infertilitas melibatkan sejumlah disiplin ilmu. Selain dokter spesialis obstetri dan ginekologi, pasien dapat membutuhkan dokter spesialis andrologi untuk mengevaluasi faktor kesuburan pria.
Dalam program bayi tabung, embriolog juga memiliki peran penting dalam proses pengelolaan dan evaluasi embrio sebelum memasuki tahapan berikutnya.
Pendekatan multidisiplin tersebut memungkinkan kondisi pasangan diperiksa secara lebih komprehensif sehingga pilihan penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Banyuwangi Berpeluang Kembangkan Health Tourism
Penguatan layanan fertilitas di Banyuwangi juga dinilai memiliki potensi lebih luas bagi pengembangan sektor kesehatan daerah.
Dokter spesialis andrologi Taufiq Hidayat mengatakan semakin lengkapnya layanan kesehatan reproduksi di Banyuwangi dapat membuka peluang bagi daerah tersebut untuk mengembangkan health tourism.
Menurut Taufiq, masyarakat Banyuwangi dan daerah sekitar kini tidak selalu harus menuju kota besar untuk mendapatkan layanan kesehatan reproduksi.
“Apabila ini menjadi prioritas daerah, kami sangat siap mendukung. Sebagian besar tahapan program kehamilan maupun penanganan kesehatan reproduksi pria kini sudah dapat dikerjakan langsung di Banyuwangi,” katanya.
Menurut dia, kolaborasi antara fasilitas kesehatan daerah dengan pusat layanan fertilitas dapat menjadi fondasi untuk membangun ekosistem layanan kesehatan reproduksi yang lebih kuat.
Keberadaan layanan medis yang semakin lengkap juga berpotensi mendatangkan pasien dari luar daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor kesehatan, tetapi dapat merambah kebutuhan akomodasi, transportasi, kuliner, hingga sektor jasa lainnya.
Dengan begitu, pengembangan health tourism Banyuwangi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Gelaran Morula Goes to Banyuwangi menjadi bagian dari perjalanan 28 tahun Morula IVF Indonesia dalam memberikan layanan fertilitas di Indonesia.
Morula IVF Indonesia merupakan bagian dari PT Bundamedik Tbk (BMHS) yang berfokus pada layanan fertilitas dan program bayi tabung. Selama perjalanan tersebut, Morula IVF telah membantu puluhan ribu pasangan suami istri dalam menjalani program untuk mendapatkan buah hati.
Layanan tersebut didukung teknologi reproduksi berbantu, termasuk PGT-A, serta tim medis yang terdiri dari berbagai bidang keahlian.
Dalam kegiatan di Banyuwangi, peserta juga mendapatkan sejumlah fasilitas dan program khusus, seperti kesempatan memperoleh grand prize program IVF, konsultasi langsung dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, USG transvaginal, hingga kesempatan mendapatkan fasilitas PGT-A untuk satu embrio.
Morula IVF juga memberikan penawaran khusus bagi peserta untuk program IVF.
Melalui perluasan edukasi dan layanan tersebut, Morula IVF berharap pasangan di Banyuwangi dan wilayah sekitarnya memiliki akses informasi yang lebih baik sebelum menentukan program kehamilan.
Kehadiran layanan fertilitas yang semakin dekat juga memberikan pilihan bagi pasangan untuk mendapatkan pendampingan medis tanpa harus menghadapi perjalanan jauh sejak tahap awal.
Bagi Banyuwangi, langkah tersebut tidak hanya menghadirkan akses baru dalam layanan kesehatan reproduksi, tetapi juga membuka peluang untuk membangun daerah sebagai salah satu tujuan health tourism dengan layanan fertilitas sebagai salah satu potensinya.
Editor : Amal Jaelani