Menjelang Ramadlan, AYO Menata Hati, Niat, dan Ekonomi Umat

ayojatim.com
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Foto: dok-pribadi dor Ayojatim

Ekonomi syariah adalah proyek peradaban yang menyatukan laba dengan tanggung jawab. Ketika manusia sadar bahwa setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban, pasar tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga matang secara moral.

Menjelang detik-detik bulan suci Ramadlan tiba, biasanya segala bentuk aktivitas pasar juga akan ikut meningkat. Kebutuhan pokok ikut melambung, sejalan juga dengan aktivitas rumah tangga juga mulai sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan menjelang bulan puasa.

Baca juga: Sifat Ghaib Allah dan Moral Ekonomi, Menata Pasar dengan Nurani

Namun, hal tersebut kadang hanya menjadi sebuah euforia, dan seringkali berhenti pada aspek materi saja.

Persiapan ibadah puasa di bulan suci Ramadlan sejatinya harus lebih dari sekadar menyiapkan perut dan kantong belanja, namun juga harus menjadi momentum menata hati, menajamkan niat, dan memperkuat kesadaran sosial kita semua sebagai makhluk sosial.

Dalam perspektif ekonomi Islam, Ramadlan bukan sekadar bulan ritual. Bulan suci Ramadhan juga adalah periode transformasi internal spiritual yang menuntut pengendalian diri, moderasi dalam konsumsi, dan tentu juga sebuah empati sosial.

Dengan cara tersebut, momen bulan suci Ramadlan sekaligus berfungsi sebagai laboratorium etika ekonomi.

Ramadhan juga akan menguji kemampuan manusia menahan dorongan konsumtifnya, juga menata prioritas kebutuhan, serta juga akan memperkuat solidaritas terhadap kelompok rentan di ruanh lingkup sosialnya.

Dalam Kitāb Asrār al-Ṣaum, Imam Al-Ghazali menegaskan melalui karya monumentalnya yaitu Ihya Ulum al-Din. Imam Al-Ghazali menulis :

فَإِنَّ الصَّوْمَ يُضَعِّفُ الشَّهْوَةَ، وَيَكْسِرُ سَوْرَةَ النَّفْسِ، وَيُقَوِّي دَوَاعِي التَّقْوَى

“Sesungguhnya puasa itu melemahkan syahwat, mematahkan gejolak hawa nafsu, dan menguatkan dorongan untuk bertakwa.”

Pesan tersebut memiliki implikasi praktis, bagaimana ibadah puasa yang akan kita laksanakan, bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu menjadi alat pengendalian hawa nafsu, yang memungkinkan umat menata konsumsi secara rasional, menilai kebutuhan riil, dan menempatkan harta sebagai sarana keberkahan.

Dua hari menjelang bulan suci Ramadlan, menjadi sebuah momentum sekaligus menjadi waktu penting untuk melakukan tiga persiapan strategis bagi umat Muslim.

1. Persiapan batin (niyyah)

Baca juga: Ramadhan di Tanah Suci 2026

Bagaimana kita mulai menata niat, agar ibadah puasa kita dan pengelolaan harta menjadi sarana takwa, bukan rutinitas belaka.

2. Persiapan konsumsi

Buying Management, dimana kita membeli berbagai hal kebutuhan secukupnya saja, walaupun kita mampu, dan menghindari pemborosan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyiapkan bahan pokok sesuai kebutuhan (kifāyah).

3. Persiapan sosial

Bulan suci Ramadhan juga harus menjadi momentum untuk menguatkan solidaritas sosial. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang tepat sasaran, serta juga bagaimana mendukung UMKM halal lokal, untuk sebuah tujuan ekonomi berkelanjutan.

Dengan kesadaran tersebut, semoga juga bulan suci Ramadlan tahun ini, tidak hanya akan menjadi sebuah ritual personal, namun juga akan melahirkan sebuah energi transformasi kolektif secara spiritual dann sosial.

Baca juga: Fakultas Keislaman UTM Gandeng IARFC, Perkuat Kurikulum Ekonomi Syariah Menuju Prodi Unggul 2026

Semoga keberkahan Ramadhan juga akan mendorong masyarakat berpikir ulang tentang konsumsi, distribusi harta, dan solidaritas sosial dimasa mendatang.

Maka menjelang bulan suci Ramadlan tiba, menjadi kesempatan untuk kita semua untuk berkontemplasi, merenung dan memulai perjalanan perubahan. Setidaknya, dari konsumtif ke cukup, dari individualistik ke peduli, dan dari orientasi materi semata menuju keseimbangan moral dan sosial.

Jika disambut dengan kesadaran semacam ini, Ramadlan akan melahirkan masyarakat yang lebih adil, berdaya, dan penuh keberkahan.

 

Ditulis oleh:

Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I
Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru