BPBD Jatim Cek 71 Early Warning System di Sejumlah Daerah, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem

Reporter : AM Lukman J
Pengecekan langsung terhadap peralatan Early Warning System (EWS) di berbagai wilayah rawan bencana oleh tim BPBD Jatim. Foto: Dok-BPBD Jatim

SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dengan melakukan pengecekan langsung terhadap peralatan Early Warning System (EWS) di berbagai wilayah rawan bencana.

Pengecekan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat peringatan dini berfungsi dengan baik sehingga dapat memberikan informasi cepat kepada masyarakat saat potensi bencana terjadi.

Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem di Surabaya, CareHub Homecare Ajak Masyarakat Jaga Kesehatan

Kegiatan ini dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, tepatnya pada sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Senin (2/3/2026).

Setelah itu, tim BPBD Jawa Timur melanjutkan pengecekan ke sejumlah daerah lain, mulai dari Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga Pacitan.

Secara keseluruhan, BPBD Jatim menargetkan pengecekan terhadap 71 unit EWS yang tersebar di berbagai daerah. Perangkat tersebut terdiri dari 27 EWS banjir, 27 EWS longsor, serta 17 sirine tsunami.

Pengecekan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik maupun fungsi alat tetap optimal sebagai sistem peringatan dini bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Kepala Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, H. Abdul Ghafur, mengaku keberadaan EWS banjir sangat membantu warganya yang tinggal di daerah dekat aliran sungai.

Ia mengatakan, sekitar 800 kepala keluarga yang tinggal di dua dusun di desanya kerap menerima peringatan dini saat debit air sungai meningkat.

“Kebetulan warga desa kami masih banyak yang sering mandi di sungai, meski sudah memiliki kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik,” ujar Ghafur saat ditemui tim BPBD Jatim, Selasa (3/3).

Hal senada disampaikan perangkat Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Candra Kristianto. Ia menyebut EWS longsor yang dipasang di kaki Bukit Kelopo Kembar sangat membantu masyarakat dalam mendeteksi potensi longsor lebih awal.

“Sudah beberapa kali kami coba, suara alarmnya cukup keras dan bisa terdengar hingga perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer,” katanya.

Baca juga: Perkuat Koordinasi Penanganan Bencana, Kogabwilhan II Kunjungi BPBD Jatim

Sementara itu, Heri, warga Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Jember, menilai keberadaan EWS tsunami di wilayahnya juga memberi manfaat bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Pantai Cemara.

Menurutnya, selain sirine, speaker pada perangkat EWS sering dimanfaatkan untuk memberikan pengumuman atau peringatan kepada pengunjung pantai.

“Speaker itu biasa kami gunakan untuk memberikan peringatan kewaspadaan kepada pengunjung, terutama yang datang bersama anak-anak, agar tidak lengah saat bermain di pantai,” ujarnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lumajang, Sultan Syafaat, yang turut mendampingi pengecekan, menjelaskan bahwa di Kabupaten Lumajang terdapat empat unit EWS milik BPBD Jawa Timur yang terdiri dari EWS banjir, longsor, dan sirine tsunami.

Ia menilai perangkat tersebut memiliki peran penting sebagai sistem deteksi dan peringatan dini bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.

“Yang dibutuhkan EWS ini adalah pemeliharaan dan pengecekan secara berkala seperti saat ini. Saya kira itu yang perlu terus dilakukan,” katanya.

Baca juga: Cegah Terulangnya Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, Ini Rekomendasi Pakar ITS

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa langkah pengecekan EWS ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan selama periode cuaca ekstrem yang masih berlangsung di Jawa Timur.

“Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami cek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya,” ujar Gatot.

Ia berharap masyarakat, relawan, serta personel BPBD di kabupaten dan kota dapat terus berkolaborasi dalam meningkatkan kesiapsiagaan guna mengurangi risiko bencana.

Menurut Gatot, meski kondisi EWS sebenarnya dapat dipantau melalui dashboard di kantor BPBD, pengecekan langsung ke lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi riil perangkat di lokasi.

“Pengecekan langsung penting agar kami mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan sehingga EWS bisa benar-benar berfungsi sebagai alat deteksi dini bagi masyarakat jika terjadi bencana,” pungkasnya.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru