ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Menakar Peran Ketua Cabang Ansor, Transformasi Kepemimpinan dan Tantangan Kemandirian Kader di Era Baru

avatar Diday Rosadi
  • URL berhasil dicopy
Nanang Hendra, Ketua PAC GP Ansor Sukodono, Lumajang. foto: dok.pri/ayojatim.
Nanang Hendra, Ketua PAC GP Ansor Sukodono, Lumajang. foto: dok.pri/ayojatim.

Oleh : Nanang Hendra, Ketua PAC GP Ansor Sukodono, Lumajang


PENDAHULUAN : Krisis Minat dan Tantangan Zaman
Gerakan Pemuda (GP) Ansor saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial.

Di satu sisi, organisasi ini memiliki struktur yang masif hingga ke pelosok desa, namun di sisi lain, muncul fenomena penurunan minat berorganisasi di tingkat akar rumput.

Gejala ini ditandai dengan sulitnya melakukan aktivasi kader di tingkat cabang. Pertanyaan besarnya: Apakah pola kepemimpinan di tingkat cabang masih relevan dengan kebutuhan kader saat ini?

Kepemimpinan Berbasis Kader: Bukan Sekadar Instruksi
Menggunakan Teori Strategi Kepemimpinan Organisasi Berbasis Pendekatan Kader, kepemimpinan di tingkat cabang seharusnya tidak lagi bersifat instruksional-top-down semata.

Seorang Ketua Cabang harus bertindak sebagai enabler (fasilitator) yang mampu membaca potensi kader.

Penurunan minat berorganisasi sering kali terjadi karena kader merasa organisasi tidak memberikan "nilai tambah" bagi kehidupan nyata mereka, melainkan hanya menjadi beban administratif atau alat politik praktis.

Analisis Perbandingan: Paradigma Ketum Addin dan Realitas Cabang
Era kepemimpinan Sahabat Addin Jauharudin membawa angin segar dengan narasi modernisasi organisasi dan kemandirian.

Visi ini menuntut Ansor untuk bertransformasi menjadi organisasi yang profesional dan mandiri secara ekonomi.

Namun, tantangan muncul di tingkat cabang. Analisis menunjukkan adanya kesenjangan (gap) antara visi pusat dan eksekusi daerah. Ketua Cabang yang gagal menerjemahkan visi kemandirian Ketum Addin ke dalam program konkret cenderung kehilangan daya tarik di mata kader.

Jika pusat bicara tentang digitalisasi dan korporasi organisasi, namun di tingkat cabang masih terjebak pada kegiatan seremonial tanpa dampak ekonomi, maka kader akan merasa organisasi tidak lagi relevan dengan perjuangan hidup mereka.

Kemandirian Ekonomi sebagai Jantung Organisasi
Keberlangsungan Ansor sangat bergantung pada sejauh mana organisasi mampu menjawab kebutuhan dasar anggotanya.

Penurunan minat berorganisasi adalah sinyal bahwa kader sedang berjuang dengan persoalan domestik (ekonomi) yang tidak terjawab oleh organisasi.

Oleh karena itu, strategi kepemimpinan ketua cabang harus bergeser dari "mobilisasi massa" menjadi "pemberdayaan ekonomi".

Solusi: Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Kader
Untuk memulihkan minat dan memastikan keberlangsungan organisasi, diperlukan langkah nyata yang menyentuh urusan "perut" dan "kesejahteraan" kader:

Metode Ketahanan Pangan: Ketua Cabang harus mampu mengonsolidasi potensi lahan dan SDM kader untuk sektor agribisnis.

Mengelola sektor pertanian atau peternakan atas nama organisasi bukan hanya soal profit, tapi soal menciptakan ekosistem di mana kader merasa "hidup" dari dan untuk Ansor.

Kemandirian Organisasi: Dengan adanya unit usaha berbasis ketahanan pangan, organisasi tidak lagi bergantung pada proposal atau bantuan pihak luar. Inilah esensi kemandirian yang dicita-citakan di era sekarang.

Kaderisasi Berkelanjutan: Ketika Ansor mampu memberikan solusi ekonomi, minat pemuda untuk bergabung akan meningkat secara alami tanpa perlu dipaksa.

Penutup
Kepemimpinan Ketua Cabang adalah kunci. Jika Ketua Cabang mampu menyelaraskan visi besar Ketum Addin tentang kemandirian ke dalam program nyata seperti ketahanan pangan.

Maka Ansor akan tetap menjadi magnet bagi pemuda. Organisasi harus menjadi rumah yang tidak hanya memberi asupan ideologi, tapi juga memberi jalan bagi kesejahteraan hidup kadernya.

Editor :