William Yani, Tokoh Pemuda NTT Sebut Kasus Kematian YBS Sebuah Tragedi Kemanusiaan

Reporter : Diday Rosadi
William Yani Wea, Tokoh Pemuda NTT. foto: dok/istimewa.

JAKARTA - Kasus bunuh diri bocah 10 tahun, Yohannes Bastian Soga (YBS) yang terjadi di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi keprihatinan publik. Bahkan William Yani Wea, tokoh pemuda NTT di Jakarta menyebut peristiwa itu sebagai tragedi kemanusiaan.

Putra almarhum tokoh nasional Jacob Nua Wea ini mengatakan apa yang terjadi di Ngada itu adalah peristiwa yang memilukan. Sebab, karena kemiskinan seorang bocah rela mati demi tidak menyusahkan ibunya.

Menurutnya peristiwa ini harus menjadi evaluasi dan tanggungjawab bersama, terutama pemerintah, baik pusat mau pun daerah.

"Ini jelas sebuah tragedi kemanusiaan. Bocah ini hanya ingin punya buku dan pena untuk sekolah. Tapi kemiskinan membuat orangtuanya tak mampu memenuhi keinginan tersebut. Akhirnya, ia memilih mati dengan bunuh diri," tutur pria yang akrab disapa Willy itu dengan nada sedih, Sabtu (7/2/2026).

Willy yang merupakan tokoh pemuda NTT asal Nagekeo tersebut berharap kejadian tragis seperti ini tidak terjadi lagi. Baik itu di NTT mau pun di wilayah Indonesia lainnya. Apalagi pemerintah tengah meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (SP IMPPI) menegaskan, pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan gratis berkualitas. Karena itu, seharusnya tidak ada beban biaya apa pun kepada siswa mau pun wali siswa.

"Apalagi almarhum bersekolah di sekolah negeri. Seharusnya tidak ada pungutan biaya apa pun dari sekolah. Jangan sampai program mulia MBG tercoreng dengan adanya pungutan di sekolah. Karena saya dengar Yohannes dibebankan biaya Rp1,2 juta oleh sekolah," ujar Willy.

Untuk diketahui, Yohannes bocah kelas IV SD itu sebelum ditemukan tewas sedang duduk di bale-bale di luar pondokan tempatnya tinggal. Menurut Saksi, ketika itu YBS tampak murung.

YBS tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun, sementara ibunya yang asal Nagekeo tinggal di desa tetangga dan harus menafkahi lima anak, termasuk YBS. Saksi mengatakan, ayah kandung YBS meninggal ketika dia masih dalam kandungan.

Faktor kematian YBS itu terungkap dari surat yang ia tulis sebelum bunuh diri. Korban ditemukan tergantung dengan seutas tali di pohon cengkeh oleh tetangganya pada Kamis, 29 Januari 2026.

Diterjemahkan dari bahasa setempat, surat itu berbunyi:

Surat buat Mama Reti. Mama aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama.

Editor : Diday Rosadi

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru