Pakar UK Petra Soroti Pagar Mall Surabaya yang Batasi Warga

Reporter : Alim Perdana
Pagar tinggi mal di Surabaya soroti isu estetika dan keterbukaan ruang publik. Foto/UK Petra

SURABAYA, AYOJATIM.COM - Maraknya pemasangan pagar mall Surabaya memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat ihwal masa depan tata kota Surabaya dan batas keterbukaan ruang publik. Sejumlah pusat perbelanjaan berlomba-lomba mendirikan pembatas fisik masif demi alasan pengamanan gedung, namun langkah ini justru mengikis esensi kawasan komersial sebagai area interaksi sosial warga.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra, Rully Damayanti, menilai tren penutupan ruang ini sering kali mengabaikan keharmonisan visual. Menurutnya, perancangan elemen luar semestinya berpijak pada konsistensi pola dan material bangunan utama agar wujud arsitektur tetap proporsional.

Baca juga: Waspada Mikroplastik, Teh Celup Anda Mungkin Terkontaminasi!

Tanpa kesinambungan estetika, struktur pembatas yang menjulang justru membuat kawasan komersial tampak eksklusif dan terisolasi dari lingkungan sekitar. Padahal, esensi ruang publik menuntut adanya koneksi visual yang cair antara bangunan dan aktivitas harian masyarakat.

Baca juga: Tagar Kabur Aja Dulu! Seruan Generasi Muda untuk Perubahan

Praktik pengamanan ketat lewat pembatas masif tersebut dalam dunia perancangan lazim dikategorikan sebagai arsitektur defensif Surabaya. Strategi ini lazim dipakai pengembang untuk meredam potensi gangguan keamanan, vandalisme, maupun risiko intrusi melalui rekayasa fisik.

Kendati demikian, pengelola kawasan tidak harus mengorbankan keterbukaan kota demi faktor keamanan semata. Penerapan konsep soft border atau batas halus lewat pemanfaatan vegetasi dan struktur transparan menawarkan solusi alternatif yang jauh lebih ramah pandangan.

Baca juga: Etika Mengkritik di Media Massa Menurut Ajaran Islam

Pagar tanaman atau pembatas rendah setinggi kisaran 80 sentimeter terbukti efektif mengamankan aset tanpa harus memutus interaksi visual warga kota. Melalui pendekatan desain yang proporsional, fungsi pengamanan gedung tetap berjalan optimal tanpa mengorbankan kenyamanan publik.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru