ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Mengapa Negara Berkembang Lebih Rentan terhadap KDRT?

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Zahrudin Afnan, Magister Pendidikan Biologi dan Guru Biologi. Foto: Dok-pribadi/Ayojatim
Muhammad Zahrudin Afnan, Magister Pendidikan Biologi dan Guru Biologi. Foto: Dok-pribadi/Ayojatim

OPINI, AYOJATIM - Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seseorang untuk pulang dan mendapatkan dukungan. Kenyataannya, bagi sebagian orang, rumah justru menjadi tempat terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

KDRT bukan sekadar persoalan pertengkaran suami dan istri, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan ekonomi, kesehatan mental, ketimpangan gender, dan relasi kuasa. Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika tekanan ekonomi dan lemahnya akses terhadap perlindungan bertemu dalam kehidupan rumah tangga.

Data yang ditampilkan dalam buku Domestic Violence in Health Contexts: A Guide for Healthcare Professions karya Parveen Ali dan Julie McGarry menunjukkan bahwa domestic violence and abuse (DVA) dapat berbentuk kekerasan fisik, seksual, psikologis, ekonomi, serta coercive control. Kekerasan tidak selalu berupa pukulan. Mengontrol uang pasangan, melarang pasangan bekerja, mengancam, mempermalukan, mengisolasi pasangan dari keluarga, dan memaksa hubungan seksual juga merupakan bentuk kekerasan.

KDRT ditemukan di berbagai negara, tetapi beban kekerasan cenderung lebih tinggi di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah. WHO memperkirakan sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual. Pada negara-negara termiskin, sekitar 37% perempuan mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan sepanjang hidupnya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan beberapa kawasan Eropa yang berada pada kisaran 16–23%.

Perbedaan ini tidak berarti negara maju terbebas dari KDRT. Faktor sosial, ekonomi, budaya, sistem perlindungan, dan pelaporan turut memengaruhi besarnya angka yang tercatat.

Data dalam buku Ali dan McGarry memperlihatkan bahwa studi WHO terhadap 24.097 perempuan dari berbagai negara menemukan prevalensi kekerasan fisik sepanjang hidup berkisar 15–71%, sedangkan kekerasan seksual berkisar 6–59%. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa KDRT sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat.

Ekonomi dan Kehidupan Rumah Tangga

Mengapa ekonomi sangat berpengaruh terhadap rumah tangga? Jawabannya bukan karena orang miskin lebih mudah melakukan kekerasan. KDRT dapat terjadi pada keluarga miskin, kelas menengah, maupun keluarga kaya. Ekonomi lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan tekanan, ketergantungan, dan konflik dalam keluarga.

Kebutuhan makanan, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, cicilan, dan kebutuhan sehari-hari membutuhkan kestabilan finansial. Ketika pendapatan tidak mencukupi, pasangan dapat mengalami stres kronis. Konflik mengenai uang kemudian dapat berkembang menjadi pertengkaran mengenai pekerjaan, utang, kebutuhan anak, atau pembagian tanggung jawab.
Ketergantungan ekonomi juga dapat membuat korban semakin sulit meninggalkan hubungan yang penuh kekerasan. Seseorang yang tidak mempunyai penghasilan sendiri mungkin takut kehilangan tempat tinggal, tidak mampu memenuhi kebutuhan anak, atau tidak memiliki biaya untuk memulai kehidupan baru. Pelaku dapat memanfaatkan kondisi tersebut sebagai alat kontrol.

Kekerasan ekonomi bahkan dapat dilakukan secara langsung, misalnya melarang pasangan bekerja, mengambil penghasilan pasangan, mengontrol seluruh uang keluarga, membuat utang atas nama pasangan, atau merusak harta benda. Dalam kondisi seperti ini, ekonomi bukan sekadar sumber konflik, tetapi berubah menjadi alat kekuasaan untuk mengendalikan pasangan.

