MOJOKERTO, AYOJATIM.COM - Dewan Pengurus Pusat Masyarakat Adat Nusantara (DPP MATRA) resmi mengukuhkan Dewan Pengurus Pusat Gerakan Tani Masyarakat Adat (GATRA) di UTC Trawas, kawasan kaki Gunung Pawitra, Kabupaten Mojokerto, Rabu (29/7/2026). Organisasi sayap MATRA itu dibentuk untuk memperkuat peran masyarakat adat di sektor pertanian sekaligus mempercepat regenerasi petani dan penerapan hasil riset perguruan tinggi.
Ketua Umum DPP MATRA, KPH Andi Bau Malik Barammamase, mengatakan pembentukan GATRA telah dipersiapkan selama kurang lebih satu tahun. Organisasi tersebut diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat adat, dunia akademik, dan pelaku pertanian.
Baca juga: 22 Siswa SMA Santo Carolus Surabaya Lolos PTN, Ada yang Tembus ITS dan Raih Beasiswa Penuh
"Sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dari sektor pertanian. Karena itu kami membentuk Gerakan Tani sebagai wadah untuk memperkuat masyarakat adat sekaligus mendukung sektor pertanian sebagai fondasi penting bagi kemajuan bangsa," ujar Andi.
Menurutnya, MATRA selama ini berkomitmen menjaga kelestarian adat dan budaya Nusantara. Namun, upaya itu dinilai akan lebih efektif apabila disertai program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, salah satunya melalui penguatan sektor pertanian.
Andi juga mengapresiasi Universitas Surabaya (UBAYA) yang mendukung pelaksanaan pelantikan pengurus pusat GATRA.
Pelestarian Budaya dan Regenerasi Petani
Andi menegaskan MATRA tidak memosisikan diri sebagai organisasi yang berfokus pada advokasi persoalan tanah adat. Baginya, menjaga adat dan budaya merupakan fondasi agar kehidupan masyarakat, termasuk sektor pertanian, tetap berkembang.
"Ketika adat dan budaya tetap hidup, kehidupan masyarakat, termasuk sektor pertanian, akan berjalan dengan baik," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi petani. Pengurus GATRA diminta melibatkan lebih banyak generasi muda agar sektor pertanian memiliki keberlanjutan.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, MATRA berharap mahasiswa tidak hanya mengejar profesi di perkotaan, tetapi juga mampu membawa inovasi ke sektor pertanian.
Saat ini kepengurusan GATRA telah terbentuk di 33 provinsi. Dalam waktu dekat, pengurus pusat akan melakukan konsolidasi sekaligus pelantikan kepengurusan di berbagai daerah.
Hasil Riset Kampus Siap Turun ke Lapangan
Ketua DPP GATRA, Assoc. Prof. Dr. M. Syahri Roesman, mengatakan GATRA dibentuk untuk menghubungkan hasil penelitian akademik dengan kebutuhan petani di lapangan.
Baca juga: Peringati Hari Buku Nasional, Mahasiswa Ubaya Lukis Karakter Fiksi di Sampul Buku
Organisasi itu akan bergerak di berbagai sektor, mulai pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan hingga perkebunan. Program yang dijalankan meliputi budidaya, pengolahan hasil hingga pemasaran produk.
"Kami ingin hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi benar-benar diterapkan sehingga memberi manfaat bagi petani," ujarnya.
Syahri menyebut sejumlah inovasi telah disiapkan, di antaranya benih padi berpotensi menghasilkan hingga 15 ton per hektare, pengembangan komoditas rempah, peternakan kambing Saanen, serta berbagai produk berbasis tanaman lokal.
Selain itu, GATRA juga tengah mengembangkan bahan substitusi kedelai sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Perluas Pasar hingga Mancanegara
Tak hanya mendorong peningkatan produksi, GATRA juga membangun jaringan pemasaran internasional. Menurut Syahri, jaringan MATRA di Singapura dan Malaysia telah menyatakan kesiapan membantu memasarkan hasil pertanian Indonesia.
Komoditas unggulan seperti pala dan cengkeh dari Maluku menjadi salah satu produk yang diproyeksikan masuk pasar ekspor melalui jejaring tersebut.
Baca juga: Ramai Isu Child Grooming, Dosen Psikologi Ubaya Ungkap Alur Manipulasi Pelaku
"Kami ingin hasil pertanian Indonesia memiliki akses pasar yang lebih luas melalui kerja sama yang dibangun secara mandiri," katanya.
Pertanian Modern untuk Anak Muda
Syahri mengakui regenerasi petani menjadi tantangan besar karena mayoritas petani saat ini telah berusia lanjut. Kondisi itu mendorong GATRA mengajak generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang modern dan menjanjikan.
Menurutnya, pertanian kini tidak lagi identik dengan pekerjaan manual. Pemanfaatan greenhouse, drone, teknologi digital, analisis bisnis, hingga sistem pertanian presisi membuka peluang baru bagi anak muda untuk terjun ke sektor tersebut.
Selain regenerasi, GATRA juga berharap pemerintah memberi ruang lebih luas bagi inovasi pertanian melalui penyederhanaan regulasi, terutama dalam proses legalisasi varietas baru hasil penelitian.
Sebagai langkah awal, organisasi itu berencana melakukan audiensi dengan kementerian terkait guna menyampaikan berbagai usulan mengenai penguatan inovasi, hilirisasi produk pertanian, serta peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia.
Editor : Alim Perdana