JAKARTA – Industri pertambangan nasional mencatatkan tonggak baru dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi.
Melalui penandatanganan Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) pada Rabu (4/3/2026), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) resmi bersepakat untuk menyuplai emas murni kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).
Kesepakatan ini mengikat volume transaksi sebesar 3 metrik ton atau hampir 100.000 ounce emas per tahun selama dua tahun ke depan.
Menariknya, terdapat opsi penambahan volume hingga 3 metrik ton lagi setiap tahunnya, yang menunjukkan besarnya potensi produksi emas dari dalam negeri.
Pasokan utama emas ini berasal dari dua titik operasi strategis: Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi dan Tambang Emas Pani di Gorontalo.
Nama terakhir merupakan aset terbaru yang baru saja melakukan penuangan emas perdana pada 14 Februari 2026 lalu.
Direktur Komersial ANTAM, Handi Sutanto, menilai kolaborasi ini sebagai wujud nyata kedaulatan sumber daya nasional.
"Ini bukti kedaulatan emas kita, di mana hasil bumi Indonesia diolah menjadi emas murni yang siap dimiliki masyarakat," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyebutkan bahwa struktur offtake yang stabil sangat dibutuhkan seiring semakin kuatnya basis produksi mereka.
Baginya, kerja sama ini bukan hanya soal kepastian penyerapan hasil tambang, tetapi juga tentang penguatan integrasi dari hulu ke hilir.
Proses pengiriman perdana batangan dore seberat 44,04 kg dari Tambang Pani telah dilakukan ke ANTAM untuk dimurnikan pada akhir Februari lalu.
Jika sesuai rencana, transaksi penjualan emas murni pertama berdasarkan kontrak baru ini akan terlaksana sebelum akhir Maret 2026.
Dengan langkah ini, Grup Merdeka tidak hanya berfokus pada pertumbuhan angka produksi, tetapi juga memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia memberikan dampak langsung pada ketersediaan emas murni di pasar domestik.
Editor : Alim Perdana