Ekonomi dan Kesehatan Mental

Tekanan ekonomi juga berdampak terhadap kesehatan mental suami dan istri. Kehilangan pekerjaan, pendapatan yang tidak stabil, utang, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan keluarga dapat menimbulkan kecemasan, stres, rasa gagal, kelelahan emosional, dan gangguan tidur.

Kondisi tersebut dapat memperburuk komunikasi dalam rumah tangga. Pasangan yang sudah mengalami tekanan berat lebih mudah mengalami konflik. Masalah kecil dapat menjadi pertengkaran besar ketika kemampuan mengendalikan emosi semakin berkurang.

Hubungan antara KDRT dan kesehatan mental juga bersifat dua arah. Kekerasan dapat menyebabkan trauma, kecemasan, depresi, dan berbagai gangguan psikologis.

WHO menyebutkan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan memiliki risiko lebih besar mengalami berbagai masalah kesehatan fisik dan mental.

Faktor seperti pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak, menyaksikan kekerasan dalam keluarga, penggunaan alkohol yang berbahaya, serta norma yang membenarkan kekerasan juga dapat meningkatkan risiko kekerasan pasangan.
Dampaknya bahkan dapat terjadi selama kehamilan.

KDRT dapat dimulai atau meningkat selama kehamilan dan berhubungan dengan berbagai dampak buruk, seperti persalinan prematur, bayi lahir mati, berat badan lahir rendah, dan komplikasi kehamilan. Artinya, KDRT tidak hanya merusak hubungan pasangan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan anak.

Mengapa Negara Berkembang Lebih Rentan?

Tingginya KDRT di negara berkembang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kemiskinan. Masalah tersebut biasanya merupakan gabungan antara kemiskinan, ketimpangan gender, pendidikan, norma sosial, ketergantungan ekonomi, dan terbatasnya layanan perlindungan.

Penelitian pada puluhan negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan bahwa perempuan dengan kondisi ekonomi dan pemberdayaan yang lebih rendah cenderung lebih rentan mengalami kekerasan oleh pasangan. Pemberdayaan perempuan, akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan sumber daya ekonomi dapat menjadi bagian penting dari pencegahan KDRT.

Masalah lainnya adalah rendahnya keberanian korban untuk mencari bantuan. Data yang dikutip Ali dan McGarry menunjukkan bahwa di banyak negara, kurang dari 40% perempuan yang mengalami DVA mencari pertolongan. Bantuan dari polisi bahkan dalam banyak negara berada di bawah 10%, sedangkan bantuan dari tenaga kesehatan kurang dari 6%.

Rasa malu, takut terhadap pelaku, ketergantungan ekonomi, stigma, dan anggapan bahwa tidak ada pihak yang dapat membantu menjadi hambatan utama.

KDRT akhirnya membentuk lingkaran yang sulit diputus: tekanan ekonomi meningkatkan stres, stres memperburuk konflik, kekerasan merusak kesehatan mental dan kemampuan ekonomi korban, sedangkan ketergantungan ekonomi membuat korban semakin sulit keluar dari kekerasan.

KDRT karena itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan nasihat agar pasangan lebih sabar. Pencegahan membutuhkan pendidikan tentang relasi sehat, pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan mental, perlindungan hukum, dan akses bantuan yang mudah bagi korban.

Rumah tangga yang sehat bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah. Rumah tangga yang sehat adalah rumah yang mampu menyelesaikan masalah tanpa menjadikan salah satu anggotanya sebagai korban.

Uang memang penting untuk menjaga kestabilan keluarga, tetapi ekonomi saja tidak cukup. Rumah tangga membutuhkan komunikasi, penghormatan, kesetaraan, keamanan, dan kesehatan mental agar tekanan kehidupan tidak berubah menjadi kekerasan.

 

Ditulis oleh: Muhammad Zahrudin Afnan-Magister Pendidikan Biologi dan Guru Biologi

Editor :