Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
DI PENGHUJUNG 2025, Jawa Timur layak dibaca secara lebih terbuka dan utuh. Bukan semata karena provinsi ini kembali mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil di atas rata-rata nasional, tetapi karena tantangan pembangunannya kini semakin kompleks.
Baca juga: Kejati Jatim Tahan Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Dana Pendidikan Rp127 M
Pertumbuhan, ketahanan sosial, dan keberlanjutan tidak lagi bisa dipisahkan sebagai agenda sektoral. Ketiganya saling menentukan.
ICMI Jawa Timur, melalui kajian lintas sektor yang dirilis secara berseri sepanjang tahun ini, mencoba membingkai pembangunan daerah bukan dari satu sudut pandang, melainkan dari keseluruhan ekosistem kebijakan publik.
Pertumbuhan: Stabil, tetapi Menuntut Kualitas
Dari sisi ekonomi makro, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan PDRB Jawa Timur sepanjang 2024–2025 berada dalam kisaran sekitar 5 persen secara year-on-year, relatif sejalan—bahkan pada beberapa triwulan sedikit di atas—pertumbuhan nasional.
Struktur ekonomi Jawa Timur masih ditopang oleh industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian, tiga sektor yang secara historis memberi daya tahan terhadap gejolak global.
Namun, indikator makro yang stabil tidak otomatis bermakna pertumbuhan yang berkualitas. BPS juga mencatat bahwa kontribusi sektor padat karya formal belum sepenuhnya dominan, sementara sektor informal masih menyerap proporsi tenaga kerja yang besar.
Ini menjadi pengingat penting: bahwa pertumbuhan perlu dilihat dari dampaknya terhadap pekerjaan layak dan produktivitas, bukan hanya angka agregat.
Ketahanan Sosial: Lebar Akses, Belum Merata Mutu
Pada sektor sosial—pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial—Jawa Timur menghadapi paradoks khas provinsi besar. Yaitu akses relatif luas, tetapi kesenjangan mutu layanan antarwilayah masih nyata.
Indikator pendidikan seperti Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah (BPS, 2024–2025) menunjukkan tren meningkat. Demikian pula sektor kesehatan, dengan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional yang luas dan perbaikan angka harapan hidup.
Namun laporan Kementerian Kesehatan dan BPS sama-sama menggarisbawahi masalah klasik, yaitu: distribusi tenaga kesehatan dan kualitas fasilitas di wilayah tapal kuda, Madura, dan kawasan perdesaan masih tertinggal dibandingkan kawasan metropolitan.
Pada sektor kemiskinan dan perlindungan sosial, Jawa Timur berhasil menjaga persentase penduduk miskin dalam tren menurun, tetapi angka tersebut masih berada di sekitar satu digit atas, dengan kerentanan tinggi pada kelompok pekerja informal dan petani kecil. Artinya, ketahanan sosial belum sepenuhnya kokoh menghadapi tekanan ekonomi atau bencana.
Infrastruktur dan Pangan: Mesin Nyata Ketahanan Daerah
Pembangunan infrastruktur dan ketahanan pangan menjadi dua sektor yang relatif menunjukkan konsistensi kebijakan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sebagaimana tercermin dalam data Kementerian PUPR dan BPS, terus memperbaiki konektivitas jalan, transportasi logistik, dan kawasan industri.
Meski demikian, kesenjangan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah, terutama dalam menghubungkan pusat pertumbuhan dengan daerah pinggiran.
Di sektor pangan, Jawa Timur tetap menjadi salah satu lumbung nasional utama. Data Kementerian Pertanian dan BPS mengonfirmasi bahwa produksi padi dan sejumlah komoditas strategis relatif stabil, bahkan menjadi penyangga inflasi pangan nasional.
Tantangannya kini bukan hanya produksi, melainkan kesejahteraan petani, regenerasi SDM pertanian, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Keberlanjutan Lingkungan: Agenda yang Tak Bisa Ditunda
Baca juga: Nisfu Sya‘ban, Malam yang Mengajak Kita Berdamai dengan Diri
Sektor energi, lingkungan, dan sumber daya alam menjadi titik refleksi penting. Laporan dari KLHK dan BPS menunjukkan bahwa tekanan terhadap daya dukung lingkungan—alih fungsi lahan, pencemaran, dan risiko bencana hidrometeorologi—semakin meningkat. Di sisi lain, pasokan energi dan elektrifikasi relatif terjaga dengan baik.
Inilah paradoks pembangunan modern: stabilitas energi tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Jawa Timur perlu melompat lebih jauh pada pengembangan energi terbarukan, ekonomi hijau, dan pengelolaan sumber daya yang berorientasi jangka panjang.
Menyatukan Arah: Dari Capaian ke Kepercayaan
Jika seluruh sektor dibaca sebagai satu kesatuan, maka arah pembangunan Jawa Timur 2025 dapat dirumuskan demikian: ekonomi relatif kuat, sosial cukup tangguh, tetapi keberlanjutan masih rapuh. Ini bukan vonis, tetapi membuka peta jalan, menggelar karpet merah untuk persiapan perjalanan memasuki tahun 2026.
Bagi ICMI Jawa Timur, tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan angka, melainkan membangun kepercayaan publik—bahwa pertumbuhan bekerja (pekerjaan) untuk banyak orang, perlindungan sosial ada saat dibutuhkan, dan lingkungan, tidak dikorbankan demi target jangka pendek.
Pembangunan yang matang selalu ditandai oleh keberanian melihat diri sendiri secara jernih. Jawa Timur telah melaju jauh. Kini saatnya memastikan bahwa arah laju itu benar, adil, dan berkelanjutan. SELAMAT BUAT PEMPROV JATIM.
Editor : Alim Perdana