Muktamar NU
Muktamar NU

Gelorakan Semangat Hasan Gipo, Gus Kikin Dinilai Sosok Tepat Bawa NU Mandiri di Abad Kedua

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. (Dok. Muhammad for ayojatim).
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. (Dok. Muhammad for ayojatim).

Ayojatim.com - Angin perubahan bertiup kencang di arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Memasuki abad keduanya, jamiyyah keagamaan terbesar di Indonesia ini secara tegas memilih melangkah balik ke akar sejarah: menguatkan tradisi ulama melalui sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) sekaligus menghidupkan kembali roh kewirausahaan (Nahdlatut Tujjar).

Keputusan Muktamirin yang memenangkan mekanisme AHWA dengan angka telak 401 suara dibanding 150 suara untuk pemilihan langsung menjadi sinyal kuat.

NU tak lagi ingin terjebak dalam keriuhan politik praktis. Keputusan ini kian mengunci dengan disepakatinya Pasal 7 Tata Tertib Pemilihan yang menerapkan "iddah politik" selama satu tahun bagi pengurus partai politik.

Langkah depolitisasi ini rupanya menangkap betul denyut nadi warga nahdliyin di akar rumput.

Berdasarkan survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) periode Juli-Agustus 2026, sebanyak 65,8 persen warga NU sepakat agar organisasi ini menjaga jarak aman dari politik elektoral.

Tak hanya itu, 76,1 persen responden menegaskan harapannya agar PBNU kembali fokus penuh mengurus jamaah dan kemaslahatan agama.

Di tengah bergulirnya proses penjaringan 21 nama kiai dan ulama sepuh untuk tim AHWA, peta bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU kian mengkristal.

Dua nama besar meruncing di permukaan: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Nostalgia Hasan Gipo dan Visi "Nguripi NU"

Arah angin dalam Muktamar kali ini membawa ingatan publik pada lembar awal sejarah pendirian NU. Sebelum jamiyyah ini berdiri pada 1926, rekam jejak gerakan diawali oleh Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) pada 1918.

Figur pengusaha pun bukan hal asing di PBNU, mengingat Ketua Tanfidziyah pertama adalah KH Hasan Gipo, seorang saudagar terkemuka asal Surabaya.

Kemunculan Gus Kikin yang merupakan cicit dari pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, seolah memutar kembali jarum jam sejarah ke titik ideal tersebut. Dukungan nyaring datang langsung dari tanah kelahirannya, Jombang.

"Gus Kikin ini zuriah muassis, cicit Hadratussyaikh. Darahnya sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga pengusaha, sudah mentas dengan dirinya. Insyaallah enggak golek urip nang NU, tapi iso nguripi," tegas Ketua PCNU Kabupaten Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, Minggu (30/8/2026).

Kiai yang akrab disapa Gus Fahmi ini menambahkan, rekam jejak kepemimpinan Gus Kikin saat mengomandani PWNU Jawa Timur terbukti membawa kesejukan.

Dengan kantong dukungan resmi dari 45 PCNU se-Jawa Timur, barisan akar rumput menyatakan siap sami'na wa atho'na.

Senada dengan itu, Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, juga menilai sosok Gus Kikin sebagai figur pemersatu.

"Beliau sosok yang teduh, tidak gaduh, dan selalu mementingkan ukhuwah," tuturnya.

Digitalisasi Asset dan Konsolidasi Ekonomi Nahdliyin

Gagasan kewirausahaan yang diusung bukan sekadar pelengkap wacana. Melalui napas Qanun Asasi, fokus ke depan dititikberatkan pada konsolidasi kekuatan ekonomi warga NU, mulai dari pemberdayaan UMKM berbasis perjuangan hidup hingga pemanfaatan ekosistem digital.

Modernisasi manajemen, inventarisasi, dan optimalisasi aset-aset NU menjadi agenda mendesak agar jamiyyah ini mandiri secara finansial di abad kedua.

Menanggapi arus dukungan dan dinamika yang berkembang, Gus Kikin tetap bersikap rendah hati. Ia menegaskan kepemimpinan di NU adalah amanah, bukan ambisi pribadi.

"Ini amanah, bukan niat pribadi. Bila memang ditugaskan, insyaallah saya siap. Saya selalu optimistis," ujar Gus Kikin seraya mengimbau seluruh warga nahdliyin untuk terus menjaga kerukunan.

Pesan mendalam juga terus digaungkan agar Muktamar ini menjadi momentum persatuan, mengingatkan dawuh almarhum Gus Sholah yang dikutip Gus Fahmi: jangan sampai air mata para muassis menetes melihat ulah generasi penerusnya.

Kini, arah masa depan PBNU berada penuh di tangan para ulama AHWA dan ketetapan para muktamirin.

Editor :