SURABAYA – Membangun kekayaan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan aset. Menentukan tujuan hidup, menjaga kesehatan, dan memahami dinamika pasar juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan yang lebih tangguh.
Perspektif tersebut dibahas dalam Wealth Wisdom 2026 di Surabaya, Senin (12/10/2026).
Memasuki tahun ke-12 penyelenggaraannya, program edukasi yang dihadirkan Permata Bank ini mengusung tema Finding Balance, Building Resilience dengan semangat Growing Together Through Changes.
Melalui tiga kelas utama, Wealth Wisdom 2026 mengajak peserta memahami kekayaan secara lebih menyeluruh, mulai dari menemukan makna hidup, menjaga kesehatan fisik, hingga mengambil keputusan finansial di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Kelas Living with Purpose Through Changes menghadirkan Andy F. Noya, jurnalis senior dan tokoh media Indonesia.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak merefleksikan pengalaman hidup untuk menemukan tujuan dan makna di balik berbagai perubahan yang telah dilalui.
Andy membuka diskusi dengan tiga pertanyaan mendasar, yakni mengapa seseorang hadir di dunia, untuk apa ia menjalani kehidupan, dan apa rencana Tuhan dalam hidupnya.
Menurut Andy, pertanyaan reflektif tersebut dapat membantu seseorang memahami perjalanan hidup sekaligus menemukan kontribusi yang bisa diberikan kepada orang lain.
“Kadang-kadang, kita tidak tahu apa rencana Tuhan dalam hidup kita. Karena itu, ketika melihat kembali pengalaman hidup, kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan: ternyata ini tugas saya di dunia,” ujar Andy.
Ia menjelaskan, pengalaman menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan, hingga melewati perubahan dapat menjadi sumber pembelajaran. Pengalaman tersebut juga berpotensi menumbuhkan empati dan mendorong seseorang untuk berbagi manfaat dengan sesama.
Nilai tersebut turut tercermin dalam berbagai inisiatif sosial yang dibangun Andy, termasuk Kick Andy Foundation dan BenihBaik.com. Baginya, pengalaman sulit dapat menjadi alasan untuk terus menanamkan kebaikan selama masih memiliki kesempatan.
Ketahanan hidup juga berkaitan erat dengan kondisi fisik. Hal ini dibahas dalam kelas Healthy Body, Resilient Mind yang menghadirkan Ade Rai, Professional Natural Bodybuilder, serta Dr. dr. Jajang Sinardja, Sp.JP(K), konsultan kardiologi dan kardiologi intervensi.
Keduanya mengajak peserta lebih memahami kondisi tubuh, membangun kebiasaan hidup sehat, serta menjaga keseimbangan di tengah aktivitas sehari-hari yang padat.
Dr. Jajang menjelaskan, penyakit kardiovaskular dapat berkembang secara bertahap tanpa selalu menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Pola makan berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan stres berkepanjangan dapat meningkatkan faktor risiko apabila berlangsung dalam jangka panjang.
“Serangan jantung memang bisa mendadak, bahkan sebagian besar tidak ada keluhan. Tetapi perlu diingat, prosesnya tidak pernah mendadak. Hal tersebut terjadi karena akumulasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang jarang kita sadari,” ujar Dr. Jajang.
Sementara itu, Ade Rai menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun gaya hidup aktif dan menerapkan pola makan yang lebih sadar. Perubahan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan masing-masing individu.
Menurut Ade Rai, aktivitas fisik tidak selalu harus berupa latihan berintensitas tinggi. Membiasakan diri untuk lebih banyak bergerak dalam kegiatan sehari-hari juga dapat mendukung kebugaran.
“Tubuh kita punya cadangan energi dalam bentuk lemak. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menggunakan cadangan energi tersebut dengan baik,” jelas Ade Rai.
Selain tujuan hidup dan kesehatan, Wealth Wisdom 2026 Surabaya membahas strategi menghadapi perubahan pasar melalui kelas Reading the Market, Building the Future.
Sesi ini menghadirkan Gema Goeyardi, edukator finansial, dan Eri Kusnadi, Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen. Keduanya membahas sejumlah faktor yang memengaruhi pasar, termasuk arah suku bunga global, harga minyak, kebijakan ekonomi, inflasi, likuiditas, nilai tukar, serta sentimen investor.
Gema menjelaskan, memahami perubahan kondisi ekonomi menjadi bekal bagi investor untuk menilai risiko sekaligus melihat peluang. Ia mengingatkan pentingnya memiliki pengetahuan investasi sebelum mengambil keputusan, alih-alih sekadar mengikuti tren atau pergerakan pasar.
“Kalau pasar sedang merah, itu bukan berarti semuanya buruk. Yang penting adalah kita tahu apa yang sedang terjadi dan kapan harus mengambil keputusan,” ujar Gema.
Senada dengan itu, Eri menilai investor perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi secara luas. Perubahan kebijakan moneter, ketegangan geopolitik, dan perkembangan ekonomi berbagai negara dapat memengaruhi pergerakan pasar serta arus investasi.
“Perubahan kondisi global yang ditandai oleh dinamika kebijakan moneter, ketegangan geopolitik, dan perkembangan ekonomi berbagai negara membuat investor perlu memiliki perspektif jangka panjang dalam mengambil keputusan,” kata Eri.
Perspektif jangka panjang tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi investasi. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi pasar, investor diharapkan dapat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih matang.
Kekayaan Bukan Sekadar Besaran Aset
Tiga kelas dalam Wealth Wisdom 2026 Surabaya menghadirkan perspektif berbeda yang saling melengkapi. Tujuan hidup membantu seseorang menentukan arah, kesehatan menjadi fondasi untuk menjalani aktivitas, sedangkan pemahaman pasar mendukung pengambilan keputusan finansial.
Melalui program ini, Permata Bank mendorong nasabah untuk melihat kekayaan secara lebih holistik. Pengelolaan aset tetap menjadi bagian penting, tetapi perlu berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi perubahan, kualitas hidup, serta perencanaan masa depan.
Editor : Amal Jaelani