Jangan Sampai Kesibukan Kita Membuat Kita Suka Menunda Shalat

Reporter : Ulul Albab
Shalat menempati posisi sentral. Ia adalah tiang agama, penanda utama hubungan hamba dengan Tuhannya. Foto: Ilustrasi/Gemini

Oleh Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

SALAH satu tantangan paling halus yang dihadapi umat Islam di era modern bukanlah kemaksiatan yang terang-terangan, tapi kesibukan yang lambat laun menggeser prioritas ibadah. 

Baca juga: Maju Menjadi Pejabat dengan Modal dari Utang, Jangan Heran Ketika Berkuasa Korupsi

Hidup bergerak cepat, tuntutan kerja menumpuk, agenda sosial dan profesional saling bertabrakan. Dalam pusaran itu, shalat sering kali menjadi korban pertama yang dikompromikan.

Bukan karena umat Islam tidak memahami kewajiban shalat. Pengetahuan agama tetap ada, kesadaran iman pun tidak hilang. Namun shalat kerap dianggap sesuatu yang “masih bisa ditunda.” 

Lima menit lagilah, setelah rapat selesailah, setelah tugas bereslah, setelah urusan dunia terasa amanlah, dan seterusnya. 

Penundaan kecil yang berulang ini lambat laun akan membentuk pola: yaitu bahwa shalat tidak lagi menjadi poros kehidupan, tapi hanya sekadar jeda di antara kesibukan.

Padahal, dalam ajaran Islam, shalat menempati posisi sentral. Ia adalah tiang agama, penanda utama hubungan hamba dengan Tuhannya. 

Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebuah isyarat bahwa shalat berfungsi menjaga ketertiban moral dan keseimbangan batin. 

Ketika shalat ditunda atau dikerjakan tanpa kesungguhan, yang melemah bukan hanya disiplin ibadah, tetapi juga ketahanan spiritual manusia.

Secara psikologis, manusia yang terus-menerus tenggelam dalam kesibukan tanpa jeda ruhani rentan mengalami kelelahan batin. 

Kecemasan meningkat, ketenangan berkurang, dan makna hidup terasa kabur. Tidak jarang kita menjumpai orang yang secara material berkecukupan dan kariernya mapan, tetapi hidupnya diliputi kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Dalam konteks ini, shalat sejatinya bukan penghambat produktivitas, tapi justru penjaga arah hidup. Shalat mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menundukkan ego, dan mengakui keterbatasannya. 

Di hadapan Allah, semua pencapaian duniawi diletakkan pada posisi yang proporsional. Inilah latihan kerendahan hati yang semakin dibutuhkan di tengah budaya kompetisi dan prestasi.

Baca juga: Akhirnya Mantan Kemenag Jadi Tersangka, Apa Pelajaran yang Bisa Diambil?

Masalah muncul ketika kesibukan duniawi tanpa disadari menggeser pusat kebergantungan manusia. Kita mulai lebih takut pada atasan, klien, atau target kerja daripada takut kehilangan kedekatan dengan Allah. 

Kita lebih cemas kehilangan peluang dunia daripada kehilangan keberkahan. Pada titik ini, shalat bukan ditinggalkan, tetapi dipinggirkan oleh logika efisiensi.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjauhi dunia. Bekerja adalah bagian dari ibadah, dan mencari nafkah adalah kewajiban. 

Namun Islam juga mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir. Shalat sebagai penyeimbang agar kesibukan tidak menjelma menjadi kelalaian.

Semakin kompleks kehidupan, semakin besar tanggung jawab yang dipikul, justru semakin besar pula kebutuhan manusia untuk menjaga keterhubungan spiritualnya. 

Shalat tepat waktu bukan semata soal disiplin, tetapi pernyataan iman bahwa Allah tetap didahulukan di tengah kesibukan apa pun.

Baca juga: Haji Khusus 2026: Antara Kehati-hatian Negara dan Kepastian Ibadah

Azan yang berkumandang lima kali sehari sejatinya bukan hanya penanda waktu ibadah. Tapi pengingat lembut agar manusia tidak larut dalam kesibukan yang menipu. 

Ia memanggil kita untuk kembali, menata niat, dan mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang kita kejar, tetapi juga tentang kepada siapa kita bersandar.

Barangkali refleksi penting bagi umat Islam hari ini bukanlah seberapa padat agenda hidup ini, tapi “apakah kesibukan tersebut masih membawa kita lebih dekat kepada Allah.” 

Sebab sesungguhnya, keberhasilan sejati tidak diukur dari banyaknya aktivitas, tapi dari keteguhan menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

Masih mau menunda-nunda shalat?

 

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru