ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Mengenal Wiwik Tedja Budiono, Istri yang Teguh dalam Menjaga Keluarga di Tengah Ujian

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Wiwik Tedja Budiono dan suaminya. (Dok. Istimewa).
Wiwik Tedja Budiono dan suaminya. (Dok. Istimewa).

Ayojatim.com - Wiwik Tedja Budiono bukan sosok yang terbiasa berada di ruang publik. Dalam kesehariannya, ia menjalani hidup dengan tenang, sederhana, dan jauh dari sorotan. Namun, perjalanan hidup membawanya pada situasi yang menuntut keteguhan hati ketika suaminya, Henry Kusnohardjo (HK), harus berhadapan dengan proses hukum.

“Saya bukan orang yang dikenal oleh banyak orang, pergaulan saya sebatas teman kuliah – teman kampus. Sebagai pribadi, saya tidak pernah berpikir untuk dikenal oleh publik atau masyarakat luas,” ungkap Wiwik.

Ia juga menegaskan bahwa sejak awal, dirinya tidak pernah memiliki ambisi untuk dikenal karena status sosial maupun materi.

“Tidak pernah berpikir juga untuk mendapatkan atau menjadi istri orang kaya dan terkenal," tambah Wiwik.

Latar Belakang Kehidupan yang Sederhana

Sejak kecil, Wiwik telah terbiasa menjalani hidup dengan keterbatasan. “Saya sejak usia 5 tahun, sudah menjadi anak yatim,” tuturnya.

Pendidikan ia tempuh dari TK, SD, dan SMP Katolik, lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Kediri. Setelah lulus pada tahun 1971, ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Fakultas Teknik Sipil, dan meraih gelar Insinyur.

Dalam perjalanan hidupnya, iman menjadi bagian yang tidak terpisahkan. “Saya beribadah di gereja Katholik dan sempat melayani ke rumah-rumah jemaat masuk keluar kampung waktu itu,” kata Wiwik, mengenang masa pelayanannya.

Pertemuan dengan Henry Kusnohardjo

Pertemuan Wiwik dengan Henry Kusnohardjo terjadi secara tidak direncanakan. “Kemudian tanpa sengaja berkenalan dengan suami saya (Henry Kusnohardjo – HK) di RS Darmo, pada waktu itu saya sedang menjaga Om saya yang sedang sakit.”

Hubungan keduanya berlanjut hingga pernikahan pada tahun 1980. Bagi Wiwik, keputusan tersebut didasari oleh karakter suaminya. “HK yang saya kenal orangnya sangat giat bekerja dan serius, bertanggung jawab. Oleh sebab itu saya memilih dia walaupun kita beda tempat ibadah.”

Membangun Keluarga dengan Nilai Kesederhanaan

Di awal pernikahan, pasangan ini tinggal di rumah sederhana di kompleks perumahan milik Yayasan Kas Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya. “Perjuangan dan keseriusan dalam bekerja, meningkatkan keadaan ekonomi keluarga kami, tidak pernah berlebihan, tetapi selalu cukup,” ujar Wiwik.

Kehidupan keluarga dibangun secara perlahan. “Kami membangun rumah yang sekarang juga sangat perlahan, kami hidup tidak pernah berlebihan, karena itu sudah menjadi kebiasaan keluarga kami sampai hari ini.” Anak-anak mereka tumbuh dan bersekolah sebagaimana mestinya. “Kemudian lahir anak-anak kami, mereka juga bisa bersekolah di sekolah yang baik, tidak ada yang aneh.”

Nilai Iman dalam Keluarga

Dalam mendidik anak-anak, Wiwik menekankan pentingnya iman. “Kami menikah secara Kristen, kami mendidik anak-anak tentunya dengan nilai-nilai yang ada di dalam Alkitab, membawa mereka secara pribadi percaya kepada Tuhan Yesus.”

Ia juga menyampaikan bahwa seluruh anaknya aktif dalam pelayanan gereja. “Sampai hari ini, semua anak-anak memberikan diri melayani Tuhan di gereja masing-masing (GSJA).”

Sosok HK di Mata Istri

Di mata Wiwik, Henry Kusnohardjo adalah pribadi yang sederhana dan pekerja keras. “HK seorang yang sederhana, dididik taat kepada Tuhan, seorang pekerja keras.” Rutinitasnya pun konsisten. “Berangkat kerja jam 7 pagi, pulang jam 7 malam.”

Ia menggambarkan suaminya sebagai sosok yang penuh kesabaran dan tanggung jawab. “HK orang yang BERTANGGUNG JAWAB, RENDAH HATI – HUMBLE, JUJUR, SABAR, MURAH HATI kepada siapa saja.” Menurutnya, di dalam keluarga, HK dikenal sangat sabar terhadap anak-anak.

Saat Keluarga Menghadapi Proses Hukum

Ketika mengetahui suaminya terjerat kasus hukum, Wiwik mengaku reaksinya sederhana namun berat secara emosional. “Ya pasti sedih.” Kekhawatiran terbesarnya tertuju pada kondisi kesehatan sang suami. “Keadaan Kesehatan pak HK.”

Kepada anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya, Wiwik menyampaikan pesan yang tegas. “JANGAN MALU KALO PAPA, OPA ADA DI PENJARA, OPA TIDAK MUNGKIN BERNIAT UNTUK BERBUAT JAHAT – APALAGI MERUGIKAN ORANG LAIN.”

Di tengah situasi tersebut, kehidupan sosial dan pelayanannya tetap berjalan. Wiwik menegaskan bahwa ia memilih untuk fokus menjaga keluarga dan iman, tanpa larut dalam tekanan opini publik.

Iman sebagai Pegangan

Sebagai hamba Tuhan, Wiwik menegaskan bahwa kekuatan utama datang dari keyakinannya. “Saya ini Hamba Tuhan, saya sangat bergantung kepada-Nya.” Baginya, keadilan tertinggi berada di tangan Tuhan. “Saya bukan hakim dunia, tapi saya punya Hakim Agung yang akan memberikan pembelaan kepada yang benar. Tunggu waktu Tuhan saja.”

Harapan

Di akhir perbincangan, Wiwik menyampaikan harapannya dengan sederhana. “Sebagai manusia Rohani, saya hanya ingin keadilan dan kebenaran Tuhan saja segera diungkapkan.”

Profil ini menjadi gambaran tentang keteguhan seorang istri dan ibu yang memilih berdiri tenang menjaga keluarga, sembari menjalani proses kehidupan dengan iman dan kesabaran.

Editor :