Sebelum Melabeli Mahasiswa Gen Z Apatis, Relevankah Organisasi Mahasiswa Hari Ini?

Reporter : Diday Rosadi
Nizar Luthfi Jauhari

Oleh: Nizar Luthfi Jauhari

  • Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga
  • Caketum PC PMII Surabaya

AKHIR-AKHIR ini kita sering mendengar kalimat “Mahasiswa sekarang apatis”, namun kita lupa untuk mengkaji ulang realitas perubahan zaman yang sangat dinamis. 

Baca juga: Mengenal Nizar Luthfi Jauhari: Caketum PMII Surabaya, Alumni Santri Tebuireng

Kita terlalu nyaman membiarkan argumentasi liar tersebut di tubuh organisasi, dan dengan mudahnya memberi label kalau mahasiswa yang salah, organisasi tidak perlu berubah.

Meskipun, jika kita melihat sudut pandang yang terbalik, ternyata ada salah tafsir terkait hal ini. Karena data
menunjukkan bahwasanya Gen Z tidak berhenti berorganisasi, mereka memberhentikan pola organisasi yang lama.

Dan pertanyaan yang seharusnya muncul bukanlah kenapa mereka pergi?, tetapi apa yang membuat mereka memilih pergi dari organisasi?

Dengan adanya permasalahan tersebut maka mari kita meneruskan tulisan ini untuk membaca arah gerak organisasi seperti apa yang diinginkan mahasiswa di era sekarang?

Membaca Ulang Apatisme Mahasiswa di Era Gen Z

Jka kita melihat kembali istilah “Apatis”, munculnya kata tersebut disebabkan karena pada data lapangan menunjukkan penurunan minat organisasi yang sangat signifikan. 

Hal ini didukung dengan adanya survei dari mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang mendapati hanya sekitar 20,5 % mahasiswa yang mempunyai minat untuk aktif di organisasi kemahasiswaan, sementara 79,5 % lebih memilih program magang.

Survei tersebut mengungkap bahwasanya 77,1 % responden menilai student government tidak benar-benar
mempresentasikan suara mereka, dan 65, 6 % menilai bahwa program Badan Eksekutif Mahasiswa atau Dewan Mahasiswa hanya menjadi seremonial belaka.

 Hal ini bisa kita lihat juga pada gelaran Pemilihan Umum Raya di kampus masing-masing, berapa banyak
mahasiswa yang memilih calon ketua, diantara banyaknya mahasiswa di Fakultas, maupun
Universitas. 

Lalu, ketika mahasiswa memilih tidak hadir dalam rapat organisasi, tetapi masih hadir dalam setiap kelas-kelas praktikum, aktif di komunitas online, komunitas-komunitas sosial di luar kampus, dan mengerjakan proyek-proyek freelance.

Apakah dengan adanya
hal tersebut bisa dikatakan apatis? atau mereka hanya mengalokasikan waktunya secara efisien?

Penelitian di Universitas Mataram menunjukkan bahwasanya perpindahan
mahasiswa dari organisasi ke program magang merupakan hasil dari perhitungan rasional dengan memprioritaskan keuntungan yang terukur dan terkuantifikasi untuk masa depan.

Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwasanya ini bukan apatis, tetapi salah satu cara perhitungan mahasiswa di era gen z dalam menentukan prioritas dan keuntungan.

Jika kita melihat kerangka dari James S. Coleman, Individu bertindak sebagai aktor rasional yang mengevaluasi biaya dan manfaat dari setiap pilihan, lalu memilih opsi dengan rasio manfaat-biaya tertinggi. 

Maka kita akan bisa memaknai fenomena tersebut dengan baik dan pada akhirnya membentuk suatu simpul yang menerangkan bahwasanya mahasiswa yang memilih tidak aktif di organisasi kampus tidak serta merta apatis.

Namun mereka menimbang
secara rasional berapa besar biaya yang mereka perlukan dan manfaat apa yang mereka dapatkan.

Arah Gerak Organisasi yang Perlu Dipertahankan

Jika rasional menjadi pilihan dari mahasiswa maka masalahnya bukan pada mahasiswanya, namun pada sistem yang gagal bersaing secara rasional untuk menjadi jawaban dari mahasiswa gen z. 

Maka dari itu, untuk tetap merelevansikan organisasi dengan mahasiswa sekarang adalah merubah sistemnya. Jika pada data diatas tadi menunjukkan bahwa 65,6% mahasiswa menilai program organisasi sebagai seremonial.

Artinya banyak mahasiswa
menilai bahwa output utama organisasi bukan dampaknya, tetapi ritual tahunan yang diulang-ulang. 

Tanpa adanya evaluasi, serta laporan pertanggung jawaban yang tebal tanpa menjawab pertanyaan.

Ketika penilaian mahasiswa terkait program kerja organisasi memiliki output seperti ini, maka masuk akal ketika mahasiswa memilih yang outputnya terbukti
seperti, sertifikat magang, portofolio proyek, dan penghasilan dari freelance serta kegiatan lainnya yang memiliki dampak nyata bagi diri sendiri maupun sosial.

Selanjutnya, terkait tengan relevansi antara organisasi dengan jalur karier mereka.

Sebenarnya mahasiswa
tidak kekurangan waktu, mereka hanya kekurangan alasan untuk menghabiskan waktu pada sesuatu yang tidak terhubung dengan masa depan mereka.

Jika organisasi tidak bisa
menjawab pertanyaan “Bagaimana ini membantu saya mendapatkan pekerjaan?”, maka mahasiswa otomatis mencari jawaban di tempat lain, dan jawaban itu tersedia dalam bentuk
magang, sertifikasi kompetensi, dan pengalaman freelance atau mengerjakan proyek-proyek yang berdampak bagi mereka maupun lingkungan sekitar.

Sistem seperti apa yang Dibutuhkan Organisasi Hari Ini?

Adanya kegagalan pada sistem organisasi yang usang, maka sistem baru harus dibangun dari prinsip yang berlawanan. Sistem yang bisa ditawarkan untuk menjawab fenomena
tersebut yakni, sistem kolaboratif yang mulai banyak bermunculan di berbagai organisasi mahasiswa yakni komunitas berbasis proyek.

Pada model ini, orang bergabung bukan
karena ingin menjadi ketua ataupun jabatan struktural lainnya, tetapi ingin menyelesaikan suatu proyek tertentu. Sebuah studi mengenai komunitas pengembangan pemuda mencatat
bahwa platform digital memungkinkan kolaborasi tanpa kehadiran fisik.

Lebih dari 70% anak muda Indonesia lebih tertarik bergabung pada komunitas yang menyediakan kesempatan pengembangan secara online, mentoring, pelatihan keterampilan, dan
perluasan jaringan yang menurut mereka bisa menambah soft skill yang berguna untuk menunjang kehidupan pasca kampus. 

Sistem yang bisa ditawarkan kembali adalah menghargai waktu, dan tidak menyita waktu mahasiswa.

Sistem ini merupakan daya tawar baru pada organisasi yang mendesain partisipasi kehadiran lebih efisien dan fleksibel, dan seseorang bisa berkontribusi secara penuh tanpa setiap malam rapat di sekretariat. 

Baca juga: Usung Gagasan Tumbuh Serentak, Nizar Maju Calon Ketua Umum PMII Surabaya

Sistem tersebut sangat efektif karena mahasiswa gen z pada akhirnya bisa bertumbuh dengan kolaborasi digital, dan paparan digitalisasi memang sudah semakin merebah di zaman sekarang. 

Selanjutnya yakni, organisasi yang memiliki arah gerak jelas untuk memberikan dampak yang signifikan untuk lingkungan sekitar. 

Kegiatan seperti pengabdian masyarakat, kampanye lingkungan, atau program literasi digital memberikan angin segar untuk organisasi agar diminati mahasiswa Gen Z.

Karena, kegiatan-kegiatan tersebut memberikan makna pada waktu yang sudah diinvestasikan, serta memberikan cerita yang mendalam, di mana cerita merupakan hal yang berharga di dunia kerja dan media sosial.

Soft Skills, Karir, dan Entrepreneurship Menjadi Daya Tarik Baru Organisasi
Mahasiswa

Sub pembahasan ini merupakan inti dari pergeseran yang sedang terjadi. Organisasi mahasiswa yang tidak dirancang untuk memikirkan karir anggotanya. 

Namun, dirancang untuk organisasi yang terhubung langsung dengan masa depan mereka.

Mereka tidak mau
menginvestasikan waktu dan tenaga pada sesuatu yang tidak bisa mereka bawa setelah lulus. 

Penelitian di Universitas Tadulako menunjukkan bahwa partisipasi organisasi secara signifikan meningkatkan keterampilan introspektif dan interpersonal, yang keduanya
berdampak positif pada kemampuan seseoran yang artinya, organisasi bukan tujuan, melainkan perantara.

Jika perantara itu tidak jelas, atau tidak terhubung dengan jalur karier, maka mahasiswa yang berpikir rasional akan memilih perantara yang lebih langsung: magang, MBKM, atau freelance.

Organisasi yang benar-benar memikirkan karier anggotanya akan melakukan beberapa hal.

Menghubungkan setiap peran dengan keterampilan yang bisa dicantumkan di CV.

Menyediakan akses ke alumni dan profesional di industri. Memberi umpan balik yang jujur tentang kekuatan dan kelemahan anggota, bukan hanya "terima kasih sudah berkontribusi".

Selanjutnya, soft skills. Soft skills merupakan klaim klasik organisasi mahasiswa, seperti "di sini kamu belajar kepemimpinan, komunikasi, manajemen".

Namun, klaim tanpa
bukti hanyalah pemasaran, bukan pendidikan.

Organisasi yang serius tentang soft skills akan mendefinisikan secara spesifik keterampilan apa yang dilatih dalam setiap peran, menyediakan mekanisme umpan balik yang terstruktur, dan meminta anggota merefleksikan serta mendokumentasikan pembelajaran mereka. 

Tanpa ini, soft skills hanya menjadi kata kunci di poster rekrutmen yang tidak pernah dibuktikan.

Baca juga: Dosen UNAIR Padukan Ilmu Syariah dan Peternakan untuk Warga Jember

Terakhir yaitu, entrepreneurship

Entrepreneurship merupakan area pembuktian bahwa mahasiswa sudah memulai bisnis, mengikuti kompetisi pitching, dan membangun
portofolio produk.

Jika, organisasi masih berkutat pada proposal kegiatan dan laporan pertanggungjawaban. Ada jarak yang lebar antara apa yang mahasiswa kerjakan di luar organisasi dan apa yang organisasi tawarkan di dalam.

Beberapa kampus sudah menunjukkan arah yang berbeda.

Universitas Tidar dalam KMI Expo 2025 menampilkan proyek mahasiswa mulai dari fotografi drone hingga es krim berbasis rempah lokal dan game horor bertema Nusantara.

Universitas Jember dalam BRIWork Entrepreneur Fest melibatkan 15 proyek kewirausahaan mahasiswa, dengan proyek Greenore mencapai margin keuntungan 40�n menyusun
strategi pemasaran untuk Car Free Day.

Universitas Airlangga memiliki program inkubasi bisnis seperti Airlangga Young Entrepreneur, sebuah kompetisi wirausaha bagi mahasiswa internal UNAIR yang mencetak generasi-generasi wirausahawan. 

Dalam model-model ini, mahasiswa bukan hanya menjadi anggota, tetapi mereka adalah kolaborator.

Kontribusi tidak mereka maknai sebagai kewajiban melainkan investasi yang menjanjikan untuk masa depan, dan output mereka bukan laporan melainkan produk yang bisa dijual, dipamerkan, atau dikembangkan.

Inilah yang membuat Gen Z mau datang, bertahan, dan berkontribusi dengan sungguh-sungguh.

Organisasi yang Masih Relevan Untuk Gen Z Lebih dari 70% anak muda Indonesia mencari organisasi yang memberi mereka pengembangan online, mentoring, dan jaringan bukan sekadar jabatan.

Mereka tidak menolak berorganisasi; mereka menolak organisasi yang tidak memberi bukti.

Soft skills tanpa bukti hanyalah pemasaran. Karier tanpa koneksi hanyalah janji.

Entrepreneurship tanpa produk hanyalah proposal. Organisasi yang serius akan mengubah ketiganya menjadi sesuatu yang bisa dibawa setelah lulus: keterampilan yang terdokumentasi, jaringan yang nyata, dan produk yang bisa dijual. 

Pertanyaannya bukan lagi "bagaimana membuat mahasiswa peduli pada organisasi", melainkan "apakah organisasi menjadi layak untuk
dipedulikan?" 

Jika tidak, kursi-kursi kosong di ruang rapat akan terus menyampaikan satu
pesan, bahwa organisasi yang ditinggalkan secara rasional tidak membutuhkan simpati. Ia membutuhkan perubahan.

Editor : Diday Rosadi

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru