SURABAYA - Profesi farmasis tidak hanya berkaitan dengan obat dan pelayanan kefarmasian. Bagi apt. Drs. Djembor Sugeng Walujo, M.Kes., ilmu farmasi juga menjadi jalan untuk mengabdi kepada masyarakat melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga aksi kemanusiaan di daerah bencana.
Alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) itu telah menekuni berbagai bidang sepanjang perjalanan kariernya. Selain berprofesi sebagai apoteker, Djembor aktif sebagai akademisi, praktisi kesehatan tradisional, serta relawan kemanusiaan.
Perjalanan akademiknya dimulai di Fakultas Farmasi UNAIR. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana farmasi pada 1986 dan melanjutkannya ke jenjang Profesi Apoteker hingga lulus pada 1992.
Keinginan memperluas pengetahuan di bidang kesehatan kemudian membawanya menempuh pendidikan magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR. Gelar magister diraihnya pada 2004.
Dalam menjalani profesi, Djembor memegang prinsip hidup, “Kerja Keras, Jujur, dan Bermanfaat untuk Orang Lain.” Prinsip itu tercermin dari kiprahnya di berbagai lini pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Ia pernah bertugas sebagai apoteker di RS Kusta Kediri pada 1994–2009 dan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang pada 2009–2012. Pengalamannya juga mencakup pengelolaan sejumlah apotek sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA), antara lain Apotek Manunggal Kediri, Apotek WR Supratman Malang, Apotek Mabrur, dan Apotek IIK Bhakti Wiyata.
Di dunia pendidikan, Djembor aktif mengajar di IIK Bhakti Wiyata Kediri sejak 2006 hingga sekarang. Di luar aktivitas akademik, ia menjalankan praktik mandiri sebagai praktisi akupunktur untuk melayani masyarakat.
Aktif dalam Aksi Kemanusiaan
Pengabdian Djembor juga berlangsung melalui organisasi profesi dan kegiatan kebencanaan. Ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) pada periode 1993–2005.
Sejak 2012, ia menjadi Penasihat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Kediri. Kiprah di bidang kebencanaan semakin intensif ketika ia dipercaya memimpin Apoteker Tanggap Bencana (ATB) Jawa Timur sejak 2022.
Melalui ATB, Djembor terlibat dalam penanganan sejumlah bencana di Indonesia, mulai dari gempa Lombok, gempa dan tsunami Palu, tsunami Banten, banjir Kalimantan Selatan, erupsi Gunung Semeru, hingga gempa Pasaman.
Ia juga terlibat sebagai vaksinator dalam program vaksinasi COVID-19. Dalam berbagai misi kemanusiaan itu, peran farmasis tidak berhenti pada distribusi obat. Djembor turut memastikan pengelolaan logistik obat berjalan aman dan rasional bagi para penyintas bencana.
Kemampuan di bidang kesehatan tradisional juga ia gunakan untuk mendukung para relawan. Ia memberikan layanan akupunktur secara gratis untuk membantu menjaga kebugaran relawan yang bekerja di lapangan.
Dedikasinya mendapat sejumlah apresiasi. Di antaranya penghargaan Relawan Gempa Lombok dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 2018, penghargaan Penanggulangan Bencana dari Majelis Pandita Buddha Maitreya pada tahun yang sama, serta penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Berdedikasi Tinggi dari Dinas Kesehatan Kota Kediri pada 2023.
Menulis dan Berbagi Ilmu
Pengabdian Djembor juga diwujudkan melalui kegiatan akademik dan penulisan. Ia menghasilkan sejumlah buku teks dan modul pembelajaran ber-ISBN yang digunakan sebagai bagian dari pengembangan pendidikan kesehatan.
Beberapa karya yang ditulisnya antara lain Buku Farmasi Komunitas pada 2024 dan Buku Farmakologi D3 RMIK pada 2023. Ia juga menyusun berbagai modul terkait swamedikasi dan pengobatan tradisional.
Pengalamannya membuat Djembor kerap dipercaya menjadi narasumber dalam edukasi DAGUSIBU serta dosen tamu pada Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPA) UNAIR.
Bagi Djembor, pengalaman menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi UNAIR menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan profesinya.
“Fakultas Farmasi UNAIR adalah almamater yang luar biasa. Selama kuliah, saya mendapatkan pendidikan yang tidak hanya kuat dalam keilmuan farmasi, tetapi juga dibentuk untuk memiliki integritas, etika profesi, dan kepedulian kemanusiaan.”
Ia juga mengenang lingkungan akademik dan para pengajar yang menurutnya turut membentuk perjalanan profesionalnya.
“Dosen-dosen yang kompeten, fasilitas pembelajaran yang lengkap, dan atmosfer akademik yang kondusif membuat saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Farmasi UNAIR. Semangat Excellent with Morality benar-benar terasa, meskipun istilah itu pada zaman saya kuliah belum ada,” ujarnya.
Kepada mahasiswa dan generasi muda farmasi, Djembor berpesan agar pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik.
“Tekuni ilmu dengan sungguh-sungguh, jangan hanya mengejar IPK, tetapi kejar juga kompetensi dan soft skill. Jadilah apoteker yang tidak hanya pintar meracik obat, tetapi juga pandai berkomunikasi dan peduli pada pasien.”
Ia menambahkan, integritas profesi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap almamater dan masyarakat.
“Jaga nama baik almamater di manapun kalian berada,” tuturnya.
Editor : Alim Perdana