Menimbang Ulang Makna Lebaran di Tengah Gelombang Konsumerisme
Idul Fitri selalu datang dengan dua wajah: spiritualitas yang menguat dan konsumsi yang melonjak. Di satu sisi, umat Islam kembali kepada fitrah setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di sisi lain, euforia lebaran kerap diiringi lonjakan belanja yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai kesederhanaan. Di titik inilah, Idul Fitri perlu dimaknai ulang—bukan sekadar perayaan, tetapi momentum transformasi menuju ekonomi Islam yang berkeadilan.
Baca juga: Naba’, Khabar, dan Tabayyun: Menelusuri Etika Kewartawanan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist
Ramadan sejatinya adalah madrasah pengendalian diri. Selama satu bulan, umat Islam dilatih menahan lapar, dahaga, dan hasrat konsumtif. Latihan ini tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekonomi. Islam mengajarkan bahwa konsumsi bukan sekadar pemenuhan keinginan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral.
Dan, puncak dari proses ini adalah zakat fitrah, sebuah instrumen yang menghubungkan kesalehan individu dengan keadilan sosial.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, zakat fitrah berfungsi menyucikan jiwa sekaligus memberi makan kepada fakir miskin. Artinya, sejak awal Islam telah membangun fondasi ekonomi yang menekankan distribusi, bukan sekadar akumulasi. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 7, agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya.
Antara Konsumsi dan Keadilan Sosial
Fenomena yang terjadi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, menunjukkan bahwa Idul Fitri menjadi motor penggerak ekonomi. Tradisi mudik, belanja kebutuhan lebaran, hingga peningkatan aktivitas pasar mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Namun, pertumbuhan ini seringkali bersifat sesaat dan tidak selalu diiringi dengan pemerataan.
Pemikiran Ibn Khaldun mengingatkan bahwa ketimpangan ekonomi dapat melemahkan solidaritas sosial dan merusak struktur masyarakat. Ketika kekayaan hanya berputar pada kelompok tertentu, maka stabilitas sosial akan terganggu. Dalam konteks kekinian, fenomena konsumsi berlebihan saat lebaran berpotensi memperlebar jarak antara yang mampu dan yang tidak.
Hal ini juga dikritisi oleh Muhammad Umer Chapra, yang menekankan bahwa tujuan ekonomi Islam bukan hanya pertumbuhan, tetapi keadilan dan keseimbangan. Tanpa distribusi yang adil, pertumbuhan ekonomi akan kehilangan makna sosialnya.
Dari Zakat Konsumtif ke Produktif
Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada pembagian zakat yang bersifat konsumtif. Lebih dari itu, ia harus menjadi pintu masuk menuju penguatan ekonomi umat yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya transformasi zakat menjadi produktif—dikelola untuk pemberdayaan ekonomi, seperti modal usaha, pelatihan, dan penguatan UMKM.
Baca juga: Semarak Ramadan, Indomaret Fresh Kartini Gelar Lomba Mewarnai Kaligrafi Anak
Pemikiran Abu Hamid al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan syariah adalah menjaga keseimbangan hidup manusia, termasuk dalam aspek ekonomi. Keseimbangan ini hanya dapat tercapai jika distribusi kekayaan berjalan secara adil dan berkelanjutan.
Di Jawa Timur dan Madura, potensi ini sangat besar. Tradisi silaturahmi, berbagi, dan solidaritas sosial merupakan modal sosial yang kuat. Jika dikombinasikan dengan pengelolaan zakat dan wakaf yang profesional, maka Idul Fitri dapat menjadi titik awal kebangkitan ekonomi berbasis komunitas.
Menjemput Falah di Hari Kemenangan
Konsep falah dalam Islam tidak hanya berarti kesejahteraan material, tetapi juga mencakup keberkahan dan keadilan sosial. Idul Fitri adalah simbol kemenangan, tetapi kemenangan itu akan kehilangan makna jika tidak diikuti dengan perubahan perilaku ekonomi.
Kita perlu bertanya secara jujur: apakah setelah Ramadan, kita menjadi lebih peduli terhadap sesama? Apakah pola konsumsi kita menjadi lebih bijak? Ataukah kita kembali pada kebiasaan lama yang konsumtif dan individualistik?
Dari fitrah menuju falah adalah perjalanan panjang. Ia membutuhkan komitmen, kesadaran, dan keberanian untuk berubah. Idul Fitri harus menjadi titik balik—dari ekonomi yang berorientasi pada diri sendiri menuju ekonomi yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Baca juga: Ilmu, Harta, dan Niat, Refleksi Hadis tentang Orientasi Hidup di Tengah Budaya Materialisme
Jika nilai-nilai Ramadan mampu dihidupkan dalam praktik ekonomi sehari-hari, maka Idul Fitri tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam membangun ekonomi Islam yang adil, inklusif, dan berkeadaban.
Ditulis oleh:
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I
Dekan Fakultas Keislaman UTM
-
Editor : Amal Jaelani