Ditengah masyarakat yang kerap memaknai “2M” sebagai simbol materi, miliar dan miliaran ada tafsir berbeda yang justru jauh lebih bernilai. Bagi para pesyiar Baitullah, 2M bukanlah tentang angka di rekening, melainkan tentang dua kota suci: dan .
“Kalau orang lain mengejar 2M sebagai materi, pesyiar Baitullah rewardnya juga 2M, tapi Makkah dan Madinah.”
Baca juga: Mengenal Sosok Ustadz Nafi Unnas dan Kiprahnya Sebagai Dosen Bahasa Arab UIN Sunan Ampel Surabaya
Opini ini menarik untuk direnungkan. Di satu sisi, menjadi pembimbing umroh atau haji kerap dipandang sebagai profesi. Namun di sisi lain, ada dimensi spiritual yang tidak bisa diukur secara material.
Pesyiar Baitullah bukan sekadar memandu perjalanan, melainkan mengantarkan tamu-tamu Allah menuju rumah-Nya. Di situlah letak kemuliaannya.
Di Makkah, pusat kiblat umat Islam, jutaan doa berkelindan setiap detik. Setiap langkah thawaf mengitari Ka’bah, setiap sa’i antara Shafa dan Marwah, menghadirkan pengalaman batin yang mendalam. Bagi pesyiar, momen itu bukan hanya milik jamaah, tetapi juga ruang muhasabah pribadi. Iman diperbarui, niat diluruskan, dan penghambaan dipertajam.
Sementara itu, Madinah menghadirkan atmosfer yang berbeda. Kota Nabi ini menawarkan ketenangan yang sulit dilukiskan. Di sana, cinta kepada Rasulullah menemukan ruangnya.
“Kalau di Makkah kita menangis karena harap, di Madinah kita tersenyum karena cinta.”
Namun, “reward 2M” bukan tanpa konsekuensi. Tanggung jawab pesyiar Baitullah tidak ringan. Mereka harus mengurus jamaah lansia, memastikan logistik berjalan baik, menjaga kekompakan rombongan, hingga sigap menyelesaikan persoalan teknis di lapangan. Dalam kondisi lelah sekalipun, pelayanan harus tetap prima. Amanah tidak boleh goyah.
Di sinilah esensi opini ini mengemuka: kemuliaan bukan terletak pada frekuensi keberangkatan ke Tanah Suci, melainkan pada kualitas niat dan pengabdian. Ustadz Nafi mengingatkan, “Jangan sampai sering ke Makkah dan Madinah, tapi hati justru jauh dari Allah. Yang paling penting bukan jumlah keberangkatan, melainkan kualitas penghambaan.”
Pengalaman membimbing jamaah bersama Samira Travel memperkaya perspektif tersebut. Ada jamaah yang sujud syukur saat pertama kali melihat Ka’bah. Ada yang menangis di Raudhah. Ada yang berdoa lirih untuk keluarga di tanah air. Di tengah kisah-kisah haru itu, pesyiar Baitullah turut merasakan kebahagiaan yang tak bisa dibeli.
Pada akhirnya, 2M versi pesyiar Baitullah adalah simbol keberkahan. Makkah mengajarkan ketundukan total kepada Allah. Madinah menanamkan keteladanan dan cinta kepada Rasulullah. Jika materi bisa habis dan jabatan bisa berganti, pengalaman spiritual di dua kota suci itu akan terus hidup dalam ingatan dan iman.
Baca juga: Tantangan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Derasnya Arus Digital
Mungkin inilah saatnya kita meninjau ulang makna “reward” dalam hidup. Tidak semua yang bernilai harus berwujud materi. Bagi pesyiar Baitullah, 2M bukan sekadar singkatan, melainkan panggilan jiwa dan ladang pengabdian yang tak ternilai.
Oleh: Ustadz Nafi Unnas
Pembimbing Umroh Samira Travel Jawa Timur
Editor : Amal Jaelani