SURABAYA, AYOJATIM.COM - Kreativitas anak-anak kembali mendapat panggung melalui pameran fotografi bertajuk "What We See" yang digelar di Wisma Jerman Surabaya.
Pameran ini menampilkan karya 16 siswa anggota Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan menjadi ruang ekspresi bagi para fotografer cilik untuk menyampaikan cara mereka memandang dunia.
Melalui kamera, anak-anak merekam berbagai hal sederhana yang kerap luput dari perhatian orang dewasa, mulai dari momen keseharian, ekspresi wajah, permainan cahaya, hingga sudut-sudut ruang yang menyimpan cerita. Hasilnya, lahirlah karya-karya yang jujur, spontan, dan sarat makna dari perspektif khas anak-anak.
Kurator pameran, Idealita Ismanto, mengatakan bahwa "What We See" menjadi wadah bagi para siswa untuk menunjukkan hasil proses belajar fotografi yang telah mereka jalani selama hampir tiga tahun.
"Pameran ini merupakan ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan karyanya. Dari arsip karya selama hampir tiga tahun belajar, karya-karya yang terpilih menjadi pengingat bahwa fotografi bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak-anak, tentu dengan bimbingan yang tepat," ujarnya saat pembukaan pameran.
Sebanyak 16 fotografer cilik terlibat dalam pameran ini, yakni Rafardan Abhinara Atmaja, Keanu Pramono, Brian Delta Ramadhan, Muhammad Rayyan Firdaus, Celine Justopo, Nicole Arno Priyono, Nelson Arno Priyono, Muhammad Ammar Faqih, Giannino Arkananta Byan, Helsa Emunahope, Estrella Dya Kumaralalita, Leona Sarah Emyra, Jasmine Alyka Fernanda, Deandra Rahmi Davintio, Keanu Pramono Dewa, dan Ibrahim Maliq Parsa.
Kepala SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Ririn Indriyanti, mengaku bangga melihat hasil karya para siswa yang mampu mengolah pengamatan menjadi karya visual yang bermakna.
"Melalui pameran What We See, anak-anak menunjukkan bahwa mereka mampu mengamati, merasakan, dan menceritakan dunia di sekitar mereka dengan cara yang unik dan penuh makna. Setiap foto bukan hanya hasil jepretan kamera, tetapi juga cerminan kreativitas, kepekaan, dan keberanian mereka dalam mengekspresikan diri," kata Ririn.
Menurutnya, pengalaman berpameran ini dapat menjadi langkah awal bagi para siswa untuk terus berkarya, berinovasi, dan percaya pada potensi yang mereka miliki.
Apresiasi juga datang dari Management Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber. Ia menilai pameran tersebut membuka kesempatan bagi orang dewasa untuk melihat dunia dari sudut pandang anak-anak yang sering kali berbeda dan menyegarkan.
"Sebagai orang dewasa, mungkin kita tidak pernah melihat sesuatu dari perspektif anak-anak beserta pemahaman mereka. Kita juga bisa belajar dari cara mereka melihat dunia. Saya berharap pameran fotografi What We See dapat menginspirasi kita untuk melihat sesuatu yang biasa dengan cara yang luar biasa seperti yang dilakukan anak-anak ini," ujarnya.
Salah satu peserta pameran, Celine Justopo, mengaku menikmati proses belajar fotografi yang dijalaninya. Selain menjadi kegiatan yang menyenangkan, keterampilan fotografi yang dipelajarinya juga sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Seru banget dan asyik. Aku bisa motret dan membuat foto yang menarik. Ilmu fotografi yang aku dapat juga dipakai di rumah untuk membantu memotret produk jualan papa," tutur Celine.
Karya yang ditampilkan dalam pameran ini sangat beragam. Mulai dari potret seorang anak yang mengintip dari balik lubang tembok, ekspresi spontan teman-teman mereka, hingga eksplorasi visual yang dihasilkan melalui teknik kecepatan rendah. Dengan pendekatan foto tunggal, setiap karya menjadi medium untuk menyalurkan ekspresi dan rasa ingin tahu para peserta.
Tidak hanya menampilkan hasil karya fotografi, pameran juga menghadirkan diskusi bersama pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Dalam sesi tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai proses belajar fotografi serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan kemampuan visual.
Lebih dari sekadar hasil pembelajaran di klub fotografi sekolah, setiap foto dalam "What We See" menjadi cerita kecil tentang keseharian, kesederhanaan, kreativitas, dan rasa ingin tahu yang tumbuh secara alami dalam diri anak-anak. Pameran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perspektif anak memiliki kepekaan yang unik, jujur, segar, dan mampu menghadirkan makna baru dari hal-hal yang tampak biasa.
Pameran fotografi "What We See" terbuka untuk umum dan berlangsung di Wisma Jerman Surabaya pada 7–9 Juni 2026. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara anak-anak, praktisi seni visual, pendidik, dan masyarakat luas dalam merayakan kreativitas generasi muda.
Editor : Amal Jaelani