SURABAYA, AYOJATIM.COM - Lulusan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan kiprah di panggung internasional. Apt. Muhamad Cursor Rafidian, S.Farm., kini dipercaya memimpin Orange Kalbe Ltd di Nigeria sebagai Plant Head, perusahaan hasil kolaborasi Kalbe Farma Indonesia dengan Orange Drugs Ltd.
Karier tersebut menjadi bukti bahwa lulusan farmasi Indonesia memiliki peluang besar berkarier di industri kesehatan global.
Cursor menempuh pendidikan Sarjana Farmasi di UNAIR pada 2005, lalu menyelesaikan Program Profesi Apoteker pada 2009.
Selama lebih dari 15 tahun berkecimpung di industri farmasi, ia mengasah kemampuan di bidang quality assurance, manufaktur, supply chain, kepatuhan terhadap Good Manufacturing Practice (GMP), hingga manajemen operasional pabrik.
Pengalaman itu mengantarkannya memimpin sejumlah proyek penting di Nigeria. Salah satunya meningkatkan fasilitas produksi obat sediaan padat agar memenuhi standar GMP hingga memperoleh sertifikasi dari National Agency for Food and Drug Administration and Control (NAFDAC), lembaga pengawas obat dan makanan Nigeria.
Tak hanya itu, Cursor juga memimpin pembangunan fasilitas Liquid Line yang mendukung proses alih teknologi produk sekaligus mengantarkan fasilitas tersebut meraih sertifikasi GMP.
Meski berkarier di luar negeri, hubungan dengan almamater tetap terjaga. Ia beberapa kali kembali berbagi pengalaman kepada mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR melalui kuliah tamu, termasuk pada mata kuliah Teknologi Sediaan Solida.
Dalam berbagai kesempatan, Cursor juga membahas transformasi industri farmasi, terutama penerapan digitalisasi dan konsep Pharma 4.0 yang mulai diterapkan di berbagai negara.
Kepemimpinannya turut membawa Orange Kalbe Ltd meraih penghargaan Best-Kept Industrial Premises Competition 2025 dari Manufacturing Association of Nigeria.
Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang dinilai berhasil menerapkan pengelolaan fasilitas industri secara baik.
Menurut Cursor, seorang apoteker harus terus mengembangkan kemampuan di luar aspek akademik agar mampu bersaing di tingkat global.
"Peran apoteker sangat luas. Berikan kontribusi terbaik di mana pun kita berkarya. Integritas harus menjadi pegangan. Jangan hanya menguasai teori, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, problem solving, digital mindset, dan kemampuan beradaptasi. Jadilah apoteker yang profesional, beretika, serta terbuka terhadap perubahan," ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.
"Biasakan memandang masalah sebagai peluang. Kalau hanya dianggap masalah, kita akan lebih banyak mengeluh. Sebaliknya, ketika melihatnya sebagai peluang, kita terdorong mencari solusi, belajar, dan terus berkembang," katanya.
Perjalanan Muhamad Cursor Rafidian memperlihatkan bahwa lulusan farmasi Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Bekal kompetensi, integritas, dan kemauan belajar menjadi modal penting untuk berkontribusi dalam pengembangan industri kesehatan di berbagai belahan dunia.
Editor : Alim Perdana