ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Jalan Sunyi Gus Gudfan Merawat Marhaenisme dan Islam Nusantara

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy

Oleh: Ni Kadek Ayu Wardani
Ketua DPC GMNI Surabaya Raya

Membuka Tabir: Di Mana Cahaya Itu Bersembunyi?

DI tengah riuhnya panggung politik yang kerap dipenuhi pragmatisme dan perebutan kekuasaan, selalu ada ruang sunyi yang dihuni oleh mereka yang memilih bekerja tanpa sorotan. Mereka tidak membangun popularitas, melainkan menjaga nilai, merawat gagasan, dan mengabdikan diri melalui kerja nyata.

Salah satu sosok yang saya pandang berada dalam ruang sunyi itu adalah Gudfan Arif Ghofur, atau yang akrab disapa Gus Gudfan. Namanya mungkin tidak sering menghiasi ruang publik, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Ia memilih membangun pengaruh melalui pengabdian, bukan pencitraan.

Bagi kami di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya, Gus Gudfan bukan sekadar tokoh masyarakat. Ia merupakan figur yang menghadirkan ruang dialog antara nilai-nilai Islam Nusantara dengan semangat Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno. 

Dalam pandangan kami, kedua tradisi tersebut sama-sama menempatkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil sebagai landasan perjuangan.

Marhaenisme dan Spirit Kaum Mustad'afin

Marhaenisme lahir dari pembacaan Bung Karno terhadap realitas rakyat Indonesia yang hidup dalam ketimpangan ekonomi. Marhaen menjadi simbol petani, buruh, nelayan, dan rakyat kecil yang memiliki daya hidup, tetapi terhimpit oleh struktur sosial yang tidak adil.

Di sisi lain, tradisi Islam Nusantara mengenal konsep mustad'afin, yaitu kelompok masyarakat yang dilemahkan oleh keadaan dan membutuhkan pembelaan. Kedua gagasan tersebut memiliki titik temu yang kuat dalam semangat membela kaum kecil dan menghadirkan keadilan sosial.

Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan kader-kader muda, Gus Gudfan sering menekankan bahwa perjuangan sosial tidak boleh berhenti pada retorika. Perubahan harus diwujudkan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, advokasi, dan kerja-kerja kemanusiaan yang nyata.

Catur Piwulang Sunan Drajat sebagai Etika Sosial

Nilai-nilai Catur Piwulang Sunan Drajat menjadi salah satu inspirasi penting dalam membaca kembali makna pengabdian sosial.

Wenehono teken marang wong kang wuto mengajarkan pentingnya memberikan pengetahuan kepada mereka yang kehilangan arah.

Wenehono mangan marang wong kang luwe mengingatkan bahwa keadilan ekonomi merupakan bagian dari tanggung jawab moral.

Wenehono busono marang wong kang mudo berbicara tentang menjaga martabat manusia melalui perlindungan terhadap hak-haknya.

Sementara Wenehono payung marang wong kang kudanan mengandung pesan agar masyarakat saling melindungi ketika menghadapi kesulitan.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam konteks Indonesia saat ini ketika ketimpangan sosial, kemiskinan, dan keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan bersama.

Spirit Sunan Giri dan Kemandirian Bangsa

Selain mewarisi garis keturunan Sunan Drajat, Gus Gudfan juga berasal dari trah Sunan Giri. Terlepas dari dimensi genealogis tersebut, yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai para wali diterjemahkan dalam praktik kehidupan.

Sunan Giri dikenal tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemimpin yang membangun kemandirian masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, dan tata kelola sosial.

Dalam berbagai forum, Gus Gudfan sering mengingatkan pentingnya membangun kemandirian ekonomi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Semangat berdikari yang pernah dikobarkan Bung Karno menemukan relevansinya ketika bangsa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Menjaga Api Pengabdian

Sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, saya melihat kehadiran Gus Gudfan memberikan inspirasi bagi kader-kader muda agar perjuangan tidak berhenti pada demonstrasi atau kritik terhadap negara semata.

Perjuangan juga harus diwujudkan melalui pendidikan politik, penguatan literasi, pemberdayaan masyarakat, pendampingan terhadap kelompok rentan, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang berpijak pada semangat gotong royong dan pengabdian.

Penutup

Indonesia membutuhkan semakin banyak pemimpin yang memilih bekerja dalam ketenangan, membangun masyarakat melalui keteladanan, dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana pengabdian, bukan tujuan.

Bagi kami, Gus Gudfan merupakan salah satu figur yang menginspirasi jalan pengabdian tersebut. Terlepas dari berbagai penilaian yang mungkin muncul, nilai-nilai yang diperjuangkannya layak menjadi bahan refleksi bagi generasi muda: bahwa politik dapat berpadu dengan etika, spiritualitas dapat berjalan bersama kerja sosial, dan pengabdian kepada rakyat tetap menjadi inti dari perjuangan kebangsaan.

Semoga semangat untuk menghadirkan keadilan sosial, gotong royong, dan kemanusiaan terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salam Marhaen. Salam Gotong Royong.

Editor :