ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Idul Adha di Negeri Rantau: Saat Rindu dan Pengorbanan Menjadi Pelajaran Hidup

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Para mahasiswa dan mahasisiwi Indonesia di Kairo, Mesir setelah merayakan Idul Adha 1447 H. Foto: Himmy Kanza/Ayojatim
Para mahasiswa dan mahasisiwi Indonesia di Kairo, Mesir setelah merayakan Idul Adha 1447 H. Foto: Himmy Kanza/Ayojatim

OPINI - Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Mesir menghadirkan kisah yang tak sekadar tentang gema takbir dan pelaksanaan ibadah kurban. Bagi para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di negeri para nabi itu, Idul Adha menjadi ruang perenungan tentang arti pengorbanan, kerinduan, sekaligus keteguhan hati dalam menuntut ilmu jauh dari kampung halaman.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Kairo dan hangatnya udara musim panas Mesir, para mahasiswa perantauan mencoba merayakan hari besar umat Islam dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Tidak ada pelukan orang tua selepas salat Id, tidak ada aroma masakan rumah yang biasa tersaji di meja makan keluarga. Yang ada hanyalah sesama anak rantau yang saling menguatkan, berbagi cerita, dan menutupi rindu dengan kebersamaan.

Takbir yang berkumandang dari masjid-masjid di Mesir terasa berbeda bagi mereka. Ada haru yang sulit dijelaskan ketika suara itu justru mengingatkan pada rumah, keluarga, dan momen kebersamaan yang untuk sementara harus ditinggalkan demi sebuah cita-cita.

Namun, di balik rasa sepi itu, Idul Adha justru menghadirkan pelajaran hidup yang begitu mendalam. Para mahasiswa belajar bahwa pengorbanan bukan hanya tentang hewan kurban, melainkan juga tentang keberanian meninggalkan zona nyaman demi masa depan yang lebih baik. Jauh dari orang tua menjadi bagian dari ujian keikhlasan dan kesabaran dalam perjalanan mencari ilmu.

Kebersamaan dengan teman-teman seperjuangan perlahan menghadirkan suasana keluarga dalam bentuk yang berbeda. Mereka saling berbagi makanan, saling mengunjungi, hingga menguatkan satu sama lain agar tetap tegar menjalani kehidupan di negeri orang. Dari situ tumbuh ukhuwah yang erat, seolah menegaskan bahwa rumah tak selalu soal tempat, tetapi juga tentang siapa yang hadir menemani perjuangan.

Idul Adha tahun ini menjadi pengingat bahwa perjalanan merantau bukan sekadar proses akademik. Lebih dari itu, perantauan membentuk pribadi yang lebih mandiri, dewasa, dan kuat menghadapi kehidupan. Rasa rindu kepada keluarga justru berubah menjadi energi untuk terus bertahan dan menyelesaikan amanah belajar dengan sebaik-baiknya.

Di negeri yang jauh dari tanah air, para mahasiswa Indonesia di Mesir menyimpan harapan sederhana: suatu hari dapat kembali pulang membawa ilmu, pengalaman, dan kebanggaan untuk keluarga serta Indonesia.

 

Ditulis oleh : Himmy Kanza Tsabita - Mahasiswi Al Azhar, Kairo, Mesir - Angkatan Irsyadun Nahid

Editor :