Menggugah Peran Cendekiawan Muslim di Bulan Ramadhan

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

DI BULAN Ramadhan ini saat tepat untuk menggugah peran para cendekiawan, khususnya cendekiawan muslim, untuk mengambil peran dalam menginspirasi ummat. Menebar kemaslahatan, merubah dunia menjadi lebih baik sesuai ajaran Al-Quran.

Seri kajian Ramadhan kali ini memang saya buat agak khusus, yaitu untuk mengajak para cendekiawan muslim mengambil peran. Sebagaimana ribuan, bahkan mungkin jutaan cendekiawan muslim dunia telah melakukanya, khususnya di bulan Ramadhan.

Pertanyaan untuk refleksi dan introspeksi diri bagi kita para cendekiawan muslim adalah: Apa yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan ini? Sudahkah kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini untuk memberikan manfaat bagi umat? Atau, seperti kebanyakan orang, kita sibuk mengurusi diri sendiri, memperbaiki ibadah, dan berlomba-lomba menambah pahala?

Jangan salah paham. Memperbanyak ibadah itu baik. Tetapi, bukankah kita sebagai cendekiawan punya kewajiban lebih dari itu? Apa gunanya ilmu yang kita miliki, jika kita hanya menyimpannya dan mengamalkannya untuk diri sendiri?

Cendekiawan itu seharusnya tidak hanya sibuk dengan diri sendiri. Justru, dalam bulan Ramadhan ini, kita harus lebih banyak memberi—terutama memberi ilmu, mengedukasi, dan menginspirasi umat.

Para Cendekiawan di Era Rasulullah dan Sahabat

Mari kita lihat sejenak, bagaimana para cendekiawan pada zaman Rasulullah. Beliau, Rasulullah SAW, sebagai pemimpin umat sekaligus cendekiawan terbesar, tidak pernah melewatkan bulan Ramadhan tanpa memberikan ilmu dan pengajaran kepada umatnya. Setiap kesempatan dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan umat, memperbaiki akhlak, dan menuntun umat menuju kebaikan.

Imam Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai seorang cendekiawan dan pejuang, tidak hanya memimpin pasukan, tetapi juga mengisi Ramadhan dengan mengajarkan ilmu dan memberikan nasihat kepada umat.

Bahkan saat beliau sedang dalam keadaan sulit sekalipun, beliau tidak berhenti mengajarkan ilmu, menyebarkan kebenaran, dan memimpin umat menuju jalan yang lebih baik.
Apakah kita sudah mengikuti teladan mereka? Sudahkah kita berbagi ilmu selama Ramadhan ini?

Para Cendekiawan di Era Tabiin dan Ulama

Di era setelah Rasulullah, para tabiin dan ulama besar tidak hanya memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, tetapi juga aktif mengajarkan ilmu. Imam Al-Shafi’i, yang dikenal dengan karya-karya luar biasa dalam ilmu fiqh, tetap produktif meski bulan Ramadhan penuh dengan ibadah dan kesibukan.

Imam Malik, yang juga sangat terkenal dengan karyanya Al-Muwatta, tidak pernah berhenti mengajarkan hadits dan fiqh, bahkan di bulan Ramadhan.

Jadi, kenapa kita tidak? Kenapa kita tidak bisa menyemangati diri untuk berbuat lebih banyak selama bulan Ramadhan ini? Apakah kita menunggu waktu yang sempurna, atau kita memang takut untuk berbagi ilmu?

Refleksi Diri: Apa yang Sudah Kita Lakukan?

Mari kita bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan ini? Apakah kita sudah memberi manfaat bagi umat? Sudahkah kita membuat perubahan positif, sekecil apapun itu? Jangan hanya sibuk dengan ibadah pribadi. Sebagai cendekiawan Muslim, kita punya kewajiban lebih besar: bermanfaat untuk umat.

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa kita mengambil peran. Cendekiawan tidak bisa hanya duduk diam di menara gading. Kita tidak bisa hanya memikirkan diri kita sendiri. Dunia sedang membutuhkan kita. Apa yang akan kita lakukan? Akankah kita berdiam diri, ataukah kita akan bangkit dan memberi sumbangsih bagi kebaikan umat?

Cendekiawan vs. Orang yang Diam

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa orang yang berilmu dan yang tidak berilmu itu tidaklah sama. Dalam Surah Az-Zumar (39:9), Allah berfirman: "Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'"

Artinya, sebagai orang yang berilmu, kita punya kewajiban lebih besar. Kewajiban untuk memberi, mengedukasi, dan menginspirasi. Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang hanya duduk-duduk saja, tidak berbuat apa-apa meskipun dunia sedang menghadapi tantangan besar.

Dan Allah juga berfirman dalam Surah At-Tawbah (9:122): "Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga diri."

Ayat ini jelas sekali: cendekiawan memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing umat. Tidak cukup hanya dengan ibadah pribadi. Kita harus memberi peringatan dan pengajaran kepada umat. Kita harus lebih banyak berbicara tentang solusi, bukan hanya tentang masalah.

Menginfakkan Ilmu untuk Kemaslahatan Umat

Mari kita renungkan lebih dalam: Apa yang kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki? Apakah kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri? Tidak! Ilmu harus diinfakkan untuk kebaikan umat. Jika ada kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada umat, sebagai cendekiawan kita harus siap untuk berbicara. Tidak hanya mengkritik, tetapi memberikan solusi yang membangun.

Cendekiawan itu harus menjadi pelopor, menjadi penggerak perubahan, dan menjadi suara yang menyuarakan kebenaran. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Jika tidak kita, siapa lagi?

Kesimpulan: Saatnya Mengambil Peran

Ramadhan adalah waktu yang penuh kesempatan. Jangan sia-siakan bulan yang penuh berkah ini hanya untuk memperbaiki ibadah pribadi. Lebih dari itu, Ramadhan adalah waktu untuk memberi—memberi ilmu, memberi manfaat, dan mengubah dunia menjadi lebih baik.

Jangan hanya jadi cendekiawan yang duduk diam. Mari bergerak, berbagi ilmu, dan memberi solusi untuk umat. Ingatlah bahwa setiap detik di bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga. Jangan sampai kita meninggalkan bulan ini dengan tangan kosong, tanpa memberikan kontribusi nyata.

Saatnya menginfakkan ilmu kita, saatnya mengambil peran!. Bersama ribuan dan jutaan cendekiawan muslim lainnya yang telah mengambil peran, kita tekadkan diri untuk beranjak dari zona aman menuju zona “peperangan” membangun peradaban. Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Bisa melalui ceramah, kajian, maupun tulisan.

 

Editor : Alim Perdana