Wajah Baru Pertarungan Politik Desa di Kabupaten Sidoarjo, Ini Kata mas ZAR, Dosen Sosmed dan Pakar Digital

Reporter : AM Lukman J
Zarnuzi Fustatul, atau yang akrab disapa Mas Zar dikenal sebagai dosen sosmed saat berfoto bersama Bupati Sidoarjo. Foto: Dok Mas ZAR/Ayojatim

SIDOARJO - Menjelang pemilihan kepala desa (Pilkades) yang rencananya akan digelar dalam waktu dekat, geliat politik mulai terasa hingga ke sudut-sudut kampung, termasuk di Kabupaten Sidorjo jawa Timur.

Beberapa wajah terpampang di papan Baliho yang berdiri di pinggir jalan. Pertemuan warga juga sudah tampak digelar secara intensif, dimana para kandidat berlomba menyapa masyarakat secara langsung untuk meraih dukungan. Namun di balik itu semua, ada satu arena yang diam-diam menjadi penentu yaitu ruang digital.

Baca juga: Optimalkan Bisnis di Era Digital, Pahami Dulu Istilah Penting dalam Digital Marketing

Berdasar data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus lebih dari 221 juta orang, dengan tingkat penetrasi mencapai sekitar 79,5 persen dari total populasi.

Sementara laporan We Are Social bersama Hootsuite mencatat sekitar 167 juta masyarakat Indonesia aktif di media sosial, dengan rata-rata penggunaan internet lebih dari tujuh jam per hari.

Dan, dari angka tersebut secara konkret menggambarkan bahwa fakta dan realitas saat ini adalah, mayoritas pemilih memiliki akses digital dan merupakan masyarakat digital. Pertanyaan krusialnya adalah, apa yang muncul di sosial media mereka? 

Hari ini, cara masyarakat mengenal calon pemimpin telah berubah. Jika dulu cukup lewat cerita dari mulut ke mulut atau pertemuan di balai desa, kini banyak warga mengambil langkah sederhana, yaitu membuka ponsel dan mengetik nama kandidat di mesin pencari, atau sosial media mereka.

Dari sisi pada kandidat, sebagian dari mereka, sebenarnya juga tak sedikit memiliki kapasitas, pengalaman, bahkan rekam jejak pengabdian di masyarakat. Namun tanpa popularitas digital, mereka justru tenggelam. Masalahnya adalah, karena mereka kalah atau bahkan tidak memiliki jejak digital yang memadai.

Nama mereka tidak muncul di pemberitaan, tidak memiliki profil yang jelas di internet, atau bahkan nyaris tidak ditemukan sama sekali.

Kabupaten Sidoarjo, dengan jumlah penduduk sekitar 2,2 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik, diperkirakan lebih dari 70 persen warganya telah terhubung ke internet. Artinya, lebih dari satu juta calon pemilih memiliki akses langsung untuk mencari, membandingkan, dan menilai kandidat melalui ruang digital.

Namun faktanya, banyak dari para kandidat calon Kepala Desa (Kades) masih mengandalkan metode kampanye konvensional, tanpa menyadari bahwa persepsi publik kini juga dibentuk oleh apa yang tampil di layar.

Baca juga: Hikayat Ludah di Penghujung Tahun 2025

Zarnuzi Fustatul, atau yang akrab disapa Mas Zar, melihat fenomena ini sebagai persoalan serius dalam kontestasi politik lokal. Pemuda asal Sidoarjo yang aktif di bidang media digital ini menilai bahwa banyak kandidat sebenarnya unggul secara kapasitas, namun kalah dalam hal visibilitas.

“Hari ini, masyarakat bisa langsung mencari informasi tentang calon pemimpin mereka. Apa yang muncul di internet, itu yang membentuk persepsi,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).

Menurutnya, internet kini telah berfungsi layaknya “etalase publik” yang memperlihatkan siapa seseorang, apa rekam jejaknya, dan bagaimana ia dipersepsikan. Ketika etalase itu kosong, maka kepercayaan pun sulit terbentuk.

Dalam konteks tersebut, menurutnya kepercayaan tidak lagi semata dibangun dari interaksi langsung, tetapi juga dari jejak digital. Mulai dari pemberitaan media, aktivitas media sosial, hingga narasi yang tersusun rapi dan mudah diakses.

Perubahan ini bahkan semakin diperkuat dengan kehadiran teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Masyarakat kini tidak hanya mencari di Google, tetapi juga bertanya pada platform AI untuk mendapatkan ringkasan informasi tentang seseorang. Tanpa data digital yang cukup, seorang kandidat praktis “tidak ada” dalam ekosistem tersebut.

Baca juga: Syukur Pangkal Bahagia, Tidak Syukur Bakal Menderita

Situasi ini menempatkan para calon kepala desa pada tantangan baru. Kampanye tidak lagi cukup hanya mengandalkan baliho atau tatap muka, tetapi juga membutuhkan strategi membangun citra di ruang digital. Bagaimana publikasi media dibangun, bagaimana pengelolaan media sosial mereka, hingga pada akhirnya hal tersebut juga akan jadi penguat personal branding dimata masyarakat.

Lebih lanjut, mas ZAR juga menyampaikan bahwa ditengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin digital saat ini, kehadiran sosok di ruang digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar.

Pilkades di Sidoarjo kali ini pun menjadi cermin dari pergeseran tersebut. Bahwa dalam kontestasi modern, bahkan di tingkat desa sekalipun, pertarungan tidak hanya soal siapa yang paling bekerja keras di lapangan.

Tetapi juga tentang siapa yang lebih dulu ditemukan, dikenal, dan dipercaya di internet dan ruang digital.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru