JOMBANG — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, yang akan berlangsung dalam waktu dekat, harus dimaknai lebih dari sekadar ritual organisasi lima tahunan.
Muktamar ini dinilai menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah perjalanan memasuki abad kedua.
Pakar komunikasi dan konsultan branding terkemuka di Indonesia, Gus Ipang Wahid, menilai pemilihan Tambakberas Jombang sebagai lokasi Muktamar memiliki makna historis yang sangat kuat.
Jombang merupakan salah satu tanah kelahiran NU dan tempat yang lekat dengan jejak perjuangan para pendiri organisasi.
Menurutnya, kembali ke Jombang tidak semestinya dimaknai sebagai nostalgia terhadap masa lalu.
Sebaliknya, Jombang harus menjadi titik pijak untuk melakukan lompatan menuju masa depan.
“Ini bukan sekadar kembali ke akar untuk bernostalgia. Kembali ke Jombang harus menjadi momentum untuk melompat lebih jauh. Seratus tahun lalu para kiai berkumpul merespons tantangan zamannya. Hari ini tantangannya berbeda, tetapi sama-sama menentukan masa depan umat,” ujar Gus Ipang Wahid, dalam Workshop Pengasuh Pesantren Nasional seluruh kawasan Indonesia Tengah dan Timur di Joglo Agung Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia, Cirebon, Jumat (7/8/2026).
Cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy;ari ini menyebut tantangan NU pada abad kedua semakin kompleks.
Jika pada awal berdirinya NU berhadapan dengan kolonialisme dan gejolak politik dunia, generasi NU hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dan tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Algoritma digital, disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kapitalisme global, perubahan lanskap ekonomi, hingga pergeseran otoritas keagamaan dari ruang-ruang tradisional menuju layar gawai menjadi tantangan baru yang harus direspons NU.
“Musuhnya sekarang tidak selalu terlihat. Ada di dalam kantong setiap orang: algoritma digital, kecerdasan buatan, kapitalisme global, dan pergeseran otoritas keagamaan ke layar gawai. Karena itu, cara NU merespons zaman juga tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama seperti satu abad lalu,” katanya.
Relevansi NU Ditentukan oleh Kualitas SDM
Gus Ipang menilai agenda Muktamar ke-35 tidak boleh berhenti pada dinamika pergantian kepemimpinan maupun perdebatan yang bersifat rutin.
Lebih dari itu, Muktamar harus mampu melahirkan gagasan besar mengenai relevansi NU di tengah perubahan dunia.
Menurutnya, salah satu jangkar utama relevansi NU pada abad kedua adalah transformasi pesantren dan pencetakan sumber daya manusia (SDM) unggul.
“Pesantren adalah DNA-nya NU. Kalau pesantrennya layu, NU ikut layu. Tetapi kalau pesantrennya bertransformasi, NU punya peluang besar untuk memimpin peradaban,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pesantren pada masa lalu tidak dapat sepenuhnya dijadikan ukuran untuk menghadapi masa depan.
Kemampuan membaca kitab kuning, menguasai nahwu-sharaf, serta memiliki kedalaman ilmu agama tetap menjadi fondasi penting.
Namun, di tengah perubahan zaman, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan kompetensi baru.
“Santri harus tetap mutqin dalam ilmu agama. Tetapi itu baru modal dasar. Fardhu kifayah peradaban kita adalah bagaimana santri menguasai sains, teknologi, ekonomi global, bahasa internasional, dan berbagai kompetensi yang dibutuhkan dunia,” jelasnya.
Karena itu, menurut Gus Ipang, pesantren tidak boleh hanya menjadi tempat reproduksi pengetahuan masa lalu. Pesantren harus berkembang menjadi pusat inovasi dan laboratorium kemajuan.
“Pesantren harus menjadi laboratorium kemajuan, bukan museum masa lalu. Kita tidak bisa menghadapi masa depan dengan metodologi masa lalu yang statis,” ujarnya.
Bina Insan Mulia sebagai Contoh Transformasi
Dalam konteks transformasi tersebut, Gus Ipang menyoroti praktik pendidikan di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon yang diasuh oleh Kiai Imam Jazuli.
Menurutnya, Bina Insan Mulia dapat menjadi salah satu contoh bagaimana pesantren merespons perubahan zaman tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Di pesantren tersebut, menurut Gus Ipang, pengajaran ilmu-ilmu keislaman tetap menjadi fondasi.
Namun, pada saat yang sama, santri didorong untuk memiliki wawasan global, menguasai bahasa asing, teknologi, serta memiliki orientasi pendidikan hingga ke universitas-universitas terbaik dunia.
“Di Bina Insan Mulia, nahwu-sharaf tetap diajarkan. Tetapi santri juga disiapkan untuk menembus universitas-universitas terbaik di dunia, baik di Timur Tengah maupun Eropa. Kurikulumnya fleksibel, berwawasan global, dan adaptif,” katanya.
Ia menilai model transformasi seperti itu tidak sekadar berkaitan dengan pembangunan fasilitas fisik pesantren.
Transformasi yang dibutuhkan jauh lebih mendasar, yakni perubahan cara pandang terhadap pendidikan, pengetahuan, dan masa depan santri.
“Ini bukan sekadar modernisasi fisik, misalnya mengganti gedung bambu menjadi beton. Yang lebih penting adalah transformasi epistemologis dan mentalitas,” ujar Gus Ipang.
Muktamar Perlu Melahirkan Blueprint Nasional
Gus Ipang berharap gagasan transformasi pesantren menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas dalam Muktamar ke-35 NU.
Menurutnya, Muktamar Jombang harus mampu melahirkan cetak biru nasional pengembangan SDM unggul berbasis pesantren. Blueprint tersebut diperlukan agar transformasi pesantren tidak berjalan sporadis, melainkan menjadi gerakan bersama yang memiliki arah dan target jangka panjang.
“Kita membutuhkan jutaan santri yang fasih membaca kitab, sekaligus lihai coding, memahami geopolitik, menguasai ekonomi makro, memiliki kemampuan bahasa internasional, dan mampu berkompetisi di tingkat global,” tuturnya.
Ia menambahkan, NU tidak cukup hanya berbangga dengan besarnya jumlah warga dan jamaah. Modal sosial yang besar harus dikonversi menjadi kekuatan sumber daya manusia yang berkualitas.
“Social capital NU yang sangat besar harus dikonversi menjadi human capital yang kompetitif. Kuantitas tanpa kualitas justru bisa menjadi beban sejarah,” katanya.
Karena itu, ia berharap Muktamar ke-35 tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga meletakkan fondasi pembangunan generasi NU untuk beberapa dekade mendatang.
“Kalau Muktamar Jombang berhasil merumuskan langkah taktis untuk meningkatkan mutu pendidikan pesantren, saya kira itu akan menjadi warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar keputusan-keputusan administratif organisasi,” ujarnya.
Keluar dari Pusaran Politik Praktis
Gus Ipang juga mengingatkan agar energi Muktamar tidak habis dalam persaingan politik internal maupun kepentingan jangka pendek.
Menurutnya, Muktamar harus menjadi ruang transaksi gagasan, bukan sekadar transaksi kekuasaan.
“Jombang harus menjadi panggung di mana transaksi gagasan peradaban mengalahkan transaksi kekuasaan jangka pendek,” tegasnya.
Ia menilai energi besar NU seharusnya diarahkan untuk memikirkan masa depan generasi muda, terutama bagaimana memastikan anak-anak muda NU mampu menjadi pemain utama dalam berbagai sektor strategis.
“Sudah saatnya energi raksasa organisasi ini lebih banyak dihabiskan untuk memikirkan masa depan generasi muda NU, bukan melanggengkan persaingan faksional,” katanya.
Menurutnya, tantangan abad kedua menuntut keberanian NU untuk berpikir melampaui rutinitas organisasi. NU harus mulai membangun ekosistem yang memungkinkan santri masuk dan berkiprah di berbagai bidang strategis, mulai dari teknologi, ekonomi, pendidikan, diplomasi, sains, hingga industri kreatif.
Menjaga Tradisi, Mengambil Inovasi
Gus Ipang menegaskan bahwa transformasi pesantren tidak berarti meninggalkan identitas ke-NU-an. Justru, menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman merupakan bagian dari cara menjaga warisan intelektual para ulama NU.
Prinsip al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan abad kedua.
“Menjaga tradisi lama yang baik hari ini berarti memperkokoh tauhid, akhlak, dan khazanah keilmuan pesantren. Tetapi pada saat yang sama, kita harus berani mengambil hal baru yang lebih baik melalui penguasaan sains, kecerdasan buatan, teknologi, dan diplomasi internasional,” jelasnya.
Ia membayangkan dalam satu atau dua dekade mendatang, lahir dari rahim pesantren para ahli AI kelas dunia, diplomat yang berkiprah di Perserikatan Bangsa-Bangsa, ekonom, ilmuwan, inovator teknologi, hingga pemimpin industri global.
Mereka, kata dia, bukan generasi yang tercerabut dari tradisi. Sebaliknya, mereka adalah generasi yang mampu menggabungkan kedalaman keislaman dengan kompetensi global.
“Bayangkan jika satu atau dua dekade dari sekarang para ahli AI terkemuka, diplomat ulung di PBB, inovator teknologi dunia, dan pemimpin ekonomi global lahir dari rahim pesantren. Mereka adalah anak-anak muda yang mutqin membaca kitab turats, tetapi juga fasih menentukan arah kebijakan digital global,” katanya.
Dalam konteks itulah, Gus Ipang melihat konsep Islam rahmatan lil 'alamin dapat diwujudkan secara lebih konkret.
Nilai tersebut tidak berhenti sebagai jargon dalam mimbar keagamaan, tetapi hadir dalam kontribusi nyata umat Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.
“Di situlah Islam rahmatan lil 'alamin tidak lagi berhenti sebagai jargon mimbar, tetapi benar-benar hadir dalam aksi nyata,” ujarnya.
Jombang dan Momentum Abad Kedua
Gus Ipang berharap Muktamar ke-35 di Jombang dapat menjadi titik penting bagi NU dalam menentukan arah perjalanan abad keduanya.
Menurutnya, momentum tersebut tidak boleh berlalu sebagai perayaan seremonial tanpa menghasilkan perubahan substantif.
“Lonceng pergantian zaman sudah berbunyi nyaring dari rahim Jombang. Muktamar ke-35 tidak boleh berlalu begitu saja sebagai perayaan seremonial tanpa bekas yang substantif,” katanya.
Ia menyebut Muktamar Jombang sebagai momentum now or never bagi NU untuk menentukan posisi dalam percaturan peradaban global.
“NU harus memilih: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua atau bangkit mengambil peran sebagai sutradara peradaban dunia,” tegas Gus Ipang.
Ia optimistis pesantren memiliki modal sosial, kultural, spiritual, dan intelektual yang sangat besar untuk memainkan peran tersebut.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan transformasi secara terencana dan berkelanjutan.
“Sudah saatnya Jombang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru dunia: NU siap memimpin masa depan dengan iman di dada, sains di kepala, dan dunia di genggaman,” pungkasnya.
Editor : Diday Rosadi