ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Krisis Literasi Indonesia: Kita Membaca Seperti Kucing Thorndike di Era Algoritma

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Zahrudin Afnan (Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya dan Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA). Foto: Dok-Ayojatim
Muhammad Zahrudin Afnan (Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya dan Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA). Foto: Dok-Ayojatim

OPINI - ...... Literasi akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bahan bacaan, melainkan oleh sejauh mana masyarakat memiliki kesadaran untuk berinteraksi dengan pengetahuan secara mendalam.

Tanpa perubahan pada aspek tersebut, peningkatan fasilitas literasi hanya akan menjadi angka statistik yang tampak menjanjikan, tetapi belum mampu mengubah kualitas berpikir masyarakat secara nyata.

Kita Membaca Seperti Kucing Thorndike

Pendekatan teori klasik dalam psikologi pendidikan dapat digunakan, yakni teori koneksionisme yang dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike.

Teori ini menekankan bahwa proses belajar terjadi melalui pembentukan hubungan antara stimulus dan respons yang diperkuat melalui pengalaman berulang.

Dalam eksperimen terkenalnya, Thorndike menempatkan seekor kucing lapar ke dalam sebuah puzzle box, sementara makanan diletakkan di luar kotak sebagai pemicu.

Kucing tersebut tidak langsung menemukan cara keluar, melainkan melakukan berbagai tindakan acak seperti mencakar, menggigit, dan melompat. Setelah beberapa kali percobaan, kucing secara tidak sengaja menyentuh tuas yang membuka pintu, sehingga berhasil keluar dan memperoleh makanan.

Pengalaman ini kemudian membentuk pola belajar, di mana respons yang menghasilkan kepuasan cenderung diulang pada kesempatan berikutnya. Proses tersebut dikenal sebagai trial and error learning atau belajar melalui coba-coba.

Fenomena ini memiliki relevansi yang kuat dengan perilaku literasi masyarakat Indonesia saat ini. Pola konsumsi informasi kerap berlangsung secara acak dan tidak terstruktur, menyerupai mekanisme coba-coba dalam eksperimen Thorndike.

Aktivitas membaca tidak dilakukan secara mendalam, melainkan berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa proses refleksi yang memadai. Seseorang dapat membaca judul berita, kemudian beralih ke kolom komentar, berpindah ke konten video, lalu kembali lagi ke potongan informasi lain tanpa memahami keseluruhan konteks.

Pola tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak berlangsung secara sistematis, melainkan sekadar respons spontan terhadap rangsangan yang menarik perhatian.

Kondisi ini diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-70 dari 80 negara, dengan skor literasi membaca sebesar 359, matematika 366, dan sains 383.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi masih berada di bawah rata-rata global.

Rendahnya skor ini tidak hanya mencerminkan persoalan akademik, tetapi juga menggambarkan lemahnya kebiasaan membaca secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari. Pola belajar yang didominasi oleh konsumsi informasi cepat dan dangkal berimplikasi pada melemahnya kemampuan berpikir kritis.

"Perspektif koneksionisme menjelaskan bahwa perilaku yang memberikan kepuasan akan cenderung diperkuat dan diulang".

Kepuasan tersebut hadir dalam bentuk respons instan seperti tanda suka, jumlah tayangan, atau validasi sosial dari pengguna lain. Kondisi ini mendorong individu untuk lebih sering mengonsumsi konten yang ringan, cepat, dan bersifat emosional dibandingkan dengan bacaan yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam. 

Mekanisme tersebut secara tidak langsung membentuk kebiasaan literasi yang dangkal, karena otak terbiasa mengejar kepuasan instan daripada pemahaman yang komprehensif.

Algoritma media sosial pada akhirnya berfungsi layaknya puzzle box modern yang terus-menerus memberikan stimulus untuk memicu respons tertentu.

Setiap interaksi digital memperkuat pola perilaku yang sama, sehingga individu semakin terbiasa dengan konsumsi informasi yang cepat dan terfragmentasi.

Dampaknya, kemampuan membaca secara kritis dan reflektif mengalami penurunan.

Situasi ini menegaskan bahwa krisis literasi tidak hanya berkaitan dengan rendahnya minat baca, tetapi juga dengan terbentuknya pola belajar yang kurang efektif dalam menghadapi arus informasi yang semakin masif.

Bersambung.....

 

Penulis adalah : Muhammad Zahrudin Afnan (Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya dan Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA)

Editor :