SURABAYA - Serangan siber yang kian masif mendorong perusahaan mempercepat pembaruan sistem keamanan. Platform Endpoint Central milik ManageEngine kini dibekali kemampuan baru untuk mendeteksi sekaligus menghentikan ancaman langsung dari perangkat kerja karyawan.
Penguatan tersebut datang di saat tekanan serangan digital meningkat. Data Badan Siber dan Sandi Negara mencatat lebih dari 3,64 miliar anomali trafik sepanjang Januari–Juli 2025. Angka itu mencerminkan eskalasi serangan seiring ketergantungan bisnis terhadap sistem digital.
Baca juga: FKPPI Dorong Pembentukan Dewan Keamanan Nasional Hadapi Ancaman Perang Generasi V
Endpoint mulai dari laptop, ponsel, hingga workstation menjadi titik paling rentan. Perangkat yang sehari-hari digunakan karyawan kini kerap menjadi pintu masuk malware, akses ilegal, hingga ransomware yang bisa melumpuhkan operasional dalam hitungan jam.
Merespons kondisi tersebut, ManageEngine menambahkan teknologi endpoint detection and response (EDR) ke dalam Endpoint Central.
Sistem tersebut mampu mengenali aktivitas mencurigakan dan menghentikannya sebelum menyebar.
Platform juga dilengkapi secure private access berbasis Zero Trust, yang memastikan setiap perangkat diverifikasi sebelum mendapat akses ke sistem perusahaan.
Model lama berbasis VPN dinilai semakin berisiko karena memberi akses luas setelah login berhasil.
Sementara pelaku kejahatan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempercepat dan memperbesar skala serangan.
“Keamanan endpoint sekarang bergantung pada kecepatan. Perusahaan harus mampu mendeteksi dan menghentikan ancaman lebih cepat, sekaligus memastikan akses ke aplikasi internal tetap aman meski kredensial bocor,” kata Chirag Mehta, Vice President and Principal Analyst di Constellation Research.
Ia menilai penggabungan EDR dengan kontrol akses berbasis kepercayaan perangkat dapat memangkas waktu penyerang berada di sistem sekaligus membatasi dampaknya.
Integrasi dilakukan secara native dalam satu platform, bukan hasil tempelan dari berbagai alat berbeda. Pendekatan itu membuat tim IT dapat memantau, menganalisis, hingga merespons ancaman dari satu dashboard terpusat.
Baca juga: Strategi BPD Seluruh Indonesia Hadapi Kompleksitas Ancaman Cyber Crime
Selain deteksi, sistem juga memungkinkan tindakan langsung seperti isolasi perangkat terinfeksi, penghentian proses berbahaya, hingga pemulihan file akibat ransomware.
Pembaruan keamanan (patching) juga bisa dijalankan dari sistem yang sama tanpa perlu alat tambahan.
Mathivanan Venkatachalam, Vice President ManageEngine, menyebut perubahan pola kerja hybrid membuat endpoint menjadi pusat kendali sekaligus titik rawan.
“Endpoint kini menjadi titik utama deteksi ancaman dan kontrol akses. Sistem kami membantu perusahaan beralih dari pendekatan reaktif menjadi lebih mandiri, mendeteksi lebih awal, merespons lebih cepat, dan memastikan hanya perangkat terpercaya yang bisa mengakses sistem penting,” ujarnya.
Platform tersebut juga dibekali deteksi ancaman berbasis AI, visibilitas aktivitas perangkat secara menyeluruh, serta investigasi serangan yang lebih cepat.
Akses ke aplikasi internal diberikan berdasarkan identitas pengguna dan kondisi perangkat secara real-time.
Di tingkat global, Endpoint Central telah digunakan lebih dari 31.000 organisasi. Produk tersebut juga mendapat pengakuan dari berbagai lembaga, termasuk masuk dalam laporan Magic Quadrant 2026 oleh Gartner dan penilaian IDC MarketScape.
Fitur terbaru sudah tersedia sebagai add-on dan dapat langsung digunakan perusahaan. Langkah ini membuka opsi bagi pelaku usaha di Indonesia untuk mereduksi kompleksitas sistem sekaligus memperkuat pertahanan siber di tengah lanskap ancaman yang terus berkembang.
Editor : Alim Perdana