Puasa Ramadhan sering dipahami sebatas ibadah menahan lapar dan dahaga. Padahal, dalam perspektif ekonomi Islam, puasa merupakan sarana pendidikan karakter finansial yang sangat mendasar.
Ramadhan melatih manusia mengendalikan keinginan, mengatur konsumsi, serta membangun disiplin dalam pengelolaan sumber daya.
Baca juga: ARTOTEL TS Suites Surabaya Tebar Kebahagiaan Ramadan Bersama Anak Panti
Dalam teori ekonomi konvensional, manusia diasumsikan memiliki kebutuhan tak terbatas dengan sumber daya terbatas.
Asumsi ini melahirkan perilaku konsumtif dan kompetisi tanpa akhir. Islam tidak menafikan kebutuhan manusia, namun menempatkannya dalam kerangka moderasi (wasathiyah).
Al-Qur’an menegaskan larangan berlebih-lebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-A’raf: 31).
Puasa mengajarkan moderasi itu secara praktis. Selama berjam-jam, seorang muslim belajar hidup dengan batasan. Ia menyadari bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.
Kesadaran ini sangat relevan dalam membangun disiplin finansial: kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification), mengendalikan impuls belanja, dan memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan.
Pemikiran klasik Islam telah lama menekankan dimensi ini. Dalam karya monumentalnya, Ihya Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menegaskan:
"وَاعْلَمْ أَنَّ مَقْصُودَ الشَّرْعِ مِنَ الصَّوْمِ كَسْرُ الشَّهْوَةِ وَتَضْعِيفُ قُوَى النَّفْسِ حَتَّى تَسْتَعِدَّ لِلطَّاعَةِ"
Ketahuilah bahwa tujuan syariat dari puasa adalah mematahkan syahwat dan melemahkan dorongan nafsu agar jiwa siap untuk taat.
Syahwat yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dorongan konsumsi dan kecintaan berlebihan pada harta. Dalam konteks ekonomi, puasa adalah latihan struktural untuk menundukkan impuls konsumtif.
Al-Ghazali juga menegaskan:
"لَيْسَ الزُّهْدُ فِي تَرْكِ الْمَالِ، بَلْ فِي أَلَّا يَمْلِكَكَ الْمَالُ"
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Atria Hotel Malang Gelar Aksi CSR di Tiga Masjid Sekitar
Zuhud bukan berarti meninggalkan harta, tetapi jangan sampai harta yang menguasaimu.
Pernyataan ini memberikan fondasi etis bagi disiplin finansial Islam. Harta bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dikelola dengan kesadaran tauhid. Ia amanah, bukan tujuan akhir.
Masalah ekonomi umat bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada lemahnya pengendalian diri dan etika distribusi.
Ironisnya, fenomena yang sering terjadi justru peningkatan konsumsi selama Ramadhan. Belanja makanan berlebihan, gaya hidup berbasis gengsi saat berbuka bersama, hingga lonjakan pengeluaran menjelang Idul Fitri.
Tanpa kesadaran kritis, Ramadhan bisa berubah menjadi musim konsumerisme religius.
Di sinilah puasa seharusnya berfungsi sebagai koreksi perilaku ekonomi. Puasa mendidik umat untuk hidup sederhana, memperkuat empati sosial, serta mengalihkan sebagian pengeluaran konsumtif menjadi pengeluaran produktif dan filantropis.
Zakat, infak, dan sedekah bukan pelengkap ibadah, melainkan instrumen distribusi kekayaan yang strategis.
Baca juga: Ramadhan: Etika Konsumsi dan Latihan Kendali Diri
Disiplin finansial dalam Islam juga tercermin dalam prinsip perencanaan. Spirit Ramadhan mendorong keluarga muslim untuk menyusun anggaran berbasis kebutuhan, mengurangi pemborosan, serta merancang tujuan keuangan jangka panjang yang selaras dengan nilai-nilai syariah—antara konsumsi, tabungan, investasi halal, dan kepedulian sosial.
Jika latihan pengendalian diri selama Ramadhan dilanjutkan setelahnya, maka akan lahir masyarakat yang lebih tangguh secara ekonomi. Mereka tidak mudah terjebak utang konsumtif, lebih siap menghadapi krisis, dan lebih terbuka untuk berbagi.
Dalam kerangka besar ekonomi Islam, Ramadhan adalah laboratorium sosial yang melatih jutaan umat secara serempak untuk menahan diri dan berbagi. Sebagaimana ditegaskan Al-Ghazali, inti puasa adalah mematahkan dominasi nafsu. Jika nafsu konsumsi terkendali, maka fondasi ekonomi umat akan lebih kokoh.
Akhirnya, puasa mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuan mengelolanya dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Ramadhan memberi kesempatan bagi kita untuk menata ulang orientasi ekonomi, dari sekadar kepemilikan menuju keberkahan dan kemaslahatan.
Oleh: Dr. Abdur Rohman.S.Ag.M.E.I - Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura
Editor : Amal Jaelani