Harmoni Singkawang, Kala Cap Go Meh dan Ramadan Berjalan Berdampingan

Reporter : Ali Masduki
Bersama Bobon Santoso, Extrajoss turut hadir memeriahkan Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang Kalimantan Barat. Foto/Extrajoss

SINGKAWANG – Wajah Indonesia yang paling sejuk terpancar dari sudut Kalimantan Barat pada awal Maret ini. Di saat umat Muslim menunaikan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk, masyarakat Singkawang tetap tumpah ruah merayakan puncak Cap Go Meh pada 3 Maret 2026. 

Dua momentum besar ini tidak saling berbenturan, melainkan berjalan beriringan dalam balutan toleransi yang mengakar.

Singkawang, yang baru saja dinobatkan sebagai peringkat kedua Kota Paling Toleran di Indonesia versi SETARA Institute 2024, kembali membuktikan predikat tersebut bukan sekadar angka di atas kertas. 

Di tengah dentuman perkusi barongsai dan atraksi tatung yang memukau, suasana tetap kondusif dan penuh rasa hormat antarumat beragama.

Kemeriahan tahun ini terasa kian bertenaga dengan kehadiran Extrajoss yang menggandeng figur publik Bobon Santoso. Memasuki tahun ketiga komitmennya, merek minuman energi ini konsisten mendampingi perayaan ikonik masyarakat Tionghoa tersebut.

“Singkawang adalah contoh nyata bagaimana keberagaman dirawat. Masyarakatnya tetap rukun menjaga budaya tanpa mengusik satu sama lain. Ini adalah energi positif yang sangat nyata,” ujar Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, saat memantau langsung perayaan di lokasi.

Bagi warga setempat, Cap Go Meh adalah simbol penyempurnaan dan harapan. Namun di tahun 2026 ini, maknanya meluas menjadi ujian sekaligus bukti kematangan sosial. 

Tidak ada dominasi satu golongan; semua elemen masyarakat, mulai dari etnis Tionghoa, Melayu, hingga Dayak, melebur dalam sukacita yang sama.

Dikenal sebagai "Chef Rakyat", Bobon Santoso hadir bukan sekadar sebagai pemanis acara. Ia berbaur langsung dengan komunitas tatung dan membagikan sekitar 20.000 paket minuman energi kepada pengunjung sebagai bentuk dukungan fisik bagi mereka yang terjaga menjaga tradisi.

“Cap Go Meh itu perayaan rasa. Lihat saja Lontong Cap Go Meh, itu bukti akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara dalam satu piring. Merayakannya di tengah bulan Ramadan terasa sangat indah. Yang beribadah tetap fokus, yang merayakan tetap sukacita,” kata Bobon.

Kehadiran brand seperti Extrajoss dalam momentum ini melampaui urusan komersial. Dukungan terhadap operasional komunitas tatung dan ribuan wisatawan menjadi simbol dukungan terhadap semangat pantang menyerah masyarakat dalam menjaga persatuan di tengah tantangan zaman.

Momentum ini mengirimkan pesan kuat dari perbatasan Kalimantan: bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperkaya identitas bangsa. 

Singkawang telah menunjukkan bahwa di bawah langit yang sama, energi baik dan rasa saling menghormati adalah fondasi terkuat untuk terus bergerak maju.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